Kepentingan Warga dan Negara

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Departemen Kesehatan seolah tak berteman. Meski hasil risetnya sudah membuktikan bahwa sejumlah produk asal Cina seperti permen, cemilan, kosmetika, pasta gigi, dan mainan anak-anak terbukti mengandung zat kimia berbahaya, ternyata instansi lain tak bersambut. Tak sekadar tak proaktif, bahkan seolah tak mendukungnya. Maka Bea Cukai dengan alasan administrasi tetap meloloskan produk-produk tersebut. Departemen Perdagangan pun bersuara sama. Sedangkan Departemen Prindustrian tak bersuara sama sekali. Ada apa?

Sebagian pihak tersebut sangat berpikir teknis. Seolah mereka hanya klerek, bukan pejabat publik. Seolah dengan menyebut alasan teknis sudah lebih dari cukup untuk terbebas dari tanggung jawab. Sebagian lagi berpikir politis sehingga yang ada di batinnya hanya kepentingan sempit (vested interest). Sehingga tak segera melakukan langkah antisipatif selayaknya orang yang mengemban amanat 250 juta rakyat Indonesia. Sebagian lagi memang tak memiliki kapasitas sebagai pejabat negara sehingga tak tahu harus berbuat apa.

Produk-produk tersebut bisa berdampak pada penyakit kanker, asma, kelainan otak, dan juga berpengaruh pada darah kita. Yang lebih celaka, semua produk tersebut ditujukan untuk anak-anak, dan terutama untuk segmen pasar kalangan bawah. Memang, munculnya penyakit-penyakit tersebut tidak seketika tapi dalam jangka panjang. Saat ini kita terbiasa melihat banyak orang menderita, penyakitan, dan juga terbiasa melihat orang mati mengenaskan. Hal itu bisa menimbulkan mati rasa di antara sesama dan hukum manusia adalah serigala bagi yang lainnya pun merupakan fenomena biasa. Itulah salah satu ciri masyarakat tak beradab. Tentu kita tak ingin kita kebablasan untuk tak beradab. Maka kita tak boleh berhenti untuk bersuara agar kita beradab dan peduli sesama.

Selain menimbulkan penderitaan bagi korban produk yang mengandung bahan kimia berbahaya, juga hal itu akan membebani ekonomi nasional. Selain kita kehilangan sumberdaya produktif karena terpapar penyakit, kita juga menderita secara ekonomi. Biaya kesehatan sangatlah mahal dan salah satu instrumen sederhana untuk memiskinkan orang. Hal-hal inilah yang mestinya berada di benak para pejabat kita yang terhormat. Karena itu, kita sangat salut dan mendukung sepenuhnya kepada BPOM untuk terus merazia produk-produk berbahaya.

Sebagai bangsa yang kini masih terus terpuruk, kita juga mudah kehilangan kepercayaan diri. Dengan cepat, Cina melakukan serangan balik. Mereka melarang produk ikan kita masuk ke negara itu dengan tuduhan mengandung logam berat. Berbeda dengan BPOM yang fair karena secara spesifik menyebut jenis dan mereknya, pemerintah Cina sama sekali tak membuat keterangan spesifik. Misalnya mereka tak menyebut ikan jenis apa dan dari daerah mana. Tanpa sikap fair, sangat sulit bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan.

Lagi pula ikan-ikan Indonesia justru paling banyak diekspor ke Korea, Jepang, dan Amerika. Dan negara-negara itu tak ada masalah dengan ikan Indonesia. Lagi pula, para nelayan asal Cina adalah salah satu yang paling rajin melakukan illegal fishing di perairan Indonesia. Sehingga tuduhan itu menjadi lucu. Kita juga sulit untuk tak menafsirkan bahwa reaksi Cina itu memang berniat perang dagang. Mereka menekan Indonesia agar tak menyetop produk mereka yang berbahaya. Padahal apa yang dilakukan BPOM sangatlah transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Indonesia tentu juga harus melakukan klarifikasi, yang hal itu harus dimulai dari Cina dengan menyebut jenis ikan dan asal daerahnya. Dengan demikian, Indonesia mudah melakukan langkah-langkah sepatutnya.

Sikap Cina yang reaksioner memang tak harus dibalas Indonesia. Walaupun Indonesia sudah lama curiga terhadap Cina sebagai negara penampung kayu-kayu ilegal dan rotan-rotan ilegal dari Indonesia. Namun kita juga tak ingin pemerintah bersikap lembek dengan membiarkan produk berbahaya meracuni anak-anak dan generasi masa depan kita. Kita menekan pemerintah dan para pejabatnya untuk berorientasi pada kepentingan warga dan keagungan bangsa serta negara Indonesia, jangan seperti burung onta.

Republika, 9 Agustus 2007

0 Responses to “Kepentingan Warga dan Negara”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: