Bencana dan Birokrasi

Banjir mendera, demam berdarah menjangkit, harga beras naik, dan minyak tanah langka adalah fenomena berulang setiap tahun. Sejak dulu. Wabah demam berdarah pertama dilaporkan terjadi di Jakarta pada 1968.

Kini, wabah itu tak hanya makin mengganas tapi juga ‘berhasil’ diekspor ke berbagai wilayah Indonesia lewat kaum migran. Banjir di berbagai wilayah juga makin meluas, di Jakarta bahkan makin mengganas. Kini, di milenium baru ini Indonesia menjadi negeri paling menderita terserang wabah flu burung. Di negara-negara lain perlahan bisa diatasi, namun di Indonesia tak ada pertanda bahwa wabah tersebut akan berhasil ditanggulangi dalam kurun waktu tertentu.

Di awal reformasi, kita gegap gempita menumbangkan rezim Orde Baru. Soeharto dicopot, orang-orang dekatnya tak boleh berkuasa. Tentara dipinggirkan, daerah dikuatkan. Konstitusi diamandemen, regulasi disusun ulang. Dan, yang terus didengungkan adalah birokrasi harus ditata ulang.

Pada titik terakhir inilah kita paling tercecer. Saat itu Korpri menguat. Bahkan, ketuanya menjadi menteri. Sejumlah sekda dan sekwilda bermetamorfosis menjadi gubernur dan bupati serta wali kota. Maka, masuknya elite baru di era reformasi yang diharapkan membawa angin perubahan malah terserap ke dalam arus. Mereka bahkan menikmati tradisi lama. Korupsi pun makin sulit dibasmi, layanan publik juga macet.

Kita tahu bangunan Orde Baru ditopang oleh tiga pilar: Golkar, Birokrasi, dan ABRI. Karena itu, setiap pengambilan keputusan, Soeharto selalu melibatkan ketua umum Golkar (G), Menteri Dalam Negeri (B), dan Panglima ABRI (A). Karena itu ada jalur A, B, dan G dalam rekrutmen politik dalam bangunan trias politica. Kini, Golkar tak lagi menjadi super partai, walaupun tetap menjadi yang terbesar. TNI sudah menghapus dwifungsinya, dan menanggalkan tugas pengamanan, walaupun organisasi TNI tetap yang paling efektif. Namun, reformasi birokrasi tak kunjung mewujud. Bahkan, kita sudah melupakannya.

Mengurus dokumen apa pun tetap harus pakai uang pelicin, rantai birokrasi tetap panjang, persentase setoran tender makin besar, dan birokrat tetaplah bermental penguasa. Juga, pegawai negeri tak hanya menerima uang gaji, tapi juga ada honor-honor lain yang resmi dalam setiap programnya. Inilah yang membuat program pemerintah menjadi mahal, ‘diproyekkan’, dan salah kaprah. Program yang padat karya dan padat jasa tak menarik. Pada titik inilah berbagai wabah bersemi, kemiskinan berkecambah, pengangguran membengkak. Bekerja karena panggilan tugas pupus oleh panggilan proyek. Kerja sebagai kewajiban yang melekat pada status menjadi tak bernyawa jika tanpa honor tambahan.

Di zaman bau (bukan zaman baru) ini, kebocoran anggaran mendapat energi baru. Jika dulu setoran hanya terbatas untuk A, B, dan G maka kini bertambah ke banyak partai, termasuk ke legislatif. Karena itulah retribusi digiatkan dan diekstensifkan. Rakyat terus dihisap, tapi mereka tak dilayani dan tak diurusi. Anggaran dibengkakkan bukan untuk rakyat, tapi untuk menaikkan gaji, honor, dan setoran. Anggaran untuk pembangunan berada di urutan terakhir.

Para wakil rakyat yang diharapkan melakukan perbaikan justru iri pada eksekutif dengan lahirnya PP 37/2006. Lengkaplah kegagalan reformasi birokrasi. Tentu tidak sedramatis itu gambaran birokrasi dan birokrat kita. Bahkan, di antara mereka tak sedikit yang benar-benar mengabdi pada panggilan tugas dan untuk beribadah. Namun, seperti itulah wajah mainstream-nya. Suka tidak suka.

Republika, Kamis, 15 Februari 2007

0 Responses to “Bencana dan Birokrasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: