Mengapa ICW Hengkang?

PERS tidak memberi tempat besar bagi sebuah berita yang cukup menggelitik di awal pekan ini. Berita itu ialah mundurnya Indonesia Corruption Watch (ICW) dari Tim Pembahas RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Alasan yang mengemuka berbeda. Menurut ICW, mereka mundur dari tim yang dibentuk Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia itu karena tidak kuat lagi membendung pikiran tim yang cenderung mengamputasi pengadilan ad hoc tipikor.

Sementara itu, penjelasan Depkum dan HAM lain lagi. Menurut pihak yang terakhir ini, ICW mundur karena masalah administratif belaka. Surat keanggotaan dalam tim berlaku selama 2006, sedangkan untuk 2007 surat keanggotaan baru belum dikeluarkan.

ICW, terlepas dari kekurangannya, adalah salah satu lembaga swasta yang memiliki kredibilitas dalam perang melawan korupsi di Indonesia. Lembaga itu merupakan ‘anjing penjaga’ yang memiliki konsistensi ‘menggonggongi’ perilaku korupsi dan koruptor.

Lalu, mengapa dalam soal pembahasan RUU Tipikor, ICW hengkang dari tim? Apakah ICW tidak kuat lagi ‘menggonggong’ atau lebih memilih ‘menggonggong’ dari luar pagar saja?

Seharusnya, ICW ‘menggonggong’ di dalam. ICW harus bertahan mati-matian di dalam tim sehingga bisa mengawasi dan memenangi pikiran tentang nasib pengadilan tipikor.

Andai kata mulai kalah pengaruh dan argumen, ICW bisa ‘menggonggong’ dari dalam untuk memperoleh dukungan luas dari luar, semisal dari pers dan masyarakat yang peduli pada pemberantasan korupsi di Indonesia.

Mengapa kita peduli pada pengadilan tipikor? Korupsi di Indonesia ialah cerita tentang kegagalan sistemik dalam pemberantasan karena korupsi telah sistemik pula.

Karena itu, amat dibutuhkan sebuah terapi kejut untuk menyelamatkan bangsa dari persepsi sesat seakan-akan korupsi adalah kebajikan.

Mahkamah Konstitusi (MK) memang melihat pengadilan tipikor bertentangan dengan sistem dan hierarki perundang-undangan yang ada. Adalah kewenangan MK untuk menjaga kemurnian undang-undang. Oleh karena itu, diperintahkan agar dibentuk undang-undang baru yang khusus mengatur pengadilan tipikor. Bukan meniadakannya. Itulah pesan esensial dari keputusan Mahkamah Konstitusi.

Bila melihat debat publik yang berkembang, tertangkap cukup jelas dua kubu pikiran terhadap pengadilan tipikor ini. Ada yang ingin menghapus dan ada yang risau sehingga perlu dipertahankan. Dan, salah satu yang memiliki pikiran untuk mempertahankan, bahkan memperkuat pengadilan tipikor, adalah ICW.

Sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia memperlihatkan kecenderungan membunuh lembaga atau badan yang memerangi korupsi secara spesifik. Sebut saja KPKPN–Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara–yang secara sistematis diamputasi para pembuat undang-undang.

KPKPN waktu itu oleh pemerintah dan DPR dilebur ke dalam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK lalu diberi wewenang menyelenggarakan pengadilan ad hoc korupsi. Apa yang terjadi sekarang? Terlihat ada upaya lagi untuk mengamputasi pengadilan tipikor.

Elite di negeri ini memiliki tabiat buruk dalam menenggelamkan lembaga-lembaga pemberantas korupsi yang memiliki kewenangan istimewa. Atas nama kemurnian dan keutuhan undang-undang, semangat dan lembaga pemberantas korupsi dibunuh secara sistematis.

Akankah pengadilan ad hoc tipikor yang berada di bawah KPK bernasib sama? Semoga tidak. Dan dalam rangka membelanya, ICW harus tetap berada di dalam tim. Jangan hengkang.

KPK dan pengadilan tipikor lahir karena kegagalan sistem peradilan umum memberantas korupsi. Kita memang menuju ke peradilan yang ideal ketika korupsi dan segala rupa kejahatan bisa ditangani di pengadilan negeri. Tetapi untuk Indonesia masih dibutuhkan sebuah peradilan transisi. Adalah kekeliruan fatal mengamputasi pengadilan tipikor saat ini. ICW harus memelopori pikiran ini dari dalam tim, tidak di luar.

Media Indonesia, Rabu, 14 Februari 2007

0 Responses to “Mengapa ICW Hengkang?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: