Kekerasan di Dunia Pendidikan

Apa yang bisa kita pahami mengenai kekerasan yang sering terjadi di dunia pendidikan kita? Di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), dua kelompok saling baku bentrok untuk memperebutkan status yayasan yang mengelola perguruan tinggi tersebut. Akibat kekerasan itu sejumlah orang luka-luka, beberapa fasilitas kampus rusak, dan sekitar 15 ribu mahasiswa terpaksa tak bisa mengikuti kegiatan kuliah.

Sebelumnya, aksi kekerasan juga terjadi di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Di sini, sejumlah praja (mahasiswa) senior menendang, memukul, dan menganiaya para mahasiswa juniornya. Aksi kekerasan yang berdalih pembinaan kedisiplinan ini telah menyebabkan beberapa praja (junior) meninggal dunia dan lainnya cacat fisik dan mental.

Kekerasan serupa juga telah terjadi di sejumlah perguruan tinggi di Makasar, Yogyakarta, Surabaya, dan daerah lain. Penyebabnya macam-macam. Dari ketidakpuasan terhadap proses pemilihan rektor, biaya kuliah yang dianggap mahal, hingga pengalihan status perguruan tinggi yang dinilai lebih berorientasi bisnis.

Bukan hanya di perguruan tinggi. Di SD, SMP, dan SMA, aksi kekerasan pun acapkali terjadi. Entah itu tawuran antar siswa maupun kekerasan yang dilakukan oleh guru. Yang terakhir ini biasanya dengan dalih memberi pembejaran kepada siswa yang mbadung, tidak disiplin, dan sebagainya.

Apapun penyebabnya, berbagai kekerasan di institusi pendidikan kita itu jelas memprihatinkan. Para mahasiswa/siswa merupakan generasi penerus. Mereka adalah para calon pemimpin bangsa dan negara. Bila semasa belajar mereka terbiasa dengan kekerasan, baik aktif (terlibat langsung) maupun pasif (menyaksikan), maka bisa dipastikan cara-cara kekerasan itu pulalah yang akan mereka tempuh untuk menyelesaikan segala perbedaan ketika mereka sudah menjadi ‘orang’.

Kita tentu tidak bisa menyalahkan seluruhnya kepada mahasiswa/siswa. Berbagai aksi kekerasan yang mereka lakukan seringkali penyebabnya justru para ‘orang tua’. Di IPDN para dosen dan pengasuh seolah membiarkan praja senior berbuat sesuka hati terhadap juniornya. Dan, itu telah berlangsung selama tahunan. Di UISU dua pihak yang bersengketa terhadap kepemilikan/pengelolaan yayasan lebih memilih menyelesaikannya dengan cara-cara kekerasan daripada jalur hukum. Sedihnya, mereka, para ‘orang tua’, itu sengaja melibatkan pada mahasiswa untuk membela kepentingan mereka.

Sedangkan kekerasan yang sering terlihat di sejumlah kampus lain biasanya terjadi lantaran mahasiswa lebih dipandang sebagai objek dan bukan subjek. Segala keputusan yang menyangkut perguruan tinggi, terutama mahasiswa, acapkali diambil secara sepihak oleh rektorat tanpa melibatkan mahasiswa. Begitu pula kekerasan yang berlangsung di sekolah-sekolah. Para guru seolah punya hak prerogatif memutuskan dan berbuat sesukanya terhadap para siswa yang dianggap mbeling.

Bila semua ini terus berlangsung di institusi-institusi pendidikan kita, lantas apa jadinya bangsa dan negara ini. Hukum hanya akan menjadi asesoris. Sedangkan yang berlaku hukum rimba, adu otot, dan anarkisme.

Berbeda pendapat tentu saja boleh. Berunjuk rasa juga boleh. Bahkan yang terakhir ini merupakan salah satu ciri demokrasi. Yang tidak boleh adalah menyelesaikan perbedaan pendapat dengan kekerasan dan anarkisme. Karena itu, barangkali ada baiknya bila tema-tema seperti demokrasi, menghargai pendapat orang lain, dan penyelesaian perbedaan pendapat dijadikan kurikulum di kampus-kampus dan sekolahan kita. Tentu saja para ‘orang tua’ –rektor dan pembantunya, dosen, dan guru-guru– harus menjadi teladan terlebih dulu.

Para mahasiswa/siswa merupakan calon pemimpin bangsa. Selain menimba ilmu pengetahuan, mereka juga harus diajarkan cara-cara bermasyarakat dan tata hidup yang baik. Tanpa ini semua, kekerasanlah yang akan jadi hukum.

Republika, Senin, 14 Mei 2007

5 Responses to “Kekerasan di Dunia Pendidikan”


  1. 1 zainurie Mei 23, 2007 pukul 7:59 pm

    Susah pendidikan kita yang katanya tempatnya orang-orang yang terdidik tak lebih dari tempat berkumpulnya para “preman”…..

  2. 2 arul Mei 27, 2007 pukul 9:42 pm

    sebenarnya pengen memperbaiki moral bangsa tapi ternyata cara2nya yg gak beres…

  3. 3 Spiderman Maret 14, 2009 pukul 12:17 pm

    Yang namanya pendidikan di Indonesia pada dasarnya bertujuan mulia, tetapi karena nilai-nilai agama sangat kurang dalam dunia pendidikan ya jadinya pendidikan itu jadi lupa segalanya..Lupa Tuhan, lupa kepribadian, lupa orang tua, lupa kewajiban, lupa jatidirnya, lupa tujuannya… Nah karena pada lupa semua jadinya mereka yang berbuat keras-kerasan itu tidak jauh beda dengan orang GILA, binatang, dsb. Bahkan melibih IBLIS, karena Iblis akan senang jika manusia sudah main keras-kerasan kemudian mati semua ! Lihat saja karena lupa segalanya begitu lulus jadi sarjana kah, jadi ahli kah, jadi TNI kah, Jadi Pelaut kah, jadi POLISI kah …ujung ujungnya korupi, menipu, rampok yang penting perut terisi bahan makanan yang juga bahan kotoran ya kan? Nah kalau sudah begini yang salah siapa? Pemerintah kah atau masyarakatkah atau gurukah, atau dosenkah, atau muridkah atau mahasiswakah atau Tarunakah ? Jawabnya sebenarnya gampang !!! Hanya pendidikan AGAMA lah yang di anaktirikan. Coba aja lulusan Sarjana suruh ucapin kitab-kitab agama mereka pada bilang ah..tak bisa aku, suruh njalanin ibadah..mereka bilang ah sibuk nih. Dsb. Kita juga bisa lihat tuh orang-orang yang ada di sono yang di gedongan dan jadi pejabat semua kan lulusan Sarjana, Akpol, STPDN, Akmil, dsb Nyatanya … kita-kita bisa ngertilah sendiri apa perbuatan mereka … Kita sering dengar kan.. KORUPSI – PUNGLI – SUAP dsb. Padahal itu dosa besar….Ternyata hanya nilai-nilai agamalah yang mereka tinggalkan sehingga mereka lupa segalanya…..Nah kalau sudah seperti itu mau dikemanain anak-anak bangsa ini? Dibawa ke surga atau keNERAKA ? Dibawa ke dunia fana atau ke akherat yang kekal ? Kalau dibawa kedunia fana semata ya mestinya lupain itu agama, tetapi jika ingat akherat yang kekal (Surga) ya hidupkan AGAMA yang benar dan jangan ditinggalkan…. PENDIDIKAN.. untuk agama hanya 2 kali pertemuan (2 semester) dalam jenjang 3 atau 5 tahun pendidikan umum.. Cukupkah untuk membuat manusia paham? Tidak jawabnya…!!! AGAMA butuh setiap hari etiap detik setiap waktu, tanpa pendidikan agama pasti akan hancur akhlak dan perilaku manusia… Silakan buktikan.. dan coaba !!!

  4. 4 riefa Januari 24, 2011 pukul 2:34 pm

    kekerasan di dunia pendidikan memang masih ada, bahkan semakin merajalela. Adik saya, siswi SMPN 1 Jember mengalami tindak kekerasan(dipukul oleh gurunya sebanyak lima kali) karena salah mengerjakan tugas.


  1. 1 » MASA ORIENTASI SISWA DAN MASA PERKENALAN MAHASISWA hujair.sanaky@staff.uii.ac.id Lacak balik pada Juli 13, 2012 pukul 7:35 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: