Polisi Tembak Polisi

Penembakan yang dilakukan Briptu Hance Christianto terhadap Wakil Kepala Polwiltabes Semarang sungguh peristiwa dramatis dan sekaligus menyesakkan.

Mengapa? Karena kejadiannya begitu mengagetkan dan penuh dengan drama. Merasa tidak puas dengan keputusan mutasi yang diberikan, Briptu Hance menyandera Wakil Kepala Polwiltabes Ajun Komisaris Besar Lilik Purwanto. Bukan hanya menyandera, tetapi bahkan lalu menembaknya. Ketika kemudian diminta menyerah, Briptu Hance malah melepaskan tembakan membabi buta sehingga terpaksa ditembak.

Yang membuat menyesakkan dan kita merasa sangat sedih, kejadian itu tidak hanya membuat kita kehilangan secara sia-sia seorang perwira polisi yang dengan susah payah sudah dibina, tetapi yang lebih mendasar, ini berkaitan dengan persoalan disiplin. Soal penghormatan terhadap profesi.

Menjadi polisi seperti halnya dokter, wartawan, dan juga tentara adalah sebuah panggilan. Profesi itu bukan hanya sekadar tempat untuk mencari makan. Ketika kita memutuskan untuk menjalani profesi itu, kita terikat pada etika, norma, dan aturan.

Tidak bisa seseorang lalu bertindak atas kemauannya sendiri. Sekadar atas nama hak dan kebebasan. Apalagi bagi seorang polisi yang pada dirinya melekat hukum. Ada etika yang harus dihormati, ada norma yang berlaku, ada kehormatan kepada korps yang harus dijunjung, dan yang tidak kalah penting adalah kedisiplinan dan kepatuhan kepada aturan main. Apalagi ketika itu berkaitan dengan senjata yang dipercayakan kepadanya.

Setelah reformasi bergulir, kita memang merasakan adanya hal-hal yang tidak sejalan dengan prinsip demokrasi itu sendiri. Keinginan untuk berbuat semaunya sendiri, memaksakan kehendak, menggunakan kekuatan untuk menekan menjadi sesuatu hal biasa.

Ketika hal-hal seperti itu dibiarkan terus berkembang, maka yang akan terjadi bukanlah ketertiban yang menjadi pilar untuk menuju ke arah kemajuan. Yang akan lebih menonjol adalah situasi yang amburadul, situasi yang chaos, karena semua orang jadi tidak hormat terhadap aturan main yang berlaku.

Sepanjang hal ini tidak pernah kita sadari dan kemudian kita koreksi, itulah yang setiap kali lalu membuat kita merasa kecil hati dengan pembangunan demokrasi yang sedang kita lakukan. Apalagi ketika para elite politik sendiri pun terjebak pada pemahaman asal beda, melihat persoalan secara hitam-putih tanpa mau memahami duduk perkara yang sebenarnya.

Kita harus memperbaiki keadaan ini karena kita tidak ingin gagal dengan pembangunan demokrasi yang sudah kita pilih. Banyak negara yang berhasil membangun negaranya dengan sistem demokrasi, tetapi tidak sedikit yang juga gagal untuk menyejahterakan rakyatnya.

Kita tentunya tidak ingin bereksperimen dengan demokrasi. Kita berketetapan untuk menggunakan sistem demokrasi sebagai alat untuk memperbaiki perikehidupan bangsa. Karena itu, setiap institusi dan individu harus berusaha menjalankannya secara benar. Setiap saat hormat pada etika, norma, dan aturan.

Kompas, Jumat, 16 Maret 2007

1 Response to “Polisi Tembak Polisi”


  1. 1 adipoerwo September 27, 2007 pukul 1:49 pm

    atasan tdk boleh sewenang wenang kpd anak buah. lebih baik dgn komunikasi. karena kesenjangan ekonomi sdh menjadi penyakit yg akut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Maret 2007
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: