Jangan Hangat Cirit Ayam

Sampai hari ini, dua pekan lebih setelah tenggelamnya kapal Senopati Nusantara dan hilangnya pesawat AdamAir, perhatian dan perasaan kita masih ke sana.

Pemerintah telah membentuk komisi yang bertugas menelitinya lebih mendalam dan komprehensif. Juga dibentuk komisi yang bertugas meneliti kasus gagalnya katering bagi jemaah haji Indonesia. Bukan saja kita harapkan, melainkan merupakan kewajiban kita agar kecelakaan dan musibah itu kita sikapi sebagai tonggak sejarah yang mengubah sikap serta perilaku kita.

Jauh-jauh hari kita sampaikan peringatan itu karena pada kita cukup kuat kelemahan sikap “hangat-hangat cirit ayam”. Perhatian secara emosional dan rasional ditujukan ke sikap serta perbuatan korektif ketika ditimpa kecelakaan serta musibah dahsyat. Namun, beberapa waktu kemudian, kita kembali terjatuh ke sikap dan perilaku rutin yang merupakan kelemahan kita, yakni bekerja asal-asalan. Bekerja tanpa secara konsisten menerapkan petunjuk normatif, apalagi petunjuk bekerja lebih jauh dari sekadar “panggilan kewajiban”, beyond the call of duty.

Ini persoalan amat serius. Keberatan Samuel Huntington terhadap vital dan menentukannya culture matters, strategis dan menentukannya sikap budaya, bukanlah terhadap paradigma itu sendiri. Ia lebih mengingatkan bahwa juga berlaku faktor-faktor lain yang terutama agar disadari dan dipahami oleh sistem, kebijakan, serta praksis ekonomi serta kebijakan negara-negara industri. Bagi kita, Indonesia, sikap serta orientasi budaya bekerja tuntas, konsisten, berkeahlian, dan bertanggung jawab, kiranya memang perlu terus-menerus dioptimalkan. Demikian pula sikap, kemauan, serta praksis mengawasi dan merawat, check-recheck, peduli. Amat sangat masih harus dicermati berlanjutnya bentuk dan praktik komersialisasi yang merugikan konsumen bahkan bisa mencelakakannya.

Apalagi dalam dunia yang semakin bersatu karena berlangsungnya globalisasi, pengaruh negara lain dan interaksi antarnegara yang tidak senantiasa berimbang, sangat berpengaruh. Namun, meskipun kita tetap menyikapi secara kritis interaksi yang tak seimbang serta merugikan negara-negara berkembang seperti Indonesia, jangan pula kita terjatuh lagi pada alibi bahwa segala sesuatu terutama yang negatif, mentah-mentah kita alamatkan kepada orang lain dan negara lain. Terhadap pengaruh-pengaruh serta kekuatan negatif dari luar kita harus kritis, korektif, serta memperjuangkan perbaikan. Namun jangan pula dilalaikan bahwa tanggung jawab akhirnya yang tidak kalah menentukan adalah pada kita sendiri.

Inilah momentum yang agar bangkit serta merupakan kekuatan historis bagi kita dari kecelakaan serta musibah bertubi akhir-akhir ini. Merupakan momentum untuk melengkapi reformasi bukan saja reformasi politik, sosial, dan ekonomi, tetapi juga reformasi budaya, termasuk yang menyangkut sikap serta orientasi kita. Hanya dalam konteks itu, pengalaman dahsyat akhir-akhir ini tidak merupakan sekadar pembangkit sikap “hangat-hangat cirit ayam”.

Kompas, Senin, 15 Januari 2007

Iklan

0 Responses to “Jangan Hangat Cirit Ayam”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 797,207 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: