Kolaborasi Sesaat PDIP-Golkar

Kalau kandidat mereka sukses dalam pemilihan presiden, ia jadi pemimpin yang kuat karena disokong dua partai yang memiliki anggota melimpah di parlemen.

Koalisi partai politik yang relatif permanen sebetulnya amat diperlukan karena jumlah partai kita cukup banyak. Ini akan menyederhanakan peta sekaligus mereduksi konflik politik. Karena itulah, upaya Partai Golkar dan PDI Perjuangan merintis koalisi baru-baru ini tidak salah, kendati tetap perlu dilihat secara kritis.
Jika koalisi benar-benar terjadi, Golkar dan PDIP akan menjadi pasangan ideal. Keduanya memiliki basis massa yang sama, yaitu kalangan sekuler, dan bisa digolongkan sebagai partai nasionalis. Dengan mudah pula PDIP-Golkar bisa dibedakan dengan partai-partai yang berasas Islam atau berbasis massa Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, dan Partai Keadilan Sejahtera.
Alangkah baiknya bila kedua partai itu menjalin koalisi hingga pemilihan presiden 2009. Calon presiden dan wakil presiden bisa dipilih lewat konvensi bersama. Agar lebih demokratis, konstituen dua partai itu bisa dilibatkan dalam penentuan calon. Kalau kandidat mereka sukses dalam pemilihan presiden, ia jadi pemimpin yang kuat karena disokong dua partai yang memiliki anggota melimpah di parlemen.
Persoalannya, manuver Golkar dan PDIP mungkin tidak sejauh itu. Boleh jadi langkah mereka hanya didasari kepentingan sesaat. Misalnya, agar kedua partai ini memiliki daya tawar lebih tinggi terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kebetulan belakangan banyak kader Golkar dan PDIP yang diseret di pengadilan karena tersangkut kasus korupsi.
Motif lainnya, seperti disebut sejumlah ahli politik, untuk memuluskan kepentingan dua partai itu menyangkut berbagai agenda di parlemen. Tak hanya dalam soal interpelasi, mereka juga bisa bergandengan tangan untuk memuluskan revisi Undang-Undang Pemilihan Umum. Golkar dan PDIP ingin agar syarat partai untuk ikut pemilu diperketat. Sementara semula syaratnya harus mengantongi 3 persen dari jumlah kursi di parlemen, dalam revisi undang-undang tersebut syaratnya dinaikkan jadi 5 persen.
Mereka bisa pula meneruskan kolaborasi dalam menghadapi pemilihan kepala daerah. Kerja sama ini terbukti berhasil dalam pemilihan Gubernur Banten, dan kini dicoba lagi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta.
Tapi jangan terlalu berharap Golkar dan PDIP berhasil membangun koalisi yang langgeng karena preseden menunjukkan sebaliknya. Dulu mereka amat kompak ketika menggusur Abdurrahman Wahid dari Istana dan menaikkan Megawati menjadi presiden. Tapi, setelah Megawati kalah dalam pemilihan presiden 2004, Golkar tak sudi menjadi oposisi bersama PDIP.
Koalisi akan relatif permanen jika kedua partai sanggup menanggung risiko apa pun dari langkah mereka. Bukan hanya siap memerintah jika menang, tapi juga sama-sama mau jadi oposisi jika kalah. Selama PDIP dan Golkar tak memiliki komitmen untuk “sehidup-semati”, langkah mereka tak mengubah banyak peta politik.
Tiada pula sumbangan yang berarti bagi perbaikan kualitas demokrasi. Sebab, yang mereka lakukan sejauh ini bukan koalisi, melainkan sekadar kolaborasi sesaat.

Koran Tempo, Jum’at, 22 Juni 2007

1 Response to “Kolaborasi Sesaat PDIP-Golkar”


  1. 1 fari November 9, 2007 pukul 3:27 pm

    saya sangat setuju jika semua partai di Indonesia memberlakukan asas tunggal pancasila sebagai asas partainya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: