Posisi Presiden di Sesi Foto

URUSAN protokoler bisa panjang, sebab ekornya menyangkut harga diri dan kehormatan. Ditempatkan di belakang, misalnya, bisa berarti direndahkan, bahkan penghinaan.

Kurang lebih, itulah suara yang muncul dari sejumlah kalangan setelah melihat posisi Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada sesi foto 21 pemimpin negara APEC di Sydney. Dalam sesi foto itu, Presiden Yudhoyono berada di barisan belakang, sedangkan Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei Darussalam), PM Abdullah Badawi (Malaysia), Presiden Gloria Arroyo (Filipina), dan PM Surayud (Thailand) ditempatkan di barisan depan.

Penempatan Presiden Yudhoyono di barisan belakang itu menimbulkan kritik keras di dalam negeri Indonesia. Suara keras dilontarkan kalangan Komisi I DPR yang membidangi masalah luar negeri dan Kelompok Cipayung yang berisikan organisasi ekstrakampus HMI, GMNI, GMKI, PMII, dan PMKRI.

Inti kritik adalah penempatan Presiden RI di barisan belakang itu menunjukkan penilaian bahwa Indonesia hanya dianggap angin lalu dalam kancah politik di kawasan Asia Pasifik dan ASEAN. Oleh karena itu, ada anggota Komisi I yang akan mempertanyakannya kepada Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Yaitu, apakah hal tersebut merupakan keteledoran protokol Departemen Luar Negeri RI atau skenario pemerintah Australia.

Muncul memang penilaian miring terhadap pemerintah Australia yang mengecilkan posisi strategis Indonesia. Padahal, inilah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dan juga merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Singkatnya, sesi foto itu mendapatkan sorotan negatif yang dikaitkan dengan posisi dan harga diri bangsa. Lebih menyakitkan lagi, karena Indonesia seperti dilecehkan di belakang sesama negara ASEAN yaitu Malaysia, Brunei, Filipina, dan Thailand.

Departemen Luar Negeri sendiri melalui juru bicaranya, Kristiarto Legowo, berpandangan agar hal itu tidak perlu diinterpretasi dan ditanggapi secara berlebihan. Sedangkan kalangan Istana Presiden, seperti disampaikan Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal, secara substansial mengajak agar tidak terjebak dalam nasionalisme sempit.

Penempatan 21 kepala negara dan kepala pemerintahan dalam sesi foto itu tentu ada dasarnya. Australia harus diasumsikan merupakan negara yang memahami standar protokol internasional.

Lagi pula, mengapa bangsa ini menjadi bangsa yang gampang tersinggung? Tidakkah di belakang ketersinggungan itu bersarang psikologi oversensitif yang lahir justru karena inferioritas?

Harus diakui Indonesia bukan lagi negara yang secemerlang dan sehebat masa sebelumnya. Krisis ekonomi telah menjatuhkan posisi dan wibawa negara ini dalam pergaulan warga dunia. Bahkan, hingga kini Indonesia merupakan negara yang tidak layak dihormati dilihat dari buruknya tata kelola pemerintahan. Sebab, inilah negara yang tergolong paling korup di dunia.

Yang pasti bangsa ini memiliki pekerjaan rumah yang berat. Yaitu, mengangkat harkat dan martabat bangsa sehingga kembali disegani dan dihormati warga dunia. Untuk itu, bangsa ini harus berani menatap realitas yang pahit dan kemudian bangkit untuk mengatasinya.

Untuk itu, tiada pilihan selain membuang jauh-jauh semua kecengengan dan perasaan mudah tersinggung.

Media Indonesia,  Rabu, 12 September 2007

0 Responses to “Posisi Presiden di Sesi Foto”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: