Menjaga Sarana Umum

Pekan lalu ribuan warga di Jabotabek yang biasa menggunakan kereta api dipaksa menunggu tanpa kepastian karena terganggunya arus perjalanan. Penyebabnya adalah banyaknya fasilitas penunjang di sepanjang jalur lintasan kereta yang dicuri. Akibatnya sangat fatal karena sistem persinyalan terganggu dan itu sangat membahayakan bagi lalu lintas kereta api.

Kejadian seperti ini bukan baru terjadi. Kita bahkan boleh mengatakan hal itu sering terjadi sehingga menyengsarakan banyak orang yang membutuhkan alat transportasi tersebut untuk menopang aktivitas.

Pertanyaannya, siapa yang melakukan hal itu? Mengapa mereka sampai melakukan tindakan seperti itu? Tidakkah terpikirkan bahwa tindakan mereka merugikan banyak orang dan juga negara?

Salah satu kelemahan kita sebagai bangsa adalah penghormatan kepada fasilitas umum. Karena dianggap milik bersama, maka semuanya boleh diperlakukan sewenang-wenang. Termasuk untuk merusaknya. Tidak pernah kita mau berpikir dan bertindak sebaliknya. Karena ini fasilitas umum dan dipergunakan banyak orang, kita seharusnya ikut menjaganya agar semua orang bisa mendapatkan manfaat yang terbaik.

Lagi-lagi ini berkaitan dengan persoalan pendidikan. Persoalan pemberian pemahaman tentang apa hak dan kewajiban dari seorang warga negara. Bagaimana kita bertindak agar tidak sampai merugikan orang lain.

Semua ini bukan sesuatu yang bisa sekali jadi. Sekali diajarkan lalu orang bisa mengerti dan berubah perilakunya. Ini harus melalui proses yang berulang-ulang dan bahkan melalui contoh-contoh.

Kita semua pasti memimpikan kehidupan masyarakat yang tertata dengan baik. Kita iri melihat kehidupan di negeri orang, ketika seorang warga yang sedang membawa anjingnya jalan-jalan, kemudian sang anjing membuang kotoran, lalu sang pemilik dengan tangan yang dilengkapi sarung tangan plastik mengambil kotorannya untuk dibawa pulang dan dibuang di rumahnya.

Mengapa mereka mau melakukan itu? Karena mereka diajari untuk tidak menyusahkan orang lain. Ketika kotoran dibiarkan begitu saja, maka bukan hanya akan menciptakan aroma yang tidak sedap, tetapi juga mengotori lingkungan. Orang lain juga bisa menderita ketika kemudian menginjak kotoran tersebut.

Sengaja kita angkat ilustrasi yang sederhana itu untuk menghardik kesadaran kita bersama, itulah esensi kita hidup bersama. Setiap tindakan yang kita lakukan tidak boleh sampai mengganggu dan merugikan orang lain. Kita harus mau menenggang hak orang lain dan untuk itu kita harus setiap kali berpikir sebelum bertindak.

Tidak bosan-bosan kita mengingatkan, demokrasi jangan sekadar diartikan bebas untuk melakukan apa saja. Apalagi kemudian diartikan boleh tidak menaati peraturan dan bahkan kita jadi lemah untuk menegakkan peraturan. Dengan demokrasi kita bukan sekadar “bebas dari” (freedom from), tetapi yang tidak kalah penting “bebas untuk” (freedom for). Rasanya demokrasi bukan sekadar membuat kita bebas, tetapi kebebasan yang bisa memperbaiki kualitas kehidupan kita bersama.

Kompas, Rabu, 01 Agustus 2007

1 Response to “Menjaga Sarana Umum”


  1. 1 Indonetshop Maret 29, 2016 pukul 4:50 pm

    iya intinya memang jangan salah arti terhadap demokrasi..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: