Kemiskinan yang Menangis

Kita katakan sebagai kemiskinan yang menangis (crying poverty) karena kemiskinan itu begitu mengimpit dan membuat banyak orang sulit untuk bisa keluar.

Faktor penyebab bukan saja karena tidak adanya lapangan pekerjaan sehingga membuat banyak orang tidak mempunyai pendapatan. Yang juga membuat hidup semakin berat adalah biaya hidup yang semakin mahal.

Sekarang ini semua biaya kebutuhan sehari-hari terasa memberatkan. Bukan hanya harga sembilan bahan pokok yang terus meningkat, tetapi biaya-biaya lain, seperti biaya transportasi, listrik, dan sekolah, juga terasa memberatkan.

Kondisi ini sudah sejak lama terlihat seperti dari meningkatnya angka putus sekolah. Ketidakmampuan keluarga untuk menopang pendidikan anak-anak pascasekolah menengah pertama membuat banyak yang tidak bisa meneruskan pendidikan ke tingkat menengah atas, apalagi perguruan tinggi. Tidak usah heran apabila di jalan-jalan, kita melihat begitu banyak anak-anak yang hanya duduk-duduk tanpa jelas kegiatannya.

Situasi yang mengimpit itu suka tidak suka mengimbas ke dalam rumah tangga. Kita lihat belakangan ini tindak kekerasan sering terjadi dalam rumah tangga. Kita bukan hendak mencari pembenaran atas tindak kekerasan dalam rumah tangga, tetapi kita harus mengurai akar persoalan. Jangan biarkan rasa frustrasi terus mengimpit sehingga membuat orang terjebak dalam pikiran pendek.

Ketika kita berbicara tentang persoalan yang satu ini, jalan pemecahannya tidak bisa lain adalah perbaikan kondisi ekonomi. Dengan kegiatan ekonomi yang bergerak lebih pesat akan tercipta lapangan kerja lebih banyak. Ketika pekerjaan diperoleh, orang akan bisa mempunyai pendapatan. Dengan pendapatan itulah mereka bisa memiliki daya beli dan memperbaiki kualitas keluarga. Jangan lupa, ketika daya beli masyarakat semakin kuat, perekonomian pun akan bisa bergulir lebih cepat lagi.

Spiral yang kita dapatkan sekarang ini bukanlah spiral yang bergerak naik ke atas, tetapi sebaliknya ke bawah. Kita dihadapkan kepada kesenjangan di mana potensi keuangan yang ada di sektor perbankan tidak bisa memutar kegiatan sektor riil.

Untuk itu kita membutuhkan cara berpikir dan pendekatan yang berbeda dan bahkan lebih mendobrak. Keadaan seperti ini tidak bisa terus dibiarkan karena akan menciptakan kondisi yang lebih memburuk.

Terus terang kita memuji langkah yang ditempuh sejumlah perbankan yang mencoba menjemput bola. Mereka tidak lagi terjebak dalam paradigma bahwa semua pengusaha itu buruk dan jahat. Tidak sedikit pengusaha yang memiliki rekam jejak yang baik dan mereka itu merupakan potensi yang harus dikembangkan, bukan justru ikut dimusuhi.

Sekarang ini bukan masanya bagi kita untuk sekadar saling menyalahkan dan melihat kelemahan pihak lain. Tanggung jawab perbaikan perikehidupan bangsa berada di tangan kita semua. Kita harus memberikan kontribusi terbaik untuk kemajuan negeri kita ini.

Kompas, Selasa, 15 Mei 2007

0 Responses to “Kemiskinan yang Menangis”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: