Kemelut Malaysia

Setelah kerusuhan rasial pada 1969, Malaysia belajar banyak tentang cara mengelola perbedaan dan ekonomi. Pemerintahnya mendorong kemajuan puak Melayu yang terbakar cemburu karena tertinggal secara ekonomi dan sosial sekaligus berusaha menjaga perasaan etnis lain yang lebih maju.

Maka, pada rentang yang cukup panjang, tak ada tempat di negeri itu bagi isu-isu yang menyerang etnis. Media-media massa menjadi cermin betapa hal ini sangat terkontrol. Dan, di sisi lain, pemerintah berusaha mengangkat etnis Melayu melalui kebijakan-kebijakan dalam kerangka ”affirmative action” di bidang pendidikan, pekerjaan, dan bisnis.

Hasilnya, dalam perspektif kita yang cukup menikmati kebebasan saat ini, adalah Malaysia yang serbaketat, terpusat, dan represif. Dalam kepemimpinan yang lebih kuat dan bersih dibanding negeri kita, negeri tetangga ini kemudian menikmati pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran. Etnis Melayu menikmati pula kemajuan itu. Namun, target kebijakan belum tercapai. Pemerintah Malaysia menginginkan kaum Melayu yang jumlahnya lebih dari separuh warga Malaysia mengambil 30 persen peran ekonomi pada 2020 dari posisi saat ini 19 persen. Etnis Cina sekarang masih dominan. Dengan komposisi 25 persen, mereka menguasai 40 persen perekonomian Malaysia.

Isu etnis pun tetap bagai bara dalam sekam. Api akhirnya meletup dari etnis India yang tak terakomodasi dalam kerangka ”affirmative action” sekalipun bukan juga penikmat utama kemajuan. Saat pertumbuhan melambat, keterpinggiran kian mereka rasakan. Dan, kini mereka membawa PM Abdullah Ahmad Badawi pada situasi panas yang melebar pada isu lebih besar tentang demokrasi.

Sekadar angka pertumbuhan ternyata tak lagi memadai. Kendati pemerintah kian bersikap keras, aksi-aksi menuntut keadilan ekonomi sekaligus kesejahteraan politik bukannya padam. Kaum oposisi bagai mendapat amunisi untuk melepaskan kejengkelan mereka selama ini atas dominasi gabungan partai berkuasa dalam Barisan Nasional. Tokoh-tokoh seperti Anwar Ibrahim mendapat panggung kendati sempat harus menerima penahanan.

Ini situasi kritis bagi Malaysia. Aspirasi-aspirasi yang dulu terpendam antara lain, dalam ruang-ruang rapat redaksi media massa kini dengan mudah mendapatkan jalan keluar melalui internet. Blog-blog menjadi kekuatan baru; hal yang membuat cemas pemerintah karena tidak saja memberi ruang kebebasan, melainkan juga keefektifan jaringan. Saat ledakan terjadi, Pemerintah Malaysia menangkapi para tokoh oposisi.

Kita tak dapat mencampuri urusan dalam negeri mereka. Tapi, kita dapat belajar bahwa kemajuan ekonomi memerlukan fondasi sosial yang kuat. Sekadar angka pertumbuhan ekonomi takkan bermakna tanpa tercapainya rasa keadilan; bagi siapa pun, bagi kelompok manapun. Apalagi bagi kita. Saat kemakmuran masih menjadi angan, ketidakadilan adalah bara yang dapat membakar apa pun setiap saat.

Republika, Rabu, 12 Desember 2007

0 Responses to “Kemelut Malaysia”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Desember 2007
S S R K J S M
« Sep   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: