Data Penerima Raskin

Kita berharap semua pihak tidak meributkan kurangnya pagu raskin yang diterima karena besar sedikitnya pagu raskin yang diterima itu menunjukkan tingkat kesejahteraan suatu daerah.

BERAS untuk warga miskin (raskin) pada pekan-pekan ini mulai disalurkan di daerah-daerah. Namun, tampaknya pada penyaluran kali ini muncul sejumlah permasalahan yang perlu ditangani segera, atau paling tidak, perlu ada penjelasan lebih lanjut.

Pasalnya, permasalahan yang menyangkut soal perut akan sangat sensitif. Pada gilirannya, sering menyulut konflik-konflik baik sesama warga penerima raskin, maupun antara penerima raskin dengan pemerintah pembuat kebijakan ataupun Perum Bulog sebagai penyalur.

Seperti yang terjadi di Kab. Cirebon dan Kab. Karawang, muncul pertanyaan, mengapa pagu raskin bagi kedua daerah itu berkurang, padahal jumlah rumah tangga miskin (RTM) meningkat. Sepintas, pemicu permasalahan ini adalah adanya ketidaksinkronan data.

Pemkab Cirebon yang bersandar pada data Badan Biro Statistik (BPS), mempertanyakan data yang digunakan pemerintah Provinsi Jabar. Pasalnya, data pemprov itu berakibat pagu bagi daerah tersebut berkurang.

Kejadian di Kab. Cirebon dan Kab. Karawang, boleh jadi juga terjadi di daerah lainnya. Ketidaksinkronan data yang menjadi acuan akan menimbulkan spekulasi-spekulasi yang dapat berbuntut permasalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Pemprov Jabar di satu pihak dan pemkab/pemkot di pihak lainnya, ada baiknya melakukan pendalaman mengenai siapa saja yang masuk hitungan sebagai penerima raskin. Kemudian, harus disepakati data mana yang digunakan. Jika menggunakan data BPS, semua harus mengacu kepada data tersebut.

Sejauh ini, Pemprov Jabar sudah menjelaskan bahwa di Jawa Barat, berdasarkan data sensus Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat 2.905.217 rumah tangga miskin (RTM). Sebanyak 2.491.055 RTM di antaranya mendapat jatah raskin pada 2007 dengan total 298.926.600 kg, meningkat 39% dari tahun sebelumnya yang berjumlah 1.789.750 RTM.

Berdasarkan kebijakan pemerintah pusat, jatah raskin per tahun yang semula 150 kg per RTM dikurangi menjadi 120 kg per RTM sehingga pagu raskin turut berkurang. “Dari sisi kuantitas menurun 5 kg per RTM per bulan. Tapi, jumlah bulan naik dari 10 bulan menjadi 12 bulan. Fasilitas raskin ditujukan untuk menyebarkan ke kelompok sasaran, bukan secara kuantitasnya,” kata Kepala Biro Sarana Perekonomian Pemprov Jabar, Edy Sundayana.

Patut disamakan persepsinya bahwa dalam RTM terdiri dari keluarga sangat miskin, miskin, dan hampir miskin. Dalam hal ini, penerima raskin adalah keluarga sangat miskin dan miskin. Sedangkan, keluarga hampir miskin tidak berhak menerimanya.

Kita memang harus satu pendapat, tahun ini raskin disalurkan untuk 15,8 juta RTM di 33 provinsi, kendati di Indonesia berdasarkan data BPS terdapat 19,1 juta RTM. Raskin untuk mereka berupa beras kelas III (SNI IV) dengan harga Rp 1.000,00 per kg.

Kita berharap semua pihak tidak meributkan kurangnya pagu raskin yang diterima karena besar sedikitnya pagu raskin yang diterima itu menunjukkan tingkat kesejahteraan suatu daerah.***

Pikiran Rakyat, Rabu, 10 Januari 2007

Iklan

2 Responses to “Data Penerima Raskin”


  1. 2 mr. komeng Maret 28, 2008 pukul 7:27 pm

    KACAU SEKALI BANYAK PENYEWENGAN BERAS RASKIN, HARGA RASKIN RP.2.000/Kg memberatkan Warga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: