Arsip untuk Desember, 2007

Natal Bersama Yang Spektakuler

Di Sumatera Utara berbagai kejadian yang menarik dan penting selalu saja bermula. Termasuk yang barusan saja dilakukan, yaitu Natal Bersama Umat Kristen tahun 2007 yang pada hari Jumat (28/12) diadakan dengan penuh kemeriahan di Stadion Teladan, Medan. Ratusan ribu jemaat umat Kristen hadir dan memadati tempat pelaksanaan ibadah.

Perayaan Natal ini memang sangat spektakuler. Dilihat dari dukungan masing-masing daerah, hampir semua Kepala Daerah di Sumatera Utara memberikan dukungan kepada Panitia bersama yang dibentuk untuk tujuan itu.

Sebagai sebuah acara bersama, perayaan Natal Umat Kristen tersebut tak pelak lagi telah membuat umat Kristen lebih menikmati apa artinya kebersamaan dalam keragaman. Merayakan Natal bersama umat yang selama ini tidak pernah bersama-sama beribadah, menjadikan seluruh umat Kristen lebih memahami mengenai persaudaraan dalam nama Tuhan.

Memang, Sumatera Utara dikenal dengan keberagamannya. Ada banyak keberagaman di daerah ini. Berbagai perbedaan dapat disebutkan, bahkan di antara sesama umat Kristen sendiri. Bukan hanya suku, tetapi juga dari denominasi yang juga beragam. Bahkan jika kita elaborasi lagi, di antara kita ada bermacam suku dengan bahasanya masing-masing.
Maka keberadaan Natal Umat Kristen tersebut menunjukkan kepada seluruh umat, seluruh masyarakat bahkan seluruh masyarakat Sumatera Utara, bahwa umat Kristen, bersama-sama mengerjakan pekerjaan atas nama Tuhan. Benar bahwa umat Kristen memang berasal dari beragam denominasi. Tetapi ketika bekerja untuk merayakan ibadahnya, umat Kristen bisa bersama-sama mengerjakannya.

Dalam konteks inilah kita mengingat kembali ”amanah” rohani dari seorang intelektual Kristen, alm TB Simatupang, yang menjadikan panggilan sebagai orang Kristen sebagai panggilan penting untuk membangun bangsa. Karena itu, dengan Natal Umat Kristen tersebut, umat Kristen dipanggil untuk menjadi teladan. Dalam konteks Sumatera Utara, saling bahu membahu dan menjalin kerjasama, adalah panggilan khusus buat umat Kristen seluruhnya. Semua orang yang melihat cara bersama dan cara beribadah orang Kristen, akan melihat bahwa ternyata terdapat perbedaan. Umat Kristen, dengan cara bekerja dan menjalin hubungan, di mana semua bisa saling bergandengan tangan itulah, maka panggilan dari alm TB Simatupang tadi dapat diwujudkan.

Umat Kristen bukan secara kebetulan ditempatkan oleh Tuhan di tanah ini. Ada rencana yang dibuat dan direncanakan oleh Tuhan untuk dilaksanakan. Rencana itulah yang harus terus menerus diwujudkan secara bersama-sama. Sumatera Utara adalah tempat di mana Tuhan sudah percayakan untuk membangunnya, memeliharanya dan menjadikannya makmur. Umat Kristen harus menjadi berkat di tanah dan negeri di mana Tuhan telah menempatkan mereka.

Memang ada banyak denominasi dan latar belakang, entah itu marga, suku atau entitas apapun itu. Satu yang harus dimiliki, yaitu bahwa bukan ciri khas umat Kristen terpecah-pecah. Bukan tanda bahwa umat Kristen, kalau hanya mengenai hal-hal kecil lalu kita menjadi kehilangan identitas dirinya sendiri. Kita mengharapkan setelah dilangsungkannya Natal Umat Kristen tahun 2007 ini, umat Kristen dapat memperlihatkan kepada umat dan kepada dunia bahwa menjadi Kristen berarti meneladani cara hidup Tuhan yang telah mengasihi dunia ini. Umat Kristen harus meninggalkan semua perbedaan, dan kemudian melayani dunia di mana umat Kristen berada sebagaimana Tuhan sudah tunjukkan caranya yaitu dengan pengorbanan dan dengan kasih. Dengan itu, maka Natal, sebagai makna kebersamaan di Sumatera Utara ini akan menjadi berkat tiada tara. (***)

Martir Demokrasi

Mantan Perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto, tewas ditembak pelaku bom bunuh diri, Kamis (27/12). Tokoh oposisi itu ditembak usai pidato kampanye pemilihan umum di Lapangan Liaqat Bagh, Rawalpindi, Pakistan. Selain Bhutto 20 orang lainnya tewas dan sedikitnya 60 orang luka-luka.

Kematian tragis Bhutto terjadi dua pekan menjelang pelaksanaan pemilihan umum yang ditunggu-tunggu rakyat Pakistan. Pembunuhan politik ini kian membuat krisis politik di Pakistan makin menganga. Selain konflik di tingkat elite politik, kasus ini juga akan memicu konflik di tingkat akar rumput. Sejumlah pendukung militan Bhutto bersumpah akan melakukan aksi balas dendam atas kematian pimpinan Partai Rakyat Pakistan itu. Ini artinya pemilihan umum yang sudah di depan mata, kini terancam gagal. Instabilitas pun mengancam Pakistan.

Ancaman demi ancaman di Pakistan bukan isapan jempol. Dalam kurun waktu tahun 2007 ini terjadi lebih dari 40 serangan bom bunuh diri. Jumlah korban tewas tercatat lebih dari 770 orang. Bhutto bukan tak tahu ancaman-ancaman serius itu. Saat tiba di Karachi, Pakistan, pada 18 Oktober 2007 lalu, setelah delapan tahun di pengasingan, Bhutto pun dalam kondisi terancam. Dua serangan bom bunuh diri menyambut kedatangannnya dari Abu Dhabi. Bhutto selamat dalam tragedi itu, tapi 139 warga terbunuh lewat aksi bom tersebut.

Putri mantan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto itu adalah perempuan pertama yang menjadi perdana menteri di negeri yang kini dipimpin Jenderal Pervez Musharraf itu. Bahkan ia dua kali menjadi perdana menteri pada 1988-1990 dan 1993-1996. Tak heran kalau Benazir Bhutto dijadikan sebagai simbol demokrasi di Pakistan. Simbol itu bukan tanpa alasan. Sarjana yang menguasai bidang ilmu politik, ekonomi, dan filsafat itu dikenal gigih memperjuangkan Pakistan sebagai negara demokrasi.

Memperjuangkan demokrasi memang bukan tanpa risiko. Untuk itu ia tak pernah merasa takut dengan berbagai ancaman yang menyelimutinya. Ia gigih menolak kepemimpinan Jenderal Musharraf yang meraih kekuasaan melalui kudeta. Ia juga menolak tawaran Musharraf untuk berbagi kekuasaan. Bhutto pun menentang keadaan darurat yang ditetapkan Presiden Musharraf. Bahkan Bhutto meminta Musharraf mundur dari kekuasaan.

Pemerintah Pakistan kemudian menetapkan Bhutto dalam tahanan rumah untuk mencegahnya memimpin aksi unjuk rasa. Larangan Musharraf agar Bhutto tidak menggelar kampanye di Rawalpindi, karena alasan keamanan pun diabaikannya. Kita mengutuk kematian tragis Bhutto. Apalagi pembunuhan itu dilakukan dalam rangkaian proses demokrasi mencari figur pemimpin nasional. Kepemimpinan nasional harus diraih dengan cara-cara damai, adil, dan demokratis. Demokrasi memperkenalkan perbedaan pendapat. Namun tidak memberikan tempat bagi ketidakadilan dan kekerasan.

Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru yang justru bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri. Kematian Bhutto menjadi pukulan berat bagi demokrasi. Namun ia menjadi martir bahwa semangat demokrasi tidak akan dapat dipatahkan dengan cara-cara biadab.

Republika, Sabtu, 29 Desember 2007

Membangun Kerukunan Yang Hakiki

Hari ini, Jumat (28/12), umat Kristen di Sumatera Utara akan merayakan Natal bersama yang dipusatkan di Stadion Teladan Medan. Direncanakan lebih seratusribu masyarakat yang akan menghadiri perayaan tersebut berjubel dari berbagai daerah. Dukungan dari berbagai pihak sudah dinyatakan dengan seksama. Demikian juga dengan situasi keamanan yang sudah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian.

Apa makna perayaan Natal bersama tersebut? Tentu sangat banyak. Salah satu misalnya adalah makna kebersamaan dan kerukunan. Kebersamaan di kalangan umat Kristen itu sendiri, dan juga kebersamaan atau kerukunan bagi seluruh elemen masyarakat Sumatera Utara.

Perayaan Natal tersebut melibatkan gereja-gereja yang ada, persatuan marga-marga, paguyuban etnis dan lembaga keumatan Sumatera Utara, maka kebersamaan yang hakiki sudah terimplementasikan. Namun yang tak ketinggalan adalah dukungan dari masyarakat luas.

Dalam konteks semangat kebangsaan, kebersamaan atau kerukunan yang universal amat dibutuhkan. Bangsa ini hanya bisa bangkit dari segala keterpurukannya, hanya bila ada kebersamaan. Demikian juga halnya dengan kebersamaan dalam perayaan natal tersebut. Bagi mereka yang merayakan Natal, harus pula dirajut kebersaman. Demikian juga dengan masyarakat yang berbeda keyakinan. Singkatnya, inter dan antar sesama elemen masyarakat patut, penting dan wajib menjaga semangat kebersamaan.

Kita menyadari, bahwa di tengah masyarakat yang plural, rajutan kerukunan amat penting untuk diwujudnyatakan. Bahkan urgensi kerukunan menjadi salah satu intisari dari pesan Natal yang sesungguhnya. Berangkat dari situasi selama ini, bahwa kita patut mensyukuri bahwa masyarakat Sumatera Utara sangat serius dalam menata kehidupan yang harmonis. Dan itu bisa terwujud manakala ada kesadaran bersama. Hal ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Yang paling penting adalah bersyukur dan mempersiapkan diri.

Terkait dengan keamanan, kita juga berbangga hati dengan peran dan kontribusi masyarakat luas yang berpartisipasi aktif. Sikap toleransi terus terbangun. Perbedaan bukan berarti pertentangan. Kita amat prihatin, ketika pada tahun-tahun yang lalu, banyak kejadian yang sangat memilukan saat Tahun Baru.

Ke depan, hal seperti itu tentunya jangan sampai terulang kembali. Biarlah itu menjadi kenangan masa silam, yang tak perlu terulang kembali. Cukuplah peristiwa menyakitkan tersebut terjadi di masa yang lalu. Hari esok harus kita songsong dengan penuh optimisme dan karya nyata.

Bangsa ini sudah terlalu sering dilanda berbagai macam peristiiwa yang sangat memilukan. Misalnya bom yang meledak di berbagai tempat, khususnya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Karena itu, kita harus mawas diri. Segala potensi harus dimaksimalkan. Peran dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat harus dimaksimalkan.

Dalam konteks inilah, kita berharap pemerintah pada semua tingkatan dan aparat keamanan, jangan sampai lengah. Memang, dalam beberapa waktu terakhir ini, situasi sudah sangat kondusif. Tetapi kewaspadaan harus tetap ditingkatkan. Karena itu perayaan Tahun Baru kali ini jangan sampai melahirkan kegelisahan di hati kita semua.
Memang, kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terus terbangun. Demikian juga kesigapan aparat keamanan yang sudah lebih fokus pada pencegahan dari pada penanganan akibat. Terbukti, perayaan hari-hari besar keagamaan di tahun 2007 ini, dapat berjalan dengan aman. Semuanya bisa berlangsung dengan penuh hikmat dan dalam situasi yang aman tenteram, namun tetap penuh makna.

Namun, disadari bahwa tantangan dalam membangun kebersamaan masih akan terus terjadi. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pengorbanan dan perhatian serius dari kita semua. Semua kita harus memberi kontribusi nyata bagi terwujudnya keinginan bersama itu.

Harapan kita, biarlah tahun 2007 bisa kita lalui dengan penuh kedamaian. Dalam kedamaianalah ada kerukunan yang hakiki. Supaya dengan demikian, ada modal sosial dan teladan dalam mengarungi tahun 2008 nanti. (*)

Sinar Indonesia Baru, 28 Desember 2007

Tak Perlu Anarkis

Kita merasa prihatin setiap kali menyaksikan tindak kekerasan (anarkisme) yang terjadi di antara saudara-saudara kita sebangsa dan senegara. Kekerasan yang seringkali muncul akhir-akhir ini terkait dengan pemilihan kepala daerah (pilkada), eksekusi keputusan pengadilan tentang status tanah, dan munculnya aliran yang dianggap sesat atau adanya kelompok yang dianggap tak sesuai dengan ajaran Islam yang benar.

Dua penyebab anarkisme yang pertama, yaitu kasus pilkada dan eksekusi soal tanah, lebih disebabkan oleh ketidakpuasan sekelompok masyarakat terhadap keputusan pengadilan. Pengadilan di sini bisa aparat hukum dan bisa juga Komisi Pemilihan Umum (KPU pusat dan daerah) dalam kasus sengketa pilkada. Di sinilah dituntut kehati-hatian dan sikap yang bijak dalam keputusan.

Kita menyadari bahwa para hakim dan juga anggota KPU adalah manusia biasa. Mereka bisa salah dan bisa benar. Mereka memiliki kelebihan dan juga banyak kekurangan. Hanya karena posisi dan kedudukannya, mereka mempunyai ‘hak prerogatif’ yang tidak dimiliki orang lain. Hak prerogatif ini semakin penting dan juga sensitif karena menyangkut kepentingan orang lain, kepentingan orang banyak.

Kesalahan keputusan, baik sedikit dan apalagi banyak, akibatnya bisa sangat fatal. Kesalahan itu bisa disengaja dan bisa tidak disengaja. Disengaja apabila keputusan mereka membawa kepentingan diri sendiri dan kelompok. Sedangkan keputusan yang salah namun tak disengaja bisa karena salah menafsirkan hukum dan bukti-bukti yang menguatkannya.

Apa pun, ketetapan Anda sekalian para pengambil keputusan hakim, anggota KPU dan pejabat publik lainnya harus dipertanggungjawabkan. Anda bertanggungjawab kepada masyarakat dan Tuhan Sang Maha Pembalas lagi Maha Kuasa. Kesalahan Anda dalam memutuskan, apalagi yang disengaja, akan dituntut dunia akhirat. Jangan sampai keputusan Anda akan membawa penyesalan seumur hidup.

Di sisi lain, masyarakat juga tidak perlu berbuat anarkis manakala mendapatkan fakta yang tidak memihak kepada mereka. Fakta yang dianggap tidak adil dan merugikan kepentingan mereka. Bahwa keadilan dan kepentingan harus diusahakan dan diperjuangkan kita sangat sepakat dan bahkan mendukungnya. Namun, perjuangan itu tidak perlu dilakukan dengan kekerasan. Perjuangan harus dilakukan dengan cara-cara yang baik, apalagi untuk sebuah tujuan yang baik pula.

Kekerasan yang terjadi seringkali melibatkan sekelompok masyarakat melawan kelompok masyarakat lainnya. Atau sekelompok masyarakat melawan aparat keamanan. Boleh jadi anggota masyarakat atau aparat keamanan yang terlibat bentrok itu adalah tetangga kita. Boleh jadi mereka saudara dan teman-teman kita. Minimal mereka adalah saudara-saudara sebangsa dan setanah-air. Adakah kita rela menyakiti, apalagi menyebabkan kematian pada saudara-saudara kita sendiri?

Untuk itu, marilah kita hindari cara-cara kekerasan, termasuk kepada kelompok masyarakat yang kita anggap melakukan ajaran sesat atau tidak mengikuti ajaran Islam yang benar. Tindak anarkisme yang terjadi pada jamaah Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya akhir-akhir ini sungguh memprihatinkan.

Bahwa aliran sesat dan ajaran yang tidak sesuai dengan Islam yang benar harus dilarang tentu sudah tegas aturannya, termasuk fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kita juga sepakat bahwa aliran sesat dan kelompok menyimpang itu harus diluruskan. Namun, cara meluruskannya tidak boleh dengan anarkisme.

Bukankah setiap umat beragama, terutama umat Islam diajarkan untuk menyebarkan kedamaian? Bukankah setiap kali shalat kita mengakhirinya dengan tebar (mengucapkan) salam kedamaian ke kanan dan ke kiri? Semoga tahun-tahun yang akan datang kita selalu diberkahi dengan kedamaian.

( )

Republika, Senin, 24 Desember 2007

Dengarkan Tuntutan Hak Perempuan

Sejarah telah mencatat bahwa organisasi perempuan di Indonesia mendahului terbentuknya Republik ini. Hanya dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan, persisnya padal 22 Desember 1928, sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Pulau Jawa dan Sumatra menyelenggarakan kongres pertamanya di Yogyakarta.

Tanggal 22 Desember itu kemudian ditetapkan Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1959 sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara nasional. Kalau dihitung, Hari Ibu yang dimulai sejak 22 Desember 1928 itu, kini sudah 79 tahun.

Usia 79 tahun terbilang sudah cukup tua. Tetapi, dalam usia setua itu, patut kita refleksikan kembali apa yang telah dilakukan kaum perempuan Indonesia dan apa yang sudah diberikan bagi mereka.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta seperti dimuat harian ini (SP, 7/12) meresahkan masih terjadinya diskriminasi terhadap perempuan yang dilegalkan melalui produk peraturan dan perundang-undangan di Indonesia. Di sejumlah daerah, misalnya, muncul peraturan daerah (perda) yang mendiskriminasi kaum perempuan.

Bahkan Ketua Komisi Nasional Perempuan, Kamala Chandrakirana, mencatat, terdapat sekitar 45 produk perda di 25 daerah yang diskriminatif terhadap perempuan. Menurut Kamala, perda-perda diskriminatif tersebut bertentangan dengan UUD 1945 sebagai dasar dari pembentukan UU dan peraturan-peraturan.

Meutia pun meminta agar Asosiasi DPRD Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia segera merevisi seluruh perda yang diskriminatif terhadap perempuan. Tuntutan Meutia sebagai menteri yang khusus mewakili kepentingan perempuan, tentulah merupakan suara dan tuntutan perempuan Indonesia.

Seruan itu seharusnya menjadi perhatian semua elemen bangsa, terutama para pemangku kekuasaan. Sebab, sangatlah ironi kalau kita lebih banyak menuntut apa yang perempuan lakukan, tetapi bangsa ini masih mendiskriminasikan mereka Kalau mereka masih mengalami diskriminasi, lalu kapan kesempatann kaum perempuan memberikan kontribusinya. Tetapi, itu pun tidak berarti, perempuan belum memberikan kontribusinya kepada bangsa ini.

Sejarah bahkan mencatat bahwa kaum perempuan telah meletakkan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat yang sejati sejak awal. Sebab, salah satu agenda pokoknya Kongres Perempuan pada 1928 adalah menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik, suku, status sosial, dan agama.

Ketika itu, organisasi seperti Aisyiah, Wanita Katolik, Putri Indonesia, Jong Java bagian Perempuan, Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo, hadir dengan semangat yang sama. Hal itu merupakan bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberagaman) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan dan kesatuan telah tumbuh subur di kalangan tokoh perempuan sejak 79 tahun lalu.

Dalam memperingati Hari Ibu 22 Desember 2007 ini haruslah dimaknai sebagai momen untuk mendengarkan tuntutan kaum perempuan. Adalah suatu kemunduran berbangsa kalau di negeri ini masih terjadi diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Penghapusan diskriminasi itu pun haruslah menyentuh seluruh aspek kehidupan berbangsa. Termasuk dalam memberikan peran politik bagi kaum perempuan menduduki jabatan strategis di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Dalam bidang tenaga kerja, hak-hak perempuan juga harus menjadi perhatian. Perempuan memiliki kemampuan yang tidak kalah, bahkan bisa lebih baik dari kaum pria. Itu telah dibuktikan para tokoh pejuang dari kaum perempuan Indonesia, M Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, RA Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said, dan lain-lain.

Suara Pembaruan, 22 Desember 2007

Kontroversi Putusan MA!

Kita sengaja membikin judul di atas untuk menegaskan betapa kontroversinya putusan Mahkamah Agung soal pemilihan kepala daerah Sulawesi Selatan.

Putusan MA itu merupakan sebuah drama demokrasi di Indonesia. Sebelumnya, KPU Sulsel menetapkan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang sebagai pemenang pilkada. Amin Syam-Mansyur Ramli, yang diajukan Partai Golkar, mengajukan keberatan ke MA. Selisih suara memang tipis: 1.432.572:1.404.910.

MA mengabulkan sebagian permohonan Amin Syam dan memerintahkan KPU Sulsel mengulang pilkada di empat kabupaten. Selain baru pertama kali terjadi dalam sejarah pilkada Indonesia, putusan itu telah melampaui kewenangan hakim agung dalam memutuskan sengketa pilkada dan mengabulkan sesuatu yang tidak diminta (ultra petita) oleh pemohon.

Putusan itu tidak bulat. Hakim agung senior yang sekaligus Ketua Majelis Paulus Effendi Lotulung dan Djoko Sarwoko kalah suara dengan tiga hakim lainnya, Hakim Nyakpa, Mansyur Kartayasa, dan Abdul Manan. Voting dilakukan ketika MA terdesak batas waktu penyelesaian sengketa pilkada yang hanya 14 hari.

Paulus dan Djoko berpendapat, kewenangan MA dalam sengketa pilkada dibatasi UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah maupun Peraturan MA No 6/2005. Undang-undang memberi MA kewenangan untuk membatalkan hasil penghitungan suara yang ditetapkan KPUD dan menetapkan hasil penghitungan suara yang benar. Bukan pilkada ulang!

Namun, tiga hakim lainnya- yang sebelum menjadi hakim berprofesi sebagai dosen, jaksa, dan hakim agama—mempunyai pendapat berbeda. Mereka memutuskan pilkada Sulsel di empat kabupaten diulang dalam waktu tiga hingga enam bulan. Putusan itu melampaui kewenangan yang diberikan undang-undang dan melampaui tuntutan pemohon yang hanya mempersoalkan penghitungan suara di Gowa, Bone, dan Bantaeng. Tetapi dalam putusannya, MA memasukkan juga Tana Toraja.

Putusan itu berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum, memicu eskalasi politik lokal dan tentunya mempunyai konsekuensi biaya. Problem lainnya adalah akan berakhirnya tugas KPU Sulsel pada Mei 2008.

Dari sisi prosedur, memang putusan MA bersifat final dan mengikat. Namun, UU MA memberi tempat untuk melakukan peninjauan kembali jika memang terjadi kesalahan nyata dalam putusan sebelumnya. Preseden soal itu sudah ada. MA pernah membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Jawa Barat yang memenangkan Badrul Kamal sebagai Wali Kota Depok. Putusan PT Jawa Barat itu dikoreksi MA dan MA kemudian memenangkan Nur Mahmudi Ismail sebagai Wali Kota Depok.

Mengacu pada kasus Depok, peninjauan kembali merupakan salah satu langkah hukum yang perlu dipikirkan. Namun, yang perlu disadari dari drama demokrasi itu adalah bahwa pada akhirnya kekuasaan seharusnya bukanlah tujuan akhir. Kekuasaan adalah alat pengabdian dan pengabdian itu bisa dilakukan di mana saja!

Kompas, Sabtu, 22 Desember 2007

Kemelut Malaysia

Setelah kerusuhan rasial pada 1969, Malaysia belajar banyak tentang cara mengelola perbedaan dan ekonomi. Pemerintahnya mendorong kemajuan puak Melayu yang terbakar cemburu karena tertinggal secara ekonomi dan sosial sekaligus berusaha menjaga perasaan etnis lain yang lebih maju.

Maka, pada rentang yang cukup panjang, tak ada tempat di negeri itu bagi isu-isu yang menyerang etnis. Media-media massa menjadi cermin betapa hal ini sangat terkontrol. Dan, di sisi lain, pemerintah berusaha mengangkat etnis Melayu melalui kebijakan-kebijakan dalam kerangka ”affirmative action” di bidang pendidikan, pekerjaan, dan bisnis.

Hasilnya, dalam perspektif kita yang cukup menikmati kebebasan saat ini, adalah Malaysia yang serbaketat, terpusat, dan represif. Dalam kepemimpinan yang lebih kuat dan bersih dibanding negeri kita, negeri tetangga ini kemudian menikmati pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran. Etnis Melayu menikmati pula kemajuan itu. Namun, target kebijakan belum tercapai. Pemerintah Malaysia menginginkan kaum Melayu yang jumlahnya lebih dari separuh warga Malaysia mengambil 30 persen peran ekonomi pada 2020 dari posisi saat ini 19 persen. Etnis Cina sekarang masih dominan. Dengan komposisi 25 persen, mereka menguasai 40 persen perekonomian Malaysia.

Isu etnis pun tetap bagai bara dalam sekam. Api akhirnya meletup dari etnis India yang tak terakomodasi dalam kerangka ”affirmative action” sekalipun bukan juga penikmat utama kemajuan. Saat pertumbuhan melambat, keterpinggiran kian mereka rasakan. Dan, kini mereka membawa PM Abdullah Ahmad Badawi pada situasi panas yang melebar pada isu lebih besar tentang demokrasi.

Sekadar angka pertumbuhan ternyata tak lagi memadai. Kendati pemerintah kian bersikap keras, aksi-aksi menuntut keadilan ekonomi sekaligus kesejahteraan politik bukannya padam. Kaum oposisi bagai mendapat amunisi untuk melepaskan kejengkelan mereka selama ini atas dominasi gabungan partai berkuasa dalam Barisan Nasional. Tokoh-tokoh seperti Anwar Ibrahim mendapat panggung kendati sempat harus menerima penahanan.

Ini situasi kritis bagi Malaysia. Aspirasi-aspirasi yang dulu terpendam antara lain, dalam ruang-ruang rapat redaksi media massa kini dengan mudah mendapatkan jalan keluar melalui internet. Blog-blog menjadi kekuatan baru; hal yang membuat cemas pemerintah karena tidak saja memberi ruang kebebasan, melainkan juga keefektifan jaringan. Saat ledakan terjadi, Pemerintah Malaysia menangkapi para tokoh oposisi.

Kita tak dapat mencampuri urusan dalam negeri mereka. Tapi, kita dapat belajar bahwa kemajuan ekonomi memerlukan fondasi sosial yang kuat. Sekadar angka pertumbuhan ekonomi takkan bermakna tanpa tercapainya rasa keadilan; bagi siapa pun, bagi kelompok manapun. Apalagi bagi kita. Saat kemakmuran masih menjadi angan, ketidakadilan adalah bara yang dapat membakar apa pun setiap saat.

Republika, Rabu, 12 Desember 2007


Blog Stats

  • 791,657 hits
Desember 2007
S S R K J S M
« Sep   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.