Tragedi Atas Nama Demokrasi

Jika masalahnya hanya memperlihatkan kebodohan para pihaknya tentu tak masalah. Tapi, jika tindakan itu membuat energi bangsa ini terbuang sia-sia dan menyeret sebagian dari bangsa ini ke jurang kemunduran tentu Indonesia sangat merugi. Itulah yang sedang dan bakal terjadi dari wacana pengembalian Pancasila sebagai asas tunggal partai-partai politik.

Seperti diberitakan koran ini, tiga fraksi di DPR dari partai besar, yaitu Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat memasukkan masalah ini dalam daftar isian masalah (DIM) untuk dibahas dalam penyusunan paket undang-undang politik. Tentu ini kabar yang sangat menyentak. Ibarat cuaca: Tak mendung, awan cumulus pun tak ada, namun langit dipaksa untuk menurunkan hujan. Dalam kehidupan nyata, tentu itu mustahil, termasuk untuk menciptakan hujan buatan. Tapi dalam politik, semuanya mungkin saja. Harganya pun pasti sangat mahal. Akan ada pemaksaan dan pemerkosaan. Itulah sejatinya represi, tirani, dan fasisme.

Apakah kita harus menuruti saja apa maunya para politisi kita yang terhormat tersebut? Berdemokrasi tanpa memahami apa itu esensi demokrasi akan melahirkan banyak parodi dan ironi. Pasangan demokrasi adalah penghormatan terhadap kebebasan dan kemanusiaan. Dalam politik, kebebasan itu adalah kebebasan dalam berekspresi dan berserikat bagi seluruh warga. Tanpa ada sekat apa pun, termasuk sekat ideologi. Yang menjadi batas hanyalah kemanusiaan.

Dalam mempraktikkan kebebasan tersebut tak boleh ada penistaan dan pelanggaran terhadap kemanusiaan. Karena itulah, dalam kovenan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Sipil dan Politik, soal ini sudah diatur dengan jelas dan tegas. Setiap kebalikannya adalah pelanggaran terhadap demokrasi, yang jika dipaksakan akan terjadi pelanggaran terhadap kemanusiaan. Itulah yang terjadi di masa rezim Orde Baru, yang berhasil kita tumbangkan lewat gerakan reformasi. Sehingga, pemaksaan kembali ke asas tunggal adalah pengkhianatan terhadap reformasi dan mengingatkan kembali ke praktik rezim Soeharto. Semuanya belum terlalu lama untuk kita bisa lupa.

Tentu saja, setiap bangsa memiliki sejarah masing-masing. Jerman dan bangsa-bangsa Barat yang tercabik oleh Nazisme memiliki alasan yang sah untuk melarang ideologi tersebut. Begitu juga Indonesia, yang tiga kali dikhianati oleh PKI, punya hak untuk melarang komunisme. Dengan demikian, demokrasi yang berujung pada penghormatan terhadap pluralisme dan ekspresi tiap individunya memang bisa saja ada batas yang disahkan oleh sejarah dan nilai-nilai yang memiliki akar sosial. Tanpa itu, tak akan ada pluralisme yang kokoh dan berakar.

Pada sisi lain, politik warga harus dibedakan dengan politik negara. Apa yang dikemukakan di atas adalah politik warga. Sedangkan untuk politik negara, kita sudah memiliki dasar negara yang kuat lewat UUD 1945. Di sana kita sudah sepakat mau ke mana dan dengan apa Indonesia disusun dan ditegakkan. Indonesia adalah negara Pancasila. Itulah harga yang tak bisa ditawar. Namun, jangan sampai kita dibuat campur aduk antara politik warga dan politik negara.

Kita khawatir bahwa wacana ini dikemukakan hanya untuk tujuan-tujuan jangka pendek, berupa kepentingan politik sesaat. Misalnya hanya untuk mengerdilkan partai tertentu yang sekarang sedang berkembang pesat. Tentu ini adalah cara-cara yang bodoh dan keblinger. Tak salah jika citra politisi kita terus merosot. Pada sisi lain, kita merindukan hadirnya negarawan. Wacana asas tunggal ini hanya akan melahirkan blessing in disguise kepada publik: Di manakah sarang politisi hitam tersebut.

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan. Karena, saat ini tak ada gejala maupun fakta keras bahwa Pancasila terancam oleh asas partai. Selain itu, nasionalisme bukan sedang tergerus oleh identitas politik. Kita justru sedang menghadapi krisis integritas para pemimpin. Kita merindukan kejujuran, kejuangan, kerja keras, dan kedisiplinan. Itulah hal-hal yang harusnya menjadi kegelisahan para politisi kita.

Republika, Kamis, 20 September 2007

0 Responses to “Tragedi Atas Nama Demokrasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: