Pilkada dan Jakarta

Pilkada dan Jakarta

Ulang tahun ke-480 Jakarta, ibu kota negara, hari Jumat lalu berkoinsidensi dengan pilkada gubernur dan wakil gubernur pada Agustus ini.

Bukan saja persiapan, bahkan kampanye pun sudah dimulai. Masuk akal jika ulang tahun Ibu Kota mau tidak mau berkaitan dengan pilkada. Terutama, masukan bagi pemilihan kepala daerah itu. Suatu masukan yang lebih spontan daripada hasil studi dan analisis.

Kebetulan kebakaran pun terjadi pada musim kemarau yang berpancaroba ini. Muncullah gugatan spontan. Itulah Jakarta: kemarau kebakaran, hujan kebanjiran. Banjir tahun ini menyebabkan 190.000 orang mengungsi. Seperti di daerah-daerah lain, di Ibu Kota pun terjadi sengketa tanah (ingat Meruya), penerbitan pedagang kaki lima. Tampak kontras yang mencolok. Di mana-mana muncul kompleks pertokoan modern, mal. Sejauh mana pembangunan pasar pedagang kecil seintensif pembangunan mal. Permukiman pun berpola serupa. Antara real estat dan perumahan rakyat.

Ke Jakartalah warga dari daerah mengadu nasib, mencari pekerjaan. Mestinya, dengan otonomi, arus itu menurun. Sejauh ini belum. Karena itu, jumlah warga miskin pencari kerja di Ibu Kota terus bertambah. Jakarta menunjukkan beragam wajah, yang kontras tentu saja, wajah warga berkecukupan dan warga miskin. Warga yang bekerja dan warga yang masih menganggur atau bekerja asal-asalan.

Sistem dan perangkat lalu lintas terus-menerus diperbaiki. Namun sejauh ini hasilnya belum memadai. Lebih banyak jumlah yang memerlukan perangkat transpor Ibu Kota daripada sistem, kendaraan, maupun kemampuan pengelolaannya. Kemacetan di mana-mana. Muncul ungkapan baru. Di Jakarta, masalahnya bukan jauh-dekat, tetapi macet atau tidak macet. Sementara itu, betapapun polisi dan aparat lainnya bekerja keras, keamanan tetap merupakan masalah. Warga pribadilah yang harus peduli akan keamanannya sendiri.

Dari kenyataan-kenyataan di atas, apa relevansinya bagi Pemerintah Provinsi DKI, terutama dalam kaitannya dengan pemilihan gubernur dan wakil gubernur? Pertama, pemahaman yang komprehensif dan cerdas perihal persoalan Ibu Kota. Kebiakan dan program yang kena. Dan terutama, komitmen, kemampuan serta kemauan untuk memimpin dan menyelenggarakan pemerintahan yang ikhlas, jujur, peka, dan cerdas. Menjadi gubernur adalah kesediaan berkorban.

Kekuasaan bisa dibedakan, kekuasaan dalam sistem demokrasi atau dalam sistem otokrasi. Bahkan ada faktor pembedaan lain yang untuk kita tidak kalah relevannya, yakni kekuasaan dalam budaya feodal atau kekuasaan bukan saja dalam sistemnya, tetapi juga dalam budayanya, yakni budaya demokrasi. Warisan pemahaman dan sikap kekuasaan feodal masih amat sangat kuat pada kita, yakni berupa kekuasaan yang minta dilayani, bukan melayani. Masih lebih jauh lagi hadirnya asketisisme kekuasaan, yakni kekuasaan yang dengan sadar dan sengaja menjalani hidup sederhana serta menolak segala bentuk upeti, yang berpamrih maupun tak berpamrih.

Kompas, Senin, 25 Juni 2007

0 Responses to “Pilkada dan Jakarta”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: