Kelonggaran Kredit

Sektor riil tanggung jawab siapa? Pertanyaan ini layak dilontarkan. Selama 2006, indikator-indikator makroekonomi memang menunjukkan perbaikan. Inflasi rendah dan terkendali, suku bunga terus menurun, rupiah dan indeks pasar modal stabil. Tapi sektor riil, sama sekali belum bergerak. Pengangguran, yang diharapkan bisa ditekan berbarengan dengan bergeraknya sektor riil, tetap tinggi.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab bagi pergerakan sektor riil? Selama ini tudingan diarahkan ke perbankan. Fungsi intermediasi perbankan melalui kredit tak berjalan sebagaimana mestinya. Bank lebih suka menumpuk dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) lantaran tanpa risiko. Penyaluran kredit ke sektor riil dinilai perbankan masih berisiko tinggi.

Bank Indonesia (BI), sebagai bank sentral yang menjaga stabilitas makro sekaligus menjalankan fungsi pengawasan perbankan, berkeinginan kuat mendorong fungsi intermediasi perbankan kembali normal, sehingga sektor riil pun bisa mulai bergerak. Maka, keluarlah sejumlah paket kebijakan, yang bertujuan mendorong perbankan mulai menyalurkan kredit.

Paket kebijakan itu sesungguhnya merupakan insentif bagi perbankan. Dan kebijakan terakhir yang dikeluarkan adalah pelonggaran pemberian kredit terhadap debitor bermasalah. Perbankan dimungkinkan memberi kredit ke debitor bermasalah, sepanjang kredit bermasalah terjadi karena alasan di luar kemampuan debitor serta tetap memperhitungkan analisis komprehensif atas kelayakannya.

Sebelumnya, BI sudah pula memberi insentif bagi perbankan untuk menyalurkan kredit. Aturan soal Giro Wajib Minimum (GWM) alias cadangan perbankan di bank sentral misalnya. Bila Loan to Deposit Ratio (LDR) sebuah bank melebihi batasan tertentu, dan tetap memperhatikan aspek-aspek kehati-hatian, maka penambahan GWM bisa lebih kecil.

Selain insentif ‘diskon’ penambahan GWM itu, ditambah lagi dengan insentif berupa kelonggaran kredit ke sektor infrastruktur, dari 20 persen menjadi 30 persen. Dan kredit tersebut juga tak akan begitu saja dikaitkan dengan Batas Minimum Pemberian Kredit (BMPK).

Namun, kebijakan dimungkinkannya kredit ke debitor bermasalah –yang sejak beberapa tahun ini diinginkan perbankan– memang sangat riskan. Alih-alih mendorong intermediasi, malah menjadi gunung kredit bermasalah. Debitornya rawan KKN dan sulit ‘diutak-atik’ lantaran beralasan kredit bermasalah terjadi karena alasan di luar kemampuan.

BI harus menjelaskan sedetail-detailnya bagaimana mekanisme penyaluran kredit ke debitor bermasalah, sekaligus ‘jaring pengamannya’ sehingga kredit tak dimanfaatkan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Kita tak menginginkan kebijakan yang bertujuan mendorong intermediasi perbankan ke sektor riil ini justru menjadi bumerang. Justru menjadi awal bagi krisis baru. BI sebagai bank sentral tak semestinya begitu mudah memberikan kelonggaran bagi perbankan hanya untuk menggerakkan sektor riil. Apakah sektor riil sepenuhnya menjadi tanggung jawab BI? Peran perbankan dan pemerintah mestinya justru lebih signifikan.

Pemerintah mestinya ikut pula memikirkan kebijakan yang bisa menekan risiko di sektor riil, sehingga perbankan siap menyalurkan kredit. Sebaliknya, perbankan juga mestinya introspeksi bahwa dana yang ditumpuk di SBI adalah dana masyarakat yang mestinya menjadi hak sektor riil (kembali ke masyarakat dalam bentuk modal kerja usaha). Entah insentif seperti apa lagi yang dibutuhkan perbankan, agar sektor riil bisa menikmati haknya. Begitu manjakah perbankan kita?

sumber : republika

Iklan

0 Responses to “Kelonggaran Kredit”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,910 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: