Dor-doran Polisi

Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh tindakan sejumlah bintara polisi yang main tembak. Kita sudah biasa mendengar soal salah tembak atau main tembak terhadap tersangka pelaku kejahatan. Namun kali ini, bintara polisi yang main tembak itu bukan terhadap penjahat tapi terhadap pihak lain yang dianggap berseberangan dengannya.

Kejadian pertama kita dikejutkan oleh penembakan oleh bintara polisi terhadap sepasang pengantin baru di tengah keramaian di kampus IAIN Sumatra Utara, Medan, pada 24 Januari 2007. Iptu Oloan Hutasoit diduga patah hati karena ditinggal kawin. Setelah menembak mereka, Oloan menembak dirinya sendiri. Kejadian kedua pada 8 Maret 2007 di Bangkalan, Madura. Briptu Rifai menembak istri, dua teman istrinya, dan ibu mertuanya. Setelah itu ia bunuh diri. Rifai diduga marah karena istrinya selingkuh.

Kejadian ketiga pada Rabu (14/3) kemarin. Briptu Hance Christian menembak mati atasannya, Wakapolwiltabes Semarang, Jawa Tengah, AKBP Lilik Purwanto. Diduga Hance marah karena akan dimutasi ke Kendal, sebelah barat Semarang. Ia kemudian mati ditembak oleh polisi lainnya. Yang masih misterius adalah kematian Brigadir Sofyan di Bandung, Jawa Barat, pada Senin (12/3). Menurut keterangan resmi, ia tertembak oleh pistolnya sendiri secara tak sengaja.

Tentu daftarnya akan lebih panjang jika dirunut pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, kejadian beruntun sejak Januari lalu ini memunculkan tanda tanya besar. Ada apa dengan kualitas mental anggota kepolisian kita? Ada apa dengan standar operasionalnya? Di mana disiplinnya?

Sebagai institusi penegak hukum dan penjaga keamanan serta ketertiban masyarakat, polisi memiliki kewenangan melakukan penyelidikan, penyidikan, pembinaan, pengawasan, dan juga penindakan. Ditambah dengan kelengkapan senjata yang menjadi bagian dari penunaian tugasnya, polisi memiliki kekuatan yang luar biasa. Jika kualitas mental, disiplin, dan prosedurnya tak solid tentu akan memiliki dampak yang membahayakan.

Tulisan ini tak hendak menghakimi atau menuding-nuding polisi. Tapi, kita harus berpikir bersama agar polisi tak berjalan sendirian. Salah satu faktornya mungkin karena sejak reformasi, polisi terus mengembangkan dirinya secara cepat. Lepas dari subordinasi militer dan menjadi lembaga yang mandiri, penambahan personel secara signifikan, peningkatan anggaran yang besar, restrukturisasi organisasi, perluasan kewenangan, dan bobot kewenangan yang makin kuat. Tentu saja hal itu menimbulkan tampilan polisi yang berbeda: Lebih percaya diri, fasilitas yang lebih baik, persenjataan yang lebih lengkap, dan seterusnya.

Peningkatan kapasitas polisi ini menaikkan derajat beban yang makin besar pula. Dalam situasi ini polisi makin dituntut untuk lebih profesional. Pada periode ini sudah saatnya polisi melakukan konsolidasi internal. Jika terus mengembangkan diri, polisi akan kedodoran karena kerapian barisan menjadi kurang diperhatikan. Hadirnya Jenderal Sutanto sebagai kepala Polri saat ini memang tepat. Ia melakukan disiplin internal dengan menyentuh penertiban perjudian dan narkoba. Karena, hal-hal itulah yang telah ‘meminyaki’ polisi, dan tentu saja militer, selama ini.

Sudah saatnya polisi juga masuk ke wilayah yang substansial yaitu pembenahan rekrutmen dan pembinaan. Sudah lumrah menjadi pembicaraan bahwa untuk lolos menjadi polisi, sebagaimana untuk menjadi pegawai negeri atau menjadi tentara, butuh uang sogokan puluhan juta rupiah. Ini harus dijernihkan, apakah itu penyimpangan oleh oknum atau suatu hal lumrah terjadi. Karena, jika persentase asupan sumber daya manusia yang berasal dari jalur suap ini membesar, tentu sangat berbahaya.

Pembinaannya akan berat. Pertama, jika mereka secara kepribadian tak patut lolos maka tak mudah untuk mengubah karakter seseorang yang sudah terbentuk sejak kecil. Kedua, secara psikologis orang-orang yang masuk dari jalur ini juga harus mengambalikan ‘modalnya’. Pada dua titik inilah polisi harus mengurut lagi penegakan disiplin, pembinaan mental, dan pelaksanaan standar prosedur kerjanya.

Republika, Kamis, 15 Maret 2007

0 Responses to “Dor-doran Polisi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Maret 2007
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: