Menakar Kembali Hubungan dengan Malaysia

MALAYSIA akhirnya meminta maaf kepada Indonesia terkait kasus pemukulan wasit karate Indonesia Donald Pieter Luther Kolopita oleh empat polisi Diraja Malaysia. Permohonan maaf yang disampaikan melalui telepon oleh Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (30/8) malam itu, telah membuat kebekuan di antara kedua bangsa yang berlangsung sepekan terakhir ini mulai mencair.

Patut dihargai sikap Perdana Menteri Badawi yang masih memperlihatkan kearifan dan niat untuk mempertahankan persaudaraan dengan Indonesia. Ini adalah sikap terpuji yang tidak diperlihatkan tatkala negeri itu mengutus menteri luar negeri dan Kepala Kepolisian Diraja Malaysia.

Jauh lebih terpuji lagi adalah bila Malaysia bersedia mengungkapkan permohonan maaf itu secara lebih lugas dan terbuka, bukan melalui sambungan telepon. Dan jauh lebih melegakan serta membesarkan hati bila hal itu disampaikan secara langsung oleh pihak Malaysia di hadapan publik Indonesia melalui media massa. Bukan melalui Juru Bicara Presiden Republik Indonesia.

Tetapi, itulah pilihan Malaysia dalam bersikap. Ia, suka tidak suka, mau tidak mau harus dihargai dan dihormati sebagai sebuah pilihan yang tentu telah dihitung segala latar belakang, untung-rugi, dan dampak serta konsekuensinya.

Memburuknya hubungan Indonesia-Malaysia bukan kali ini saja terjadi. Kasus pemukulan Donald yang menjadi tamu negara hanyalah sebuah petunjuk betapa kerikil tajam dalam hubungan kedua negara bukan saja selalu ada, namun juga cenderung meningkat intensitasnya.

Adalah tidak proporsional bila kasus Donald dibesar-besarkan dan dilebih-lebihkan, sehingga justru bisa mengganggu hubungan kedua negara. Namun sebaliknya sungguh tidak bijak bila kasus ini dibiarkan berlalu tanpa upaya untuk mengambil pelajaran agar peristiwa serupa atau yang jauh lebih buruk dapat diakhiri.

Yang harus ditekankan adalah pemerintah tidak boleh memersepsikan dan menangani kasus ini secara business as usual, seperti yang sudah-sudah.

Karena kalau itu opsinya, hampir dapat dipastikan kasus serupa akan terulang. Terlebih lagi, tidak ada jaminan bahwa proses hukum terhadap para penganiaya di negeri jiran itu akan berlangsung tuntas, setegas-tegasnya, serta seadil-adilnya.

Kata maaf dari Malaysia memang telah terucap. Tetapi bukan berarti semua telah berakhir. Apalagi kelugasan, ketulusan, dan keikhlasannya masih menjadi keraguan. Dan pula, hingga kini bangsa serumpun itu masih menyebut rakyat kita dengan sebutan berkonotasi merendahkan, yaitu Indon. Bukan Indonesia. Baik secara lisan maupun tulisan.

Adalah fakta bahwa Malaysia merasa dirinya sekarang lebih superior dalam banyak hal. Ekonominya lebih sehat, rakyatnya lebih sejahtera, negaranya lebih bersih dalam hal korupsi, dan lebih tegas membasmi narkoba. Bahkan, Indonesia kalah di Mahkamah Internasional sehingga dua pulau milik negeri ini dicaplok dengan sah oleh Malaysia.

Dengan seluruh keunggulan itu, ditambah kenyataan begitu banyak rakyat kita yang mencari makan di negeri jiran itu, menambah lengkap penilaian bahwa Indonesia memang rendah di mata Malaysia. Eksesnya adalah perlakuan hina dan semaunya menggunakan kekerasan fisik terhadap anak bangsa ini.

Oleh karena itu, tepat saatnya menakar kembali hubungan dengan Malaysia. Harus ada upaya sungguh-sungguh dari pemerintah untuk mencermati, mengevaluasi, mengalkulasi, bahkan meninjau kembali kualitas hubungan kita dengan negeri jiran itu. Posisi Indonesia vis a vis Malaysia harus ditata ulang untuk meraih martabat dan kedudukan sederajat, sebaik-baiknya, dan semulia-mulianya.

Kasus Donald adalah momentum yang tepat untuk melakukan itu semua. Sudah saatnya untuk membuat Malaysia berhenti memperlakukan Indonesia dengan arogansi. Sudah saatnya membuat Malaysia menghapus kata Indon. Sudah saatnya membuat Malaysia menghormati harkat dan martabat Indonesia sebagai bangsa dan negara, sehingga ungkapan ‘Ganyang Malaysia’ tidak lagi muncul dalam kamus diplomatik Indonesia-Malaysia.

Media Indonesia, Minggu, 02 September 2007

0 Responses to “Menakar Kembali Hubungan dengan Malaysia”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: