Imlek dan Kebangkitan Bersama

Salah satu yang membuat kita terus terpuruk dan sulit keluar dari situasi krisis adalah tidak solidnya kita sebagai bangsa. Kita tidak saling percaya satu dengan yang lain. Sering dikatakan keberagaman kita sebenarnya merupakan aset. Itu merupakan sebuah kekuatan apabila kita bisa menyinergikan sifat-sifat kita yang positif dan saling menutupi kekurangannya.

Sayang, kita justru lebih suka menonjolkan kelemahan kita. Begitu mudah saling curiga dan kemudian bahkan saling menyalahkan.

Kehidupan sosial yang tercerai-berai memang bukan baru terjadi sekarang. Sejak zaman Belanda, masyarakat kita secara sengaja dipecah-pecah menjadi kelompok orang Eropa, pendatang dari Timur (foreign easterner), dan pribumi.

Belanda sengaja melakukan itu agar tidak ada satu kekuatan yang bisa mengganggu legitimasi mereka. Bahkan, dengan politik pecah belah, mereka memetik manfaatnya. Masyarakat keturunan China diperalat sebagai mesin ekonomi. Mereka diperas sehingga mereka balik memeras masyarakat pribumi.

Kondisi tidak sehat yang berlangsung begitu lama tidak mampu kita perbaiki pada zaman kemerdekaan. Bahkan, pada zaman Orde Baru, keadaannya semakin parah. Kecurigaan di antara kelompok masyarakat begitu tinggi dan puncaknya adalah krisis sosial yang terjadi tahun 1998.

Dengan dimotori Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Amien Rais, dan Megawati Soekarnoputri, ketegangan sosial itu dicoba untuk dikurangi. Pada zaman pemerintahan Megawati secara resmi Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sejak era reformasi, perayaan Imlek menjadi bagian dari kehidupan bangsa ini.

Pertanyaannya, apakah semua itu membuat hubungan di antara kita sebagai bangsa menjadi lebih solid? Kita menjadi satu kekuatan besar untuk sama-sama membawa bangsa dan negara ini keluar dari situasi serba krisis?

Jujur harus kita katakan, pemahaman ini baru ada di sebagian kecil masyarakat. Sosialisasi yang menegaskan kita adalah satu bangsa, dengan hak dan kewajiban yang sama, belum merata di seluruh lapisan masyarakat. Akibatnya, praktik-praktik diskriminatif tetap dirasakan sebagian kelompok masyarakat. Masyarakat keturunan China masih merasa tidak diakui sebagai warga negara yang sama dengan kelompok masyarakat lain. Mereka tidak mudah mendapatkan kartu tanda penduduk. Mereka sulit menjadi pegawai negeri atau tentara.

Sepanjang perasaan seperti itu masih ada, jangan heran apabila kemudian sikap syak wasangka terus ada. Setiap orang, setiap kelompok, lalu mencoba membatasi dirinya, hanya berkumpul dengan orang-orang yang memang bisa ia percaya.

Keadaan seperti ini sungguh tidak sehat dalam kita menghadapi globalisasi yang sarat dengan persaingan, ketika kita dihadapkan pada begitu banyak bencana dan krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Momentum Imlek yang akan kita rayakan hari Minggu besok ingin kita gunakan untuk mengentakkan kesadaran itu. Jangan hanya perayaannya yang kita ramaikan, tetapi bagaimana secara sungguh-sungguh kita membangun soliditas bangsa.

Kompas, Sabtu, 17 Februari 2007

0 Responses to “Imlek dan Kebangkitan Bersama”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: