Keriuhan Impor Beras

BANGSA ini ternyata masih menghadapi urusan perut yang tidak pernah usai. Penyebabnya jelas, karena perkara pangan, khususnya beras, tidak pernah diurus secara benar. Karena tidak diurus dengan benar, persoalan perut pun muncul setiap saat.

Kita memang bangsa yang suka keriuhan berdebat daripada bertindak. Seperti debat kali ini, ketika rencana impor beras 500 ribu ton diumumkan. Tetapi, bagaimanapun riuhnya antara yang pro dan yang kontra, impor tidak pernah bisa dihindari. Alasannya, pemerintah tak mau mengambil risiko sekecil apa pun.

Di luar keriuhan impor, bersamaan dengan itu pula selalu ada kenaikan harga beras yang membubung suka-suka. Sekarang, misalnya, di beberapa daerah rakyat harus membeli beras dengan harga Rp7.500 per kilogram. Padahal, harga normal hanya Rp4.000/kg.

Selalu pula setiap harga beras naik, muncul pemandangan getir yang terjadi di banyak tempat. Yakni, antrean rakyat membeli beras murah yang digelar pemerintah. Yang membuat kita pilu, banyak orang tua yang harus berebutan di bawah terik matahari.

Tidak adakah cara lain memberikan subsidi selain pamer kemiskinan dengan telanjang dan sarkastis buat orang-orang tua serta rakyat kelas bawah? Kenapa dalam setiap pemberian bersubsidi, pemerintah tidak punya cara memberikan kepada rakyat yang lebih manusiawi?

Kerapuhan pertahanan pangan dan gejolak harga pasti akan selalu memunculkan pamer ‘kemiskinan’ yang memilukan dan memalukan. Padahal, tanpa pamer, siapa pun tahu bangsa ini memang sudah terpuruk.

Karena itu, komitmen memberesi urusan pangan mestinya menjadi darah yang mengaliri seluruh bangsa ini. Hentikan debat yang tak ada gunanya, terlebih lagi bagi sesama pejabat pemerintah. Yang sering membuat pusing, ada pejabat yang mengatakan stok beras cukup, tetapi kenyataannya impor beras jalan terus.

Kenyataannya memang tidak ada faktor yang mendukung bahwa produksi beras mencukupi. Sebab, areal pertanian makin tahun makin menurun. Infrastruktur agraria tidak pernah dibangun. Bahkan irigasi yang rusak pun dibiarkan kian hancur. Sementara jumlah penduduk naik rata-rata 2% setiap tahun.

Kini, saatnyalah menghentikan diskusi panjang yang tak berujung. Sekali lagi, revitalisasi pertanian yang pernah dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak bisa ditunda-tunda lagi. Ia tidak boleh lagi berhenti pada teks pidato, setelah itu menguap.

Membangun pertanian harus dengan tujuan yang jelas. Pertama, meningkatkan areal pertanian secara terencana untuk meningkatkan produksi beras. Kedua, membangun dan memperbaiki infrastruktur pertanian, seperti irigasi yang sejak era reformasi tidak terurus lagi. Ketiga, menyediakan benih, pupuk, dan obat-obatan secara teratur.

Tetapi yang membuat petani menjerit, setiap musim tanam tiba pupuk sering kali menghilang. Belum lagi ancaman puso, banjir, dan El Nino. Kepedihan ini pun berlanjut: setiap musim panen tiba harga gabah selalu jatuh. Lengkap sudah derita petani!

Harus menjadi spirit bahwa membenahi pertanian adalah hal yang paling masuk akal daripada bermimpi menjadi ini-itu. Sebab, negeri ini punya tanah dan air yang luas, manusia yang melimpah, dan tentu saja punya jejak historis sebagai bangsa agraris.

Seperti kata peribahasa, janganlah ingin melompat terlalu jauh jika jarak yang dekat pun belum terlampaui.

Media Indonesia, Jum’at, 16 Februari 2007

1 Response to “Keriuhan Impor Beras”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: