Akuntabilitas Rekening Departemen

TRANSPARANSI masih menjadi barang mahal di negeri ini. Setelah gonjang-ganjing soal dana-dana nonbujeter, untuk ke sekian kalinya publik mengalami shocked terkait sistem pengelolaan keuangan negara yang mengenaskan.

Yang terkini, ditemukan tidak kurang dari 1.000 rekening departemen dan lembaga baru pemerintah yang belum pernah dilaporkan dalam sistem keuangan negara.

Ribuan rekening tersebut sebagian besar berada di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) dan Departemen Keuangan. Nilai uang yang tersimpan dalam rekening-rekening itu hingga kini masih misterius.

Direktur Informasi dan Akuntansi Ditjen Perbendaharaan Departemen Keuangan Hekinus Manao pekan lalu mengungkapkan, hingga saat ini sudah ada lagi lebih dari 2.000 rekening tinggalan.

Memang, temuan rekening baru ini belum tentu merupakan bentuk penyelewengan anggaran negara. Ada rekening dana ongkos naik haji (ONH) di Departemen Agama. Ada rekening-rekening lain yang merupakan rekening untuk menempatkan dana-dana karyawan departemen. Ada pula rekening-rekening lain yang bukan milik pemerintah.

Tetapi dalam ribuan rekening yang sebelumnya tidak terlapor itu tidak mustahil terdapat dana milik pemerintah, dana milik negara, dan tentu saja uang rakyat. Dan bila itu benar, akuntabilitas dana publik dalam ribuan rekening yang tidak terlapor itu sangat terancam.

Siapa bisa menjamin penggunaan dana-dana dalam rekening tersebut dapat dipertanggungjawabkan? Siapa bisa memastikan alokasi dana dalam ribuan rekening itu sesuai peruntukan? Dan siapa pula bisa menggaransi bahwa uang rakyat dalam rekening tersebut tidak diselewengkan?

Karena itu, pemerintah harus menertibkan rekening-rekening tersebut. Upaya semua pihak untuk membuat proses transparansi dan akuntabilitas atas uang negara harus didukung. Apalagi sebelumnya pemerintah sendiri telah memetik hasil atas upaya-upaya seperti ini.

Pada 2006, pemerintah berhasil menertibkan sebanyak 957 rekening senilai Rp20,55 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak 300 rekening ditutup. Dan Rp2,8 triliun uang negara diamankan posisinya. Hal yang sama juga harus dilakukan terkait ribuan rekening departemen ini.

Telah menjadi kewajiban setiap departemen dan lembaga pemerintah nondepartemen untuk melaporkan seluruh rekening yang belum pernah dilaporkan kepada Departemen Keuangan. Para pelapor memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk menyebutkan alasan pembukaan rekening itu, posisi, dan kegunaan rekening itu.

Sudah saatnya bagi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk turun tangan. Salah satunya adalah dengan mengaudit rekening-rekening tersebut untuk memutuskan apakah dana itu milik publik, pemerintah, negara atau bukan. Bila ditemukan uang negara dalam rekening tersebut, itu harus disetor ke kas negara.

Kasus ribuan rekening ini sebaiknya juga menjadi pendorong agar pengelolaan sistem keuangan departemen segera diperbaiki. Kalau tidak, bukan saja akuntabilitas keuangan departemen yang berada dalam bahaya. Namun juga akuntabilitas keuangan negara dan bangsa.

Media Indonesia, Selasa, 30 Januari 2007

0 Responses to “Akuntabilitas Rekening Departemen”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: