Kepesertaan Askeskin Belum Optimal

ORANG miskin dilarang sakit. Anekdot itu sering terdengar. Tidak hanya sekarang, tetapi sudah dari dulu. Mengapa, karena biaya obat dan perawatan di rumah sakit sangat tinggi, sehingga tidak mampu dijangkau oleh rakyat miskin. Ironisnya lagi, tidak jarang para pasien termasuk yang tergolong miskin sering jadi objek permainan. Mereka tidak jarang dihambat bahkan sering digiring ke rumah sakit swasta.

Manakala pemerintah mengeluarkan kebijakan penerapan Askeskin pada Januari 2005, warga pun menyambut dengan suka cita. Ibarat hujan di musim kemarau. Harapannya, kebijakan ini akan mampu mengangkat derajat kesehatan warga miskin.

Apalagi pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk menunjang program pro-rakyat ini. Untuk tahun 2006 saja, pemerintah menganggarkan Rp 3,6 trilyun. Namun anggaran itu baru terserap 72 persen. Artinya masih ada dana Rp 1 trilyun yang belum cair atau dikembalikan lagi ke APBN karena tak terpakai.

Ini tampak ironis. Di tengah masih banyaknya warga miskin di Indonesia, bahkan cenderung meningkat, Depkes selaku penanggung jawab Askeskin masih menyisakan anggaran. Masih tersisanya anggaran tersebut menunjukkan bahwa kerja Depkes dalam membantu rakyat miskin belum maksimal. Dari sini juga dapat disimpulkan bahwa Depkes sebagai institusi operasional kebijakan Askeskin tidak secara serius mengamankan garis strategi pemerintah. Anggaran tidak efektif terserap di lapangan, padahal rakyat miskin tidak berkurang bahkan cenderung bertambah.

Gambaran kondisi nasional itu, juga berlaku di Bali. Pada tahun 2007 dari kuota 76,4 juta jiwa, Bali mendapat kuota 548.617 jiwa warga miskin. Dari jumlah itu baru 54 persen memiliki kartu Askeskin. Sisanya, 46 persen belum mendapatkan ”haknya” yang sebenarnya telah dianggarkan oleh pemerintah.

Berangkat dari fenomena tersebut, tak bisa terbantahkan bahwa pemerintah, khususnya pemerintah daerah, belum maksimal memberi pelayanan kepada warga miskin. Sebab, sesuai dengan aturan pemerintah, pendaftaran warga miskin melalui aparat desa dan mendapat pesetujuan (SK) dari bupati/wali kota. Kecilnya masyarakat Bali yang terjangkau Askeskin — 54 persen dari kuota yang ditetapkan — menandakan masih rendahnya kepedulian aparat terhadap rakyat miskin.

Oleh karena itu, khusus di Bali perlu dibuatkan sistem yang lebih baik dalam mendata warga miskin. Apalagi data yang diberikan oleh BPS secara tegas menunjukkan bahwa warga miskin di Bali sebanyak 548.617.

Ke depan, perlu diciptakan sistem yang betul-betul bisa memberi kemudahan kepada warga miskin. Sebab, dari data yang ada masih ada 46 persen warga miskin di Bali belum terjangkau Askeskin. Apalagi sejumlah data menunjukkan bahwa tidak sedikit warga berkemampuan cukup juga menerima Askeskin. Ini artinya, warga miskin yang tidak terjangkau Askeskin bisa lebih banyak dari data yang ada sekarang. Mengapa, karena ”jatahnya” telah diambil oleh warga yang berkemampuan cukup.

Selain penciptaan sistem yang mudah, sosialisasi akan manfaat Askeskin juga penting terus dilakukan. Sebab, tidak sedikit warga miskin yang belum tahu bahwa dia sudah mendapat tanggungan pemerintah, apabila ikut menjadi peserta Askeskin.

Intinya, sosialisasi itu akan dapat memberikan informasi dan pemahaman yang jelas bahwa kesehatan adalah penting untuk dijaga yang salah satunya bisa dilakukan melalui kepesertaan Askeskin. Sementara tujuan sistem adalah untuk mempermudah dan mempercepat proses untuk menjadi anggota Askeskin.

Bali Post, 15 September 2007

9 Responses to “Kepesertaan Askeskin Belum Optimal”


  1. 1 kris woyo samudroutomo September 26, 2007 pukul 1:42 pm

    SBY = Sumber Bahaya

    kita telah keliru untuk memilih presiden yang mengakibatkan bencana besar di Indonesia, shg warga miskin makin banyak sekali/.

  2. 2 Yesus Kristus September 26, 2007 pukul 1:43 pm

    SIAPA SURUH ANDA MISKIN……RASAIN LHO

  3. 3 AMIN RA'IB GARIS GARIS September 26, 2007 pukul 1:46 pm

    GARA-GARA WAPRES-NYA SEPERTI BUTO (YUSUF KALLA) & DIDUKUNG SI CAKIL (BAKRIE) INDONESIA MAKIN RUWET SAJA BAGAIMANA BISA MENANGGAPI PERMASALAHAN KEMISKINAN YANG PROSENTASENYA SEMAKIN MENINGKAT…YA PRESIDENT SBY JANGAN DIAM AJA, BADAN BESAR OTAK BEGO

  4. 4 DEWA LANGIT RATU KIDUL September 26, 2007 pukul 1:51 pm

    Bagi paramedis / petugas kesehatan yang mengambil, memungut harat orang miskin saya sumpah-in 7 turunan bakal susah, pemerintah jangan bengong aja atur itu pegawai negrinya agar produktif.

    kalo kita tinjau indonesia ini luas tapi yang miskin tambah luas presiden-nya badanya gede tapi sayang otak-e bego…mikir rakyat miskin aja gak mampu apalagi meningkatkan taraf hidup rakyat dasar otak udang

  5. 6 Amalyah Februari 1, 2008 pukul 3:55 pm

    Mbok ya kalo komentar intelek dikit …. jangan tonjolin emosi doang tanpa logika yang jelas langsung hantam kromo kalo SBY itu jelek….
    Kalo dibandingin Mega dan Gus Dur…. jelas bangetlah SBY lebih perform… dari prestasi bursa efek yang nomor 2 di dunia setelah Cina dalam hal tingkat profitabilitas, pemimpin dalam konferensi lingkungan di dunia (KTT Bali… yang mana juga ningkatin pariwisata), Indonesia jadi kembali diperhitungkan dalam perpolitikan internasional (2 kali terpilih jadi anggota DK PBB), dst…

    Mega pas masa kepemimpinannya bilang “saya cape jadi presiden” dan sering gak mengerti kalau disodorkan undang2 strategis… eh sekarang malah mo nyalonin diri lagi…
    Gus Dur… terlalu senang bermain2 di ranah kontroversi tanpa menyentuh permasalahan inti… sehingga akhirnya keblinger

    Btw, gw bukan pembela SBY…. tapi gw cuma pingin supaya bisa lebih objektif dalam melihat sesuatu

  6. 7 halim Februari 2, 2008 pukul 7:24 pm

    Askeskin kan assuransi rakyat miskin. Nah pertanyaan saya siapa yg bayar preminya?? Karena ini pengalaman ortu saya peserta askes yg paksa rela. Kalo saat gajian gakinya langsung dipotong oleh askes. Tapi saat bapk saya saya sakit ingin menggunakan haknya, sulitnya minta ampun. Harus daftar/lapor dulu ke kantor askes terdekat, lalu setelah itu jatah obatnya juga terbatas. Tidak sesuai dengan yg diresepkan oleh dokternya, sehingga akhirnya kami putra putrinya memutuskan untuk tidak memakai askes, dan obat2 kami beli sendiri.
    Nah ini yg asuransi bersifat paksa rela. Gimana denga askin ini??
    Kalo rakyat miskinnya aja ndak bayar preminya, ya jangan haraplah untuk dapat menikmati pelayanan yg memadai.
    Soalnya yg bayar premi aja juga dilayani dengan dipimpong dulu kesan kemari.

  7. 8 anno Februari 17, 2008 pukul 12:43 am

    waduh mas kayaknya kurang membaca dan kurang faham ttg askeskin.

  8. 9 rahman Maret 13, 2008 pukul 4:13 pm

    Apakah Pemeriksaan BNO IVP ditanggung oleh ASKESKIN ?
    Terima Kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: