Kaji ulang rencana pungutan di bandara

Era otonomi daerah memang menuntut setiap daerah untuk memikirkan rumah tangganya dengan lebih cermat, baik masalah pengeluaran maupun pendapatan daerah.

Sudah pasti demi peningkatan pendapatan daerah, pemerintah daerah akan berupaya maksimal memanfaatkan potensi yang dipunyai untuk mendulang rupiah guna mencukupi kebutuhan daerah. Tak terkecuali Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali. Salah satu langkah yang akan ditempuh Pemkab Boyolali adalah dengan pengenaan donasi atau sumbangan, bagi para penumpang pesawat yang akan berangkat dari Bandara Adisumarmo. Selain itu sumbangan juga akan dipungut dari para pengguna jasa taksi bandara. Apa yang ditempuh oleh Pemkab Boyolali itu dapat dipandang sebagai satu langkah cerdik untuk memanfaatkan sebuah potensi yang ada. Betapa tidak, sebuah bandara internasional terletak di daerah itu, yang dapat dianggap sebagai ”anugerah” sumber pendapatan daerah. Sehingga sudah selayaknya bila Boyolali berusaha memaksimalkan kontribusi bandara ke kabupaten itu.
Namun demikian yang menjadi pertanyaan, tepatkah langkah yang akan ditempuh Pemkab Boyolali itu? Hal itu mengingat keberadaan bandara bukan merupakan aset milik Pemkab, meski letaknya berada di Boyolali. Selain itu, pemungutan sumbangan yang nominalnya disebut senilai Rp 5.000 itu tentu akan memberatkan penumpang, baik penumpang pesawat maupun taksi bandara. Padahal para penumpang pesawat yang sebagian besar berasal dari luar Boyolali itu telah dikenai pajak oleh pihak bandara.
Lepas dari besaran nilai, keberadaan Bandara Adisumarmo tentu akan berkaitan dengan banyak stakeholders seperti, kepariwisataan, perhotelan dan pelaku ekonomi lainnya. Mereka tidak hanya berada di Boyolali, namun juga berada di wilayah Soloraya dan sekitarnya, karena bandara merupakan salah satu pintu gerbang keluar masuk wilayah ini. Oleh karena itu pemungutan di bandara tentu akan memiliki efek yang sangat luas.
Apalagi, kawasan Soloraya atau Subosukawonosraten pada saat ini sedang giat ”menjual diri” ke dunia luar. Sehingga kemudahan-kemudahan di berbagai sektor perlu diberikan sebagai pelayanan bagi pihak luar yang akan ”membeli” produk Soloraya. Jika ditarik dari hal itu, tentu kebijakan Pemkab Boyolali tersebut akan bertentangan dengan semangat itu. Karena dengan pungutan di loket tersendiri, paling tidak akan memperpanjang prosedur calon penumpang saat hendak berangkat dari bandara itu. Oleh karena itu Pemkab Boyolali seyogianya perlu berpikir ulang untuk menerapkan kebijakan tersebut. Bila Bandara Adisumarmo dianggap sektor yang paling potensial untuk menangguk pendapatan daerah, tentu bisa dicari cara lain yang lebih bijak. Sebagai alternatif, Pemkab dapat membicarakan dengan pihak pengelola bandara untuk meningkatkan kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Boyolali.
Hal seperti itu biasa dilakukan oleh daerah terhadap investor yang ada di daerah itu, ketika kontribusi investor dirasa terlalu kecil. Sedangkan urusan penumpang pesawat biarlah diurus pihak pengelola bandara sendiri. –sumber: solopos

0 Responses to “Kaji ulang rencana pungutan di bandara”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: