Operasi Permak Wajah

TIDAK ada aturan yang melarang Bank Indonesia memermak citranya. Tapi, kalau usaha memoles citra hanya untuk memuluskan kepentingan BI, program yang bagus itu bisa salah dan menabrak aturan.
Itulah yang terjadi dengan program peningkatan citra Bank Indonesia pada 2003. Ketika itu BI sedang berhadapan dengan masalah besar: Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, yaitu pinjaman kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas saat terjadi krisis moneter. Sampai akhir 1998, BI sudah menyalurkan BLBI sebesar Rp 147,7 triliun kepada 48 bank. Dari jumlah itu, audit Badan Pemeriksa Keuangan menyimpulkan terjadi indikasi penyimpangan sebesar Rp 138 triliun.
Kejelasan status BLBI inilah yang membuat BPK memberikan predikat disclaimer kepada laporan keuangan BI pada 1999 dan 2000. Predikat tanpa opini memang tidak menunjukkan gambaran yang baik.
Bisa dipahami bila BI tidak membiarkan keadaan ini. Predikat disclaimer bisa merusak kepercayaan. Keadaan ini harus cepat diubah. Rupanya, inti program pemulihan citra BI adalah meyakinkan para mitra kerja soal posisi BLBI ini. Maka sejumlah pakar didatangkan untuk berbicara di Dewan Perwakilan Rakyat. Sejumlah anggota DPR diyakinkan tentang posisi BI dalam BLBI, antara lain dengan dikirim melakukan studi banding ke Argentina dan Eropa–tentu dengan akomodasi dan uang transpor memuaskan.
Untuk semua program ini, BI perlu biaya, dan pada 2003, ketika kebutuhan dana begitu besar, pos anggaran BI tidak mencantumkan dana untuk program ini. Akhirnya, rapat Dewan Gubernur BI memutuskan menggunakan dana milik Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia/Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia–disingkat LPPI–“anak usaha” BI. Tentu pemakaian dana yayasan ini bisa dipersoalkan, terutama kalau dilakukan dengan maksud menghindari audit BPK.
Suasana kolusif begini jelas menyulitkan usaha memberantas korupsi. Meskipun banyak petunjuk, sulit memastikan siapa yang benar-benar telah menerima dana BI itu. Seolah-olah, dengan selubung program diseminasi, semua kelihatan wajar.
Yang memberi dan yang menerima kelihatan benar sudah terlatih untuk menghindar dari opini publik, bahkan juga pemeriksaan aparat hukum kelak. Banyak jurus yang dilakukan, misalnya mengaku “lupa” atau “tak ingat” atau “itu sudah sesuai dengan ketentuan”. Usaha media massa mengangkat kasus ini langsung dipatahkan dengan mengatakan dokumen yang dimuat media tidak otentik.
Tapi bukan tak ada jalan. Salah satu yang bisa diharapkan tentu adalah Badan Pemeriksa Keuangan, lembaga yang setiap tahun mengaudit Bank Indonesia. Walaupun ada yang mengatakan bukan Anwar Nasution, Ketua BPK, yang mengirim dokumen BI kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, Anwar bisa diharapkan bertindak.
Barangkali kasus BI ini penting juga untuk “membersihkan” Anwar Nasution secara pribadi, mengingat ia, saat masih menjabat Deputi Gubernur BI, hadir dalam salah satu rapat Dewan Gubernur yang membahas tindak lanjut program mendongkrak citra Bank Indonesia tadi. Sebagai bekas orang dalam, tentu ia paham lika-liku pemakaian dana BI. Dari pengetahuannya itu bisa ditunggu sebuah hasil audit investigasi yang lengkap.
Harapan juga boleh disandarkan pada Komisi Pemberantasan Korupsi. Pemeriksaan terhadap sejumlah nama pejabat menengah di bank sentral diharapkan mampu membuka kasus ini. Semua petinggi BI harus siap menghadapinya–tanpa harus sibuk memikirkan semacam “operasi permak wajah” lagi.
Kemandirian Bank Indonesia menuntut akuntabilitas yang tinggi. Hanya kepada lembaga yang akuntabellah kita percayakan tugas berat menjaga sistem moneter dan kelancaran sistem pembayaran republik ini.

Koran Tempo, Senin, 03 September 2007

0 Responses to “Operasi Permak Wajah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: