Stabilisasi Harga dan Persiapan Arus Mudik

Inilah tugas pemerintah setahun sekali pada bulan puasa dan menjelang Idul Fitri yakni menjaga stabilitas harga terutama kebutuhan pokok dan menyiapkan berbagai sarana dan prasarana menyambut arus mudik lebaran. Pengalaman selama bertahun-tahun tentu akan menjadi modal berharga sehingga tidak perlu harus kelabakan. Namun dari tahun ke tahun pula kita melihat kecenderungan kenaikan dari sisi permintaan. Jumlah pemudik misalnya, diperkirakan akan meningkat baik yang menggunakan jasa transportasi darat, laut maupun udara. Termasuk pemudik yang akan menggunakan kendaraan roda dua alias sepeda motor.

Fenomena tahunan ini adalah bagian dari siklus pasar yang tak bisa dihindari. Artinya kalau kemudian ada kenaikan harga hal itu juga harus diterima sebagai kewajaran sebab memang terjadi lonjakan permintaan. Bukan lagi hal yang aneh ketika sebulan sebelum lebaran tiket angkutan umum seperti kereta api dan kapal laut sudah habis dipesan. Percaloan pun marak karena ada yang mencoba-coba mencari keuntungan dalam kesempitan. Bukan hanya habis dipesan, harganya pun meningkat sekitar 50 persen bahkan lebih dari biasanya. Lagi-lagi begitulah hukum pasar sehingga wajar bila pada bulan-bulan seperti ini tekanan inflasi agak terasa.

Meskipun demikian pemerintah tetap perlu mengendalikan. Terutama bagaimana mengatur pasokan dan distribusi bahan-bahan kebutuhan pokok mulai beras, minyak goreng, gula pasir, telur dan sebagainya. Tentu ini demi memberi perlindungan kepada masyarakat kecil yang daya belinya sangat terbatas. Dimungkinkan campur tangan misalkan melalui operasi pasar. Karena biasanya spekulasi ada di tingkat pedagang sehingga kalau tidak dipatahkan lewat pengedropan bahan secara langsung oleh Bulog, harga-harga akan makin tinggi. Cara konvensional seperti itu dianggap masih tetap ampuh untuk menjaga stabilitas harga.

Berkembangnya pola pemasaran yang meluas termasuk usaha-usaha ritel yang makin menjamur di sisi lain juga bisa membantu ketersediaan pasokan. Setidaknyanya sekarang antarpengecer saling bersaing menawarkan harga murah. Kendati sedikit banyak hal itu mulai menggeser peran pasar tradisional namun pada akhirnya lebih banyak membantu terutama dalam masa-masa puncak seperti ini. Memang sudah bukan waktunya lagi apabila pemerintah hanya berkutat pada persoalan stabilisasi harga kebutuhan pokok. Tetapi dalam kenyataan hal seperti itu masih sulit dihindari terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat bawah.

Akan halnya mengenai persiapan arus mudik. Peran pemerintah lewat BUMN masih tetap besar kendati swasta pun sangat diandalkan terutama dalam penyediaan sarana transportasi udara maupun darat. Dalam hal ini sudah bisa diantisipasi lonjakan penumpang setiap tahun sehingga relatif tidak ada masalah. Regulasi yang sudah longgar dalam sektor transportasi bisa menambah ketersediaan fasilitas pada saat mudik lebaran. Hanya saja pemerintah perlu memperhatikan kesiapan fisik jalan raya khususnya di sepanjang jalur pantura yang biasanya paling padat. Beberapa proyek perbaikan jalan dikebut sehingga akan selesai pada saat puncak mudik nanti.

Selain ketersediaan dan kenyamanan satu hal yang tak boleh dilupakan adalah faktor keselamatan. Jangan sampai kondisi yang akan memuncak dan sangat padat ini tidak dikelola semestinya sehingga mengabaikan keselamatan penumpang. Pemerintah sebagai regulator juga harus mampu mengawasi pelaksanaan di lapangan. Pastilah akan muncul kecenderungan aji mumpung dengan berusaha mencari keuntungan besar pada situasi-situasi seperti itu. Oleh karena itu pengawasan penting. Untuk urusan keamanan selama mudik aparat kepolisian biasanya sudah menyiapkan diri sehingga mendukung pula ketertiban dan kelancaran.

 

Suara Merdeka, Sabtu, 15 September 2007

1 Response to “Stabilisasi Harga dan Persiapan Arus Mudik”


  1. 1 syukriy Oktober 7, 2008 pukul 1:28 am

    Dulu, di jaman orde baru, seperti pernah dikatakan Bung Harmoko dalam acara Kick Andy di MetroTV, instabilitas harga kebutuhan pokok bukanlah persoalan pelik. Secara sentralistis, Presiden Soeharto memerintahkan para menterinya untuk menjaga kestabilan harga dan ternyata masyarakat lebih nyaman…
    Sekarang, jaman reformasi adalah jaman demokrasi ala Barat. Apakah konsep demokrasi seperti ini memang cocok diterapkan di Indonesia, dimana mekanisme pasar (harga ditentukan oleh tarik menarik antara permintaan dan penawaran)? Wallahu’alam….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: