Bencana Itu Datang lagi

Bencana selalu datang secara tiba-tiba. Tanpa permisi. Apalagi gempa. Sampai saat ini belum ada satu teknologi pun yang bisa memprediksi datangnya gempa. Kita hanya tahu bahwa sebagian besar wilayah nusantara ini rawan gempa, tapi kapan gempa itu datang, tak ada yang tahu.

Gempa bumi kembali datang meluluhlantakkan sebagian dari negeri kita. Setelah sebelumnya Aceh, kemudian Yogyakarta, disusul Pangandaran, kemudian Padang, dan tempat-tempat lain, kini giliran Bengkulu digoyang gempa dengan kekuatan 7,9 SR. Bagi Bengkulu, ini lebih merupakan serangkaian gempa yang tak henti-hentinya terjadi.

Setidaknya lima orang tewas, ratusan luka-luka, puluhan gedung dan rumah roboh, ribuan orang mengungsi, termasuk pasien-pasien rumah sakit. Bahkan Bupati Muko-Muko, Bengkulu Utara, pun ikut mengungsi. Mereka luar biasa panik terlebih karena Bengkulu sempat digetarkan gempa besar serupa pada Juni 2000 silam yang menewaskan banyak warga.

Indonesia yang menjadi bagian dari ring of fire (cincin api) merupakan daerah yang rawan bencana, terutama gempa bumi dan letusan gunung berapi. Kita tidak bisa mengelak dari kondisi tersebut. Posisi geologis Indonesia sebagai daerah bencana itu boleh dikata sudah takdir.

Selalu akan ada gempa di bumi kita tercinta ini. Sepanjang wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, terus naik ke Maluku, Sulawesi, itu merupakan daerah yang setiap saat terjadi gempa bumi. Bisa gempa besar yang menimbulkan korban, bisa hanya getaran kecil yang kita tidak merasakan.

Melihat posisi geografis dan geologis seperti itu, mau tidak mau kita yang hidup di daerah gempa dan gunung berapi ini menyesuaikan diri. Kita tidak bisa memaksa cincin api itu pergi dari wilayah Indonesia. Juga tidak bisa memindahkan Indonesia ke tempat yang aman. Tapi, kita yang harus tahu diri dan menyesuaikan terhadap kondisi tersebut.

Pemerintah harus secara terus-menerus mensosialisasikan kondisi ini terhadap masyarakat. Pemerintah perlu melatih masyarakat agar selalu bersiap diri menghadapi gempa yang datang sewaktu-waktu. Bisa dengan latihan menghadapi bencana secara berkala, maupun selalu menyiapkan logistik yang mencukupi.

Dan masyarakat pun harus selalu siap terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Langkah-langkah antisipasi mau tidak mau harus dilakukan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Misalnya dalam mendirikan bangunan, setidaknya harus memperhitungkan kemungkinan adanya gempa.

Langkah antisipasi diperlukan untuk mencegah adanya korban yang lebih besar. Kita tidak bisa mencegah datangnya gempa maupun letusan gunung api, tapi kita bisa mencegah timbulnya korban harta dan nyawa yang lebih besar. Antisipasi merupakan bagian dari langkah kita selain berdoa agar dijauhkan dari bencana.

Bencana ini merupakan ujian bagi kita semua. Terlebih bencana itu datang bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Semuanya adalah skenario Allah SWT. Bencana pun merupakan sunatullah, merupakan hukum Allah di muka bumi ini. Dan tentu saja bencana ini merupakan peringatan agar kita selalu mendekatkan diri pada Dia.

Republika, Jumat, 14 September 2007

0 Responses to “Bencana Itu Datang lagi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: