Menuntaskan Semua Nama

MEMBERANTAS korupsi memerlukan hati baja. Keras, tegas, tak mudah dibengkok-bengkokkan. Dan momentum untuk menunjukkan hati baja itu kini terbuka di hadapan sejarah. Momentum itu adalah kasus korupsi dana nonbujeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang uangnya mengalir ke banyak partai dan tokoh nasional.

Atas inisiatifnya sendiri, Amien Rais telah mendatangi KPK melaporkan aliran dana yang diterimanya. Akan tetapi, dalam hal ini, Amien Rais rupanya tak punya pengikut. Lima anggota DPR justru harus dipanggil KPK dan masih harus dibuktikan apakah kelimanya memenuhi panggilan KPK.

Lima wakil rakyat itu adalah Slamet Effendy Yusuf (Golkar), AM Fatwa (PAN), Endin AJ Soefihara (PPP), Fachri Hamzah (PKS), dan Awal Kusuma (Golkar). Badan Kehormatan DPR pun telah menjadwalkan memanggil mereka pada 20 Juni 2007.

Jadi, ada dua lembaga yang memanggil mereka. Yaitu Badan Kehormatan DPR dan KPK. Dua lembaga yang memiliki kewenangan berbeda. Oleh karena itu, harus ditegaskan agar yang satu (lembaga etika) tidak meniadakan yang lain (lembaga hukum).

Menerima uang korupsi tentu saja perkara pidana. Bukan semata pelanggaran etika. Dari sudut pandang itu, anggota DPR yang menerima dana nonbujeter tersebut harus diusut dengan perspektif ganda, baik hukum maupun etika.

Pertama, Badan Kehormatan DPR terus memeriksa kelima wakil rakyat itu untuk kemudian, bila terbukti, dijatuhi hukuman pelanggaran etika yang seberat-beratnya. Yaitu dicopot sebagai anggota DPR. Kedua, tidak tebang pilih, mereka pun harus dibawa ke pengadilan.

Anggota DPR bukan makhluk kebal hukum. Lagi pula, mengapa hanya lima orang? Bukankah 38 anggota DPR baik yang masih aktif maupun tidak menjabat lagi yang menikmati dana DKP?

Bukanlah cerita burung bahwa anggota DPR suka menerima uang dalam banyak kesempatan. Namun, itu selalu sulit dibuktikan. Dan sekarang, fakta itu dibeberkan dalam sidang pengadilan.

Kasus dana nonbujeter DKP memang bukan kasus biasa. Ia kasus spektakuler karena melibatkan elite bangsa. KPK harus membuktikan diri bahwa ia tidak tebang pilih. Selain anggota DPR, publik pun menunggu keberanian KPK untuk juga memeriksa tokoh sekelas Hasyim Muzadi.

Dan itu belum semuanya. Dana nonbujeter DKP tidak hanya dikucurkan di masa Menteri Rokhmin Dahuri dalam kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri, tapi juga dilakukan Menteri Freddy Numberi dalam kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Agar konsisten, Freddy Numberi pun harus diperiksa dan diadili.

Yang jelas, menebar uang korupsi ke banyak kalangan seperti dilakukan Rokhmin Dahuri harus dilihat sebagai sebuah kesengajaan. Harapannya, karena yang menerima dana terbentang luas dari partai hingga pesantren, dari mahasiswa hingga calon presiden, kasusnya akan dipetieskan.

Namun, KPK melakukan sebaliknya. Kasus itu dibawa ke pengadilan, lalu terbongkarlah semua aliran dana yang melibatkan banyak partai dan tokoh. Dan, terjadilah heboh nasional.

Namun, apa perlunya kehebohan itu? Yang perlu dilakukan KPK adalah melangkah tuntas. Yaitu seretlah semua nama ke pengadilan agar membagi-bagikan hasil korupsi secara berjemaah tidak menjadi modus operandi baru untuk menyelamatkan diri.

Semua nama juga harus dituntaskan di pengadilan jika tidak ingin ada preseden bahwasanya sah membagi-bagikan dana nonbujeter asal ada proposal. Itulah kejahatan korupsi yang canggih karena diselimuti rasionalitas kebajikan intelektual.

Media Indonesia, Senin, 18 Juni 2007

0 Responses to “Menuntaskan Semua Nama”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: