Dimulai dengan Tekad

Pemerintah pusat dan daerah bertekad pada tahun depan dan tahun-tahun mendatang tidak lagi terjadi banjir di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Jika banjir masih terjadi, diharapkan volume airnya tidak sebesar tahun 2007. Tekad itu ditegaskan oleh Wapres Muhammad Jusuf Kalla.

Tekad saja tidak cukup, tetapi momentum sarat seperti banjir DKI selayaknya dimulai dengan tekad. Tekad untuk mengakhiri banjir yang skala dan akibatnya merupakan bencana bagi warga dan masyarakat luas. Seperti berulang kali kita tegaskan, karena Jakarta sebagai ibu kota negara, kejadian itu lebih luas lagi dampaknya.

Tekad adalah kehendak atau kemauan yang teguh, bulat, dan sungguh-sungguh. Tekad adalah pangkal tolak yang segera harus diikuti tindakan, yakni tindakan-tindakan untuk mencegah banjir. Tindakan disertai dan didahului dengan pemahaman kembali persoalan. Dijabarkan dalam rencana yang komprehensif dan konkret serta diurai dalam tahap-tahap pelaksanaan.

Tekad dan rencana dilengkapi sarana-sarana yang diperlukan termasuk dana alias anggaran. Juga disertai berbagai lembaga perangkat berikut sumber daya manusianya. Tidak kalah penting adalah koordinasi, pengawasan. Pengawasan pada penyusunan rencana dan yang tidak kalah penting pengawasan lapangan.

Di antaranya oleh pakar Ram Charan, masalah realisasi tekad dan rencana akhir-akhir mendapat perhatian besar seperti dibahas dalam buku laris Execution: The Discipline of Getting Things Done (Pelaksanaan, Disiplin untuk Membuat Rencana Terlaksana). Pemikiran serupa tertuang dalam know how. Bukan sekadar knowledge, pengetahuan, yang diperlukan, tetapi know how, cara mewujudkan atau menerapkan pengetahuan tersebut.

Kemauan dan kemampuan kita untuk melaksanakan belum memadai. Secara umum kita kedodoran dalam pelaksanaan. Hangat-hangat cirit ayam masih kuat melekat. Diperlukan pengawasan dari dalam, dari pemerintah dan aparat birokrasinya serta dari masyarakat.

Kita juga belum andal dalam konsistensi kualifikasi elementer yang merupakan syarat kemajuan, secara kognitif mungkin sudah kita ketahui, tetapi belum kita praktikkan. Di antaranya disiplin, ulet, bersaing dalam prestasi, tidak mudah bosan. Bekerja sama dalam tim yang saling percaya, dan lagi-lagi konsistensi.

Namun, justru karena kelemahan itu, kita sepakat dengan “gebrakan”: mari kita bulatkan tekad. Tekad alias kemauan bulat, cerdas, dan konsisten, untuk membebaskan Jakarta dari banjir besar seperti tahun 2007. Sekali lagi, tekad barulah permulaan dan pangkal tolak.

Baiklah kita akui, pada umumnya kita lemah dalam pelaksanaan. Juga lemah dalam perencanaan, koordinasi, dan pengawasan. Sering tidak konsisten, tidak melaksanakan program secara berkesinambungan dan berjangkauan jauh ke depan. Cenderung bersikap reaktif, dan cepat lupa melaksanakan pekerjaan rumah.

Mestinya reformasi juga menggugat kelemahan-kelemahan tersebut.

Kompas, Sabtu, 10 Februari 2007

0 Responses to “Dimulai dengan Tekad”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: