Morowali, Nasibmu…

TIGA puluh desa di empat kecamatan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, diterjang banjir dan tanah longsor pada 17 Juli lalu. Sampai hari ini korban meninggal tercatat 72 orang, belum termasuk puluhan yang masih hilang.

Sepintas, itulah laporan jurnalistik biasa tentang sebuah bencana di mana saja. Tapi, bila dicermati lebih saksama, hal yang dianggap biasa itu ternyata adalah refleksi bencana yang lain. Yaitu marginalisasi. Semakin ke pinggir semakin terbuang dari skala kepentingan.

Penyebab pertama marginalisasi adalah ketidakpedulian. Penyebab kedua adalah keterpencilan. Dua faktor itulah yang menyebabkan bencana di daerah yang jauh dari Jakarta berlipat ganda bobotnya sebagai tragedi.

Andai kata longsor dan banjir dengan korban 72 orang terjadi di Yogyakarta atau Bekasi, pasti bisa diatasi dalam tempo singkat. Karena tersedia banyak fasilitas untuk menyelamatkan nyawa, termasuk berlimpahnya perhatian pemangku kekuasaan karena dekat dengan Jakarta.

Tetapi di Morowali bencana berbuah bencana. Bagi mereka, bencana yang menimpa tidak semata terjangan air dan lumpur yang menenggelamkan. Mereka juga ditenggelamkan keterpencilan yang tidak pula terselesaikan walau Indonesia telah merdeka 62 tahun. Keterpencilan yang berbuah ketidakpedulian.

Bencana Morowali tidak memiliki gema dan empati kalangan elite di Jakarta. Kalau ada perhatian, itu semata-mata perhatian sektoral dan formal yang memperlihatkan pemangku kekuasaan memiliki sense of urgency sangat surut. Para pemangku kepentingan di Jakarta lebih sibuk membela gengsi diri daripada membela nyawa rakyat dari bencana.

Kepedulian negara terhadap rakyat yang tertimpa bencana, terutama yang jauh dan terpencil, adalah kepedulian birokratis formal. Menteri merasa telah berbuat maksimal karena telah memerintah gubernur. Gubernur merasa sudah melakukan yang terbaik karena telah memerintahkan bupati. Dan, bupati juga merasa telah berjuang sekuat tenaga karena telah menelepon camat atau lurah.

Tanggung jawab dan penanganan model begitu pada akhirnya menindas para korban. Mereka dipaksa harus mengurusi diri sendiri di saat bencana menimpa. Bupati mungkin bekerja serius. Camat dan lurah serta warga bisa saja telah berbuat maksimal. Tetapi kerja keras mereka tidak mampu menyelamatkan bila keterpencilan mencaplok kehidupan sebagian besar manusia Indonesia.

Negara yang beradab dan bermartabat adalah negara yang membela kepentingan warga bangsanya sekuat tenaga. Negara yang beradab adalah negara yang dipimpin para penguasa yang menghargai manusia secara utuh dan adil. Nyawa 72 manusia yang hilang diterjang banjir di Morowali sama nilainya dengan 72 nyawa yang hilang di Bekasi atau Yogyakarta. Bahkan dari sisi kemanusiaan, satu atau 1.000 nyawa yang melayang sama-sama harus dianggap sebagai tragedi.

Andai kata Morowali mengubah namanya menjadi Yogyakarta, mungkin banyak sekali pejabat dari Jakarta yang rela berkantor di sana untuk menyaksikan bencana. Partai-partai politik pasti berebut kesempatan menjadi yang pertama dalam mencari dan menyalurkan bantuan.

Tetapi, mengapa untuk anak bangsa yang menderita diterjang bencana di Morowali, simpati dan solidaritas mati? Apakah solidaritas harus menunggu tragedi semacam tsunami di Aceh pada 2004?

Bencana di Morowali menggugat solidaritas kemanusiaan kita sebagai warga. Juga menggugat sense of crisis dari negara terhadap penderitaan rakyat di mana pun di Indonesia dan dalam wujud apa pun.

Akan tetapi, solidaritas kemanusiaan akan mati kalau marginalisasi karena keterpencilan tidak diperangi melalui strategi infrastruktur yang benar dan konsisten.

Infrastruktur tidak semata dirancang demi meraih keuntungan ekonomi. Infrastruktur adalah juga alat dan bukti kedaulatan yang mengikat.

Media Indonesia, Kamis, 02 Agustus 2007

0 Responses to “Morowali, Nasibmu…”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: