Kegagalan di Poso

BOM masih diledakkan dengan leluasa di Poso. Pembunuhan dengan senjata api terus dilakukan oleh kelompok sipil. Pemerintah terus mengatakan situasi Poso sudah terkendali.

Patut membubuhkan tanda tanya di belakang kata terkendali itu. Apa yang sudah dan sedang dikendalikan? Kepemilikan senjata api? Orang-orang yang memiliki kepandaian merakit bom? Perdagangan gelap bahan peledak? Penyelundupan senjata?

Bila pertanyaan ini dijadikan ukuran, sesungguhnya Poso tidak terkendali, bahkan di luar kendali. Karena seluruh kekerasan yang terjadi sekarang di sana masih memiliki korelasi sangat kuat dengan karakter dasar yang memicu konflik Poso 10 tahun silam. Yaitu, kebencian horizontal.

Bila sebuah kebencian horizontal berumur lebih dari 10 tahun di tengah upaya gencar pemerintah mengatasinya, penyebab kelanggengannya bisa beberapa. Pertama, pemerintah memang gagal mengatasi persoalan Poso karena konflik di sana sudah begitu dahsyatnya. Kedua, pemerintah tidak bersungguh-sungguh karena menganggap Poso persoalan sepele. Ketiga, Poso sudah menjadi arena pertarungan kepentingan banyak pihak sehingga konflik menjadi instrumen yang menaikkan posisi tawar.

Setelah bom meledak pekan lalu, kemarin sedikitnya sebelas orang tewas–satu polisi dan sepuluh warga sipil–dalam tembak-menembak antara polisi dan warga yang diduga buron kerusuhan. Peningkatan aksi kekerasan di Poso akhir-akhir ini berkaitan erat dengan gerak para buron yang semakin dipersempit setelah seruan menyerahkan diri secara sukarela tidak ditanggapi serius.

Jika melihat konflik Poso yang berkepanjangan, terdapat sejumlah indikasi yang mendukung. Pertama, kebencian-kebencian yang bersumber pada primordialisme tidak surut. , pelaku kekerasan adalah orang-orang terlatih yang tingkat kemahirannya akan semakin bertambah seiring dengan perjalanan waktu. Mereka ini berhasil merekrut pengikut-pengikut fanatik. Ketiga, ada kelompok masyarakat yang melindungi entah sengaja atau tidak. Dan keempat, terdapat situasi yang memungkinkan mereka menyimpan, memperoleh, dan mendistribusikan senjata dan bahan peledak.

Poso masih jauh dari selesai. Kita mengharap Poso bisa diselesaikan kemampuan sendiri. Jangan seperti Aceh yang tuntas setelah tsunami menghajar dan pihak asing turun tangan. Selain Poso, Papua juga jangan dianggap enteng.

Pemerintah memiliki instrumen dan aparatur yang menjangkau hingga ke pelosok. Yang menjadi persoalan adalah apakah aparatur itu bekerja seia sekata dari pusat hingga daerah? Apakah pemerintah telah mampu menggugah partisipasi publik sehingga seiring sejalan?

Dalam kasus Poso terlihat bahwa pemerintah gagal mendorong partisipasi publik itu. Buktinya, para buron Poso masih memperoleh perlindungan di tengah warga tertentu. Demikian pula dengan gembong teroris Noordin M Top yang sampai sekarang hilang entah ke mana, tetapi pasti dia berada di tengah komunitas yang melindunginya.

Sebuah konflik yang dipicu kebencian primordial harus diselesaikan dengan menjunjung tinggi supremasi hukum. Ketika pikiran dan pertimbangan lain masuk dalam wilayah solusi, di sanalah bermula kerumitan itu.

Mengapa? Karena aparat penegak hukum juga terkait dalam atribut-atribut primordialisme itu. Misalnya asal usul daerah, agama, dan keturunan. Itulah sebabnya negara menjunjung supremasi hukum, tidak supremasi yang lain.

Media Indonesia, Selasa, 23 Januari 2007

0 Responses to “Kegagalan di Poso”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 780,228 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: