Arsip untuk Desember 29th, 2007

Natal Bersama Yang Spektakuler

Di Sumatera Utara berbagai kejadian yang menarik dan penting selalu saja bermula. Termasuk yang barusan saja dilakukan, yaitu Natal Bersama Umat Kristen tahun 2007 yang pada hari Jumat (28/12) diadakan dengan penuh kemeriahan di Stadion Teladan, Medan. Ratusan ribu jemaat umat Kristen hadir dan memadati tempat pelaksanaan ibadah.

Perayaan Natal ini memang sangat spektakuler. Dilihat dari dukungan masing-masing daerah, hampir semua Kepala Daerah di Sumatera Utara memberikan dukungan kepada Panitia bersama yang dibentuk untuk tujuan itu.

Sebagai sebuah acara bersama, perayaan Natal Umat Kristen tersebut tak pelak lagi telah membuat umat Kristen lebih menikmati apa artinya kebersamaan dalam keragaman. Merayakan Natal bersama umat yang selama ini tidak pernah bersama-sama beribadah, menjadikan seluruh umat Kristen lebih memahami mengenai persaudaraan dalam nama Tuhan.

Memang, Sumatera Utara dikenal dengan keberagamannya. Ada banyak keberagaman di daerah ini. Berbagai perbedaan dapat disebutkan, bahkan di antara sesama umat Kristen sendiri. Bukan hanya suku, tetapi juga dari denominasi yang juga beragam. Bahkan jika kita elaborasi lagi, di antara kita ada bermacam suku dengan bahasanya masing-masing.
Maka keberadaan Natal Umat Kristen tersebut menunjukkan kepada seluruh umat, seluruh masyarakat bahkan seluruh masyarakat Sumatera Utara, bahwa umat Kristen, bersama-sama mengerjakan pekerjaan atas nama Tuhan. Benar bahwa umat Kristen memang berasal dari beragam denominasi. Tetapi ketika bekerja untuk merayakan ibadahnya, umat Kristen bisa bersama-sama mengerjakannya.

Dalam konteks inilah kita mengingat kembali ”amanah” rohani dari seorang intelektual Kristen, alm TB Simatupang, yang menjadikan panggilan sebagai orang Kristen sebagai panggilan penting untuk membangun bangsa. Karena itu, dengan Natal Umat Kristen tersebut, umat Kristen dipanggil untuk menjadi teladan. Dalam konteks Sumatera Utara, saling bahu membahu dan menjalin kerjasama, adalah panggilan khusus buat umat Kristen seluruhnya. Semua orang yang melihat cara bersama dan cara beribadah orang Kristen, akan melihat bahwa ternyata terdapat perbedaan. Umat Kristen, dengan cara bekerja dan menjalin hubungan, di mana semua bisa saling bergandengan tangan itulah, maka panggilan dari alm TB Simatupang tadi dapat diwujudkan.

Umat Kristen bukan secara kebetulan ditempatkan oleh Tuhan di tanah ini. Ada rencana yang dibuat dan direncanakan oleh Tuhan untuk dilaksanakan. Rencana itulah yang harus terus menerus diwujudkan secara bersama-sama. Sumatera Utara adalah tempat di mana Tuhan sudah percayakan untuk membangunnya, memeliharanya dan menjadikannya makmur. Umat Kristen harus menjadi berkat di tanah dan negeri di mana Tuhan telah menempatkan mereka.

Memang ada banyak denominasi dan latar belakang, entah itu marga, suku atau entitas apapun itu. Satu yang harus dimiliki, yaitu bahwa bukan ciri khas umat Kristen terpecah-pecah. Bukan tanda bahwa umat Kristen, kalau hanya mengenai hal-hal kecil lalu kita menjadi kehilangan identitas dirinya sendiri. Kita mengharapkan setelah dilangsungkannya Natal Umat Kristen tahun 2007 ini, umat Kristen dapat memperlihatkan kepada umat dan kepada dunia bahwa menjadi Kristen berarti meneladani cara hidup Tuhan yang telah mengasihi dunia ini. Umat Kristen harus meninggalkan semua perbedaan, dan kemudian melayani dunia di mana umat Kristen berada sebagaimana Tuhan sudah tunjukkan caranya yaitu dengan pengorbanan dan dengan kasih. Dengan itu, maka Natal, sebagai makna kebersamaan di Sumatera Utara ini akan menjadi berkat tiada tara. (***)

Iklan

Martir Demokrasi

Mantan Perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto, tewas ditembak pelaku bom bunuh diri, Kamis (27/12). Tokoh oposisi itu ditembak usai pidato kampanye pemilihan umum di Lapangan Liaqat Bagh, Rawalpindi, Pakistan. Selain Bhutto 20 orang lainnya tewas dan sedikitnya 60 orang luka-luka.

Kematian tragis Bhutto terjadi dua pekan menjelang pelaksanaan pemilihan umum yang ditunggu-tunggu rakyat Pakistan. Pembunuhan politik ini kian membuat krisis politik di Pakistan makin menganga. Selain konflik di tingkat elite politik, kasus ini juga akan memicu konflik di tingkat akar rumput. Sejumlah pendukung militan Bhutto bersumpah akan melakukan aksi balas dendam atas kematian pimpinan Partai Rakyat Pakistan itu. Ini artinya pemilihan umum yang sudah di depan mata, kini terancam gagal. Instabilitas pun mengancam Pakistan.

Ancaman demi ancaman di Pakistan bukan isapan jempol. Dalam kurun waktu tahun 2007 ini terjadi lebih dari 40 serangan bom bunuh diri. Jumlah korban tewas tercatat lebih dari 770 orang. Bhutto bukan tak tahu ancaman-ancaman serius itu. Saat tiba di Karachi, Pakistan, pada 18 Oktober 2007 lalu, setelah delapan tahun di pengasingan, Bhutto pun dalam kondisi terancam. Dua serangan bom bunuh diri menyambut kedatangannnya dari Abu Dhabi. Bhutto selamat dalam tragedi itu, tapi 139 warga terbunuh lewat aksi bom tersebut.

Putri mantan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto itu adalah perempuan pertama yang menjadi perdana menteri di negeri yang kini dipimpin Jenderal Pervez Musharraf itu. Bahkan ia dua kali menjadi perdana menteri pada 1988-1990 dan 1993-1996. Tak heran kalau Benazir Bhutto dijadikan sebagai simbol demokrasi di Pakistan. Simbol itu bukan tanpa alasan. Sarjana yang menguasai bidang ilmu politik, ekonomi, dan filsafat itu dikenal gigih memperjuangkan Pakistan sebagai negara demokrasi.

Memperjuangkan demokrasi memang bukan tanpa risiko. Untuk itu ia tak pernah merasa takut dengan berbagai ancaman yang menyelimutinya. Ia gigih menolak kepemimpinan Jenderal Musharraf yang meraih kekuasaan melalui kudeta. Ia juga menolak tawaran Musharraf untuk berbagi kekuasaan. Bhutto pun menentang keadaan darurat yang ditetapkan Presiden Musharraf. Bahkan Bhutto meminta Musharraf mundur dari kekuasaan.

Pemerintah Pakistan kemudian menetapkan Bhutto dalam tahanan rumah untuk mencegahnya memimpin aksi unjuk rasa. Larangan Musharraf agar Bhutto tidak menggelar kampanye di Rawalpindi, karena alasan keamanan pun diabaikannya. Kita mengutuk kematian tragis Bhutto. Apalagi pembunuhan itu dilakukan dalam rangkaian proses demokrasi mencari figur pemimpin nasional. Kepemimpinan nasional harus diraih dengan cara-cara damai, adil, dan demokratis. Demokrasi memperkenalkan perbedaan pendapat. Namun tidak memberikan tempat bagi ketidakadilan dan kekerasan.

Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru yang justru bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri. Kematian Bhutto menjadi pukulan berat bagi demokrasi. Namun ia menjadi martir bahwa semangat demokrasi tidak akan dapat dipatahkan dengan cara-cara biadab.

Republika, Sabtu, 29 Desember 2007


Blog Stats

  • 815,807 hits
Desember 2007
S S R K J S M
« Sep   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Iklan