Kompetisi Cagub Tak Punya Gereget

SUASANA prakondisi pemilihan kepala daerah sedang marak berlangsung di tingkat provinsi maupun kabupaten. Para kandidat mulai sibuk mencari “perahu” dan pasangan yang cocok ke tahap pencalonan. Dari sisi masyarakat, sebagian besar mengharapkan pilkada mampu menghasilkan pemimpin lebih baik, yang dengan “kebaikannya” tersebut mampu pula secara bertahap meningkatkan pelayanan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Harapan terhadap perbaikan nasib tersebut sering muncul kembali tatkala bangsa dan masyarakat di daerah menantikan lahirnya pemimpin baru. Dalam sisa harapan yang menipis itu, masyarakat masih juga menyuarakan keinginan semoga pemimpin daerah yang terpilih kali ini benar-benar orang baik. Pertanyaannya, seberapa besar harapan itu dapat terwujud.

Bukan rahasia lagi bahwa tumpuan keberhasilan lolosnya kandidat pada tahap awal didominasi seberapa besar kesanggupan dia membayar kepada fungsionaris partai yang menyeleksinya. Seandainya lolos pada tahap awal, masih banyak lagi “dukungan” yang mesti dibeli. Diperkirakan sebagian besar pertarungan pilkada diwarnai atau identik dengan pertarungan antarsumber daya ekonomi masing-masing kandidat.

Secara sederhana, niat awal menyelenggarakan pilkada langsung adalah menghindari ketidakpuasan masyarakat atas calon yang dipilih. Dari pengalaman sebelumnya, masyarakat hanya memiliki kesempatan minim menimbang kepala daerahnya. Hal yang terjadi kemudian adalah ketidakpuasan, munculnya konflik, dan berbagai jenis perseteruan tidak jelas serta merusak iklim demokratisasi yang dibangun melalui pilkada.

Proses pilkada sejatinya melahirkan dilema: para kandidat sibuk menghimpun popularitas sambil memainkan pundi-pundi uang untuk meraihnya. Para pemilih menghadapi kelangkaan pilihan. Mereka harus memilih kandidat yang sibuk menumpuk popularitas atau kandidat yang melahirkan kebijakan layak. Dalam demokrasi, apalagi ketika para pejabat publik dipilih secara langsung, popularitas bukan perkara sepele dan menjaganya bukan dosa. Ketika suara rakyat adalah suara Tuhan, popularitas adalah setengah dari kemenangan politik.

Namun, menjaga popularitas sambil melalaikan pertimbangan teknokratik mengundang celaka. Para pemilih sejatinya punya rasionalitas, seterbatas apa pun. Mereka mustahil menimbang dan memilih pejabat publik yang terbukti tidak becus. Sementara kebecusan adalah perkara kesiapan, kecerdasan, dan kematangan teknokratik. Maka, popularitas bisa sekadar berjangka pendek dan menjadi tabungan bukti ketidakbecusan dalam jangka panjang. Membangun popularitas teknokratik jelas tidak gampang. Ia tidak saja butuh kejelasan visi dan misi, terutama kekuatan, kecerdasan, profesionalisme, dan kecanggihan mengelola pemerintahan sebagai sebuah kerja kolektif.

Dalam konteks pemilihan Gubernur (pilgub) Jatim, harapan masyarakat adalah kompetisi itu akan diikuti tokoh-tokoh yang kapabel untuk dipilih. Makin banyak yang tampil, itu makin baik. Pilihan pun makin banyak. Lebih menguntungkan lagi, tidak ada tokoh incumbent.

Perhitungannya, kandidat lama (calon incumbent alias kepala daerah yang mencalonkan lagi) memiliki kelebihan luar biasa dalam hal popularitas, dari sisi selebritas maupun teknokratik. Rata-rata popularitas calon incumbent di atas 80 persen. Sementara calon baru paling hanya sekitar 40 persen. Itu baru dari popularitas selebritas, sedangkan sisi teknokratik masih dipertanyakan.

Persoalannya, sejauh ini belum tampak gereget yang ditampilkan para cagub meski sejumlah jajak pendapat mulai menyebar di beberapa media massa. Pertarungannya masih berkutat di tingkat elite birokrat antara dua kandidat yang muncul dari kalangan itu.

Parahnya lagi, masyarakat masih sulit menilai kemampuan para kandidat. Sejauh ini para kandidat terlalu sibuk menghimpun popularitas selebritasnya, tetapi mengabaikan visi dan misinya kepada masyarakat. Mereka tidak segera mengomunikasikan program-program dan rencana membangun daerah dan masyarakat. Mereka enggan turun ke masyarakat miskin, korban luapan lumpur panas, atau membantu sekolah yang rusak, apalagi berdialog dengan masyarakat dan menggali apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Waktu satu tahun dirasa cukup untuk melakukan semua itu ketimbang melakukan manuver tidak jelas di tingkat elite.

Dalam pilkada, masyarakat memimpikan tampilnya tokoh yang benar- benar menjanjikan dan mampu mengubah janji menjadi kenyataan. Bukan sebaliknya, membuat hak masyarakat yang seharusnya terwujud justru menjadi sekadar janji-janji. Untuk itu, masyarakat rela bersusah payah terlibat dan berpartisipasi. Masyarakat akan kecewa jika yang keluar dari kompetisi itu tenyata tokoh yang salah. Salah pilih bisa terjadi karena masyarakat tidak kenal siapa yang dipilih.

Bagaimana orang akan menilai dan memilih kalau sang tokoh tidak melakukan sesuatu, mengemukakan keinginan dan kesanggupan membangun daerah serta masyarakat dengan program yang inovatif, visioner, dan amanah? Masyarakat yang pintar tidak bisa lagi diminta membeli kucing berselimut sarung. Tawarkan dulu, baru beli. Biarkan semua tokoh menawarkan diri, hanya yang terbaik yang akan dibeli.

Sejujurnya, pengaruh kampanye hampir tidak mungkin mendongkrak suara melebihi 10 persen. Pengalaman membuktikan, tidak pernah ada data kekuatan dukungan sebelum kampanye dan sesudah kampanye ada peningkatan lebih dari 10 persen. Lebih efektif bila dilakukan jauh sebelum kampanye dengan tatap muka langsung, pertemuan, atau dialog. Dengan demikian, masyarakat lebih mengenal calon, memahami pikiran dan gagasannya, dan memang merasa sebagai teman bukan sekadar “teman”. Diam memang emas. Namun, diam juga bisa menyembunyikan emas. Kalau merasa mampu, katakan dan lakukan. Jangan meminta orang main tebak-tebakan karena pilkada bukan permainan sulap.

Adhi Wicaksana Tenaga Ahli pada Pusat Kajian Komunikasi Surabaya
(Kompas Jawa Timur, Kamis, 19 April 2007)

0 Responses to “Kompetisi Cagub Tak Punya Gereget”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: