Arsip untuk Mei 13th, 2007

Kerusuhan Mei Luka Sepanjang Sejarah

KERUSUHAN Mei 1998 telah menjadi luka bangsa yang tak kunjung disembuhkan. Ada kesan ia dibiarkan menjadi rasa sakit yang menyiksa bangsa ini. Rasa sakit yang bisa jadi akan dibawa sepanjang sejarah. Itu jika tak ada kemauan negara untuk mengungkap dan menghukum mereka yang terlibat kejahatan.

Harus diingatkan lagi, kerusuhan Mei yang diawali penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti menewaskan sedikitnya 1.250 manusia. Mereka umumnya terpanggang di pusat-pusat perbelanjaan yang sengaja dibakar, sebagian lagi mati dianiaya secara biadab.

Kerusuhan Mei bukanlah sejarah masa lalu yang jauh. Ia belum genap 10 tahun. Artinya, masih amat banyak saksi mata yang bisa dimintai keterangan. Masih banyak yang bisa dengan baik mengingat peristiwa itu untuk penyelidikan. Tapi, negara seperti tak punya kemauan baik untuk melakukannya.

Sudah pasti, kerusuhan Mei jika terus dibiarkan, akan menjadi paradoks reformasi yang getir. Yang akan membuat bangsa ini tergagap setiap bicara sejarahnya sendiri. Bayangkan, ia peristiwa yang mengawali reformasi, tapi tragedi itu tak bisa dibereskan oleh pemerintahan reformasi sendiri. Spirit reformasi yang menggelegak ternyata kalah nyali melawan rezim gangster yang menistakan kemanusiaan.

Alangkah aneh. Empat presiden hasil reformasi, sejak BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan kini Susilo Bambang Yudhoyono, tak berdaya mengungkap kerusuhan Mei. Mereka tak becus mengusut kejahatan kelas tinggi itu. Padahal, pola-pola aksi kejahatan itu sama. Membakar pusat perbelanjaan, penjarahan, dan penganiayaan terhadap etnik Tionghoa. Itu tak mungkin dilakukan orang-orang biasa. Pastilah direncanakan dengan matang dan dikerjakan orang-orang yang amat terlatih.

Dengan kenyataan itu, publik pun tak bisa disalahkan jika menduga negara melindungi mereka yang terlibat kejahatan kelas berat itu. Atau para penjahat melawan dengan kekuatan luar biasa sehingga negara tak berdaya? Tetapi, mungkinkah negara tak berdaya? Karena itu, dugaan pertamalah yang mungkin benar.

Faktanya berbagai upaya pengungkapan Tragedi Mei seperti membentur tembok. Bahkan, seperti ada upaya sistematis untuk menguncinya rapat-rapat. DPR misalnya, pada 2002, telah menyatakan penembakan mahasiswa Trisakti dan kerusuhan Mei bukan pelanggaran HAM berat. Bagaimana mungkin kejahatan yang menyebabkan lebih dari 1.000 orang meninggal bukan pelanggaran HAM berat?

Karena itu, untuk menolak dugaan negara melindungi kejahatan, tidak ada jalan lain kecuali harus mengungkap kerusuhan Mei dengan kejujuran. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa mengarungi samudra masa depan dengan kegagalan membereskan masa silam? Masa lalu yang tidak selesai akan menjadi masa depan yang terhalang.

Kerusuhan Mei adalah utang masa lalu yang akan jadi beban sejarah. Ia menjadi beban pemerintahan siapa pun, juga beban bangsa secara umum.

Mengungkap sejarah kelam memang tidak mudah, apalagi jika yang terlibat kejahatan menyangkut orang-orang kuat, yang bisa jadi masih berkuasa. Tetapi, bukankah sepahit apa pun, kebenaran sejarah harus diungkap. Itu jika bangsa kita ingin membangun masa depan yang lebih cerah.

Media Indonesia, Minggu, 13 Mei 2007

Iklan

Blog Stats

  • 797,104 hits
Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.