Sulitnya Mengendalikan Harga Minyak Goreng

PEMERINTAH akhirnya menerapkan kenaikan pungutan ekspor produk minyak sawit mentah (crude palm oil = CPO) dan turunannya sejak Jumat (15/6). Pajak ekspor CPO kini menjadi 6,5% dari semula 1,5%. Inilah kebijakan untuk mengerem harga minyak goreng yang lebih dari satu bulan membubung amat tinggi di luar batas kewajaran.

Kenaikan pajak ekspor semula akan diberlakukan akhir Juni ini. Tetapi, karena program stabilisasi harga (PSH) dan juga operasi pasar tak cukup ‘bertuah’, kenaikan pajak ekspor pun dipercepat.

Menurut pemerintah, komitmen produsen CPO dalam program stabilisasi harga sangat rendah. Bulan Juni ini misalnya, hanya terpenuhi 10% dari target 102.285 ton CPO yang dialokasikan untuk produksi minyak goreng dalam negeri.

Melambungnya harga minyak goreng memang karena implikasi kenaikan harga CPO di pasar dunia yang mencapai US$700 per ton. Para pengusaha CPO sudah barang pasti lebih memilih ekspor daripada memikirkan kebutuhan minyak goreng dalam negeri. Ini bukan pilihan yang salah, asal rakyat mampu membeli produk yang dihasilkan oleh bumi sendiri.

Kita bolehlah bangga, Indonesia adalah produsen CPO terbesar dunia. Tahun 2006 ini produksinya mencapai sekitar 16 juta ton. Malaysia yang bertahun-tahun dikenal sebagai raja CPO, hanya 15 juta ton. Ini pun sudah tak mungkin ditingkatkannya karena terbatasnya lahan, sedangkan Indonesia masih amat terbuka lebar.

Tetapi, itulah ironisnya. Negeri penghasil CPO terbesar, para pengusaha sawit menikmati keuntungan yang kian menggelembung, tetapi rakyatnya tak berdaya membeli minyak goreng.

Yang menyedihkan, di negeri ini kenaikan harga minyak goreng (juga beras dan minyak tanah) sering seperti ritual tahunan. Ini terjadi berulang-ulang. Sementara penanganannya tidak ada yang berjangka panjang. Pilihan yang paling mudah operasi pasar, sebuah kebijakan yang amat temporal.

Padahal, setiap ada operasi pasar selalu memunculkan pemandangan rakyat yang tak berdaya. Mereka berbaris dalam antrean panjang, berjam-jam, untuk berburu kebutuhan pokok itu. Pemandangan memunculkan kembali memori zaman lama. Saat terjadi krisis ekonomi pada 1960-an, ketika di mana-mana rakyat antre membeli minyak tanah dan beras.

Itulah zaman ketika politik menjadi panglima dan lupa membangun ekonomi rakyat. Sekarang pemandangan seperti itu terulang ketika pemerintah justru berkali-kali meluncurkan paket kebijakan ekonomi.

Karena itu, ketika realitas kehidupan rakyat zaman lama itu kembali hadir hari ini, pertanyaannya apa saja yang dikerjakan pemerintah selama berpuluh tahun? Indonesia yang pernah memimpin negara-negara Non-Blok dan menjadi kiblat stabilitas di Asia Tenggara, ternyata tak mampu menstabilkan harga minyak goreng….

Pemerintah menjamin kenaikan pajak ekspor akan membuat harga minyak goreng dalam negeri stabil. Tetapi, di negeri ini antara jaminan dan pelaksanaan sering berada dalam kutub yang berseberangan alias tidak nyambung. Bagaimana jika pajak ekspor telah dinaikkan, tetapi harga minyak goreng tetap liar tak terkendali?

Media Indonesia, Minggu, 17 Juni 2007

0 Responses to “Sulitnya Mengendalikan Harga Minyak Goreng”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: