Ke Mana Saja?

Sejak beberapa tahun terakhir ini, kita sudah mendengar ‘berita kecil’ tentang banjir di sejumlah titik di beberapa kabupaten yang dilintasi Bengawan Solo. Sejumlah rumah tergenang, juga sawah terendam. Rupanya berita itu tak cukup menggerakkan para pihak yang bertanggung jawab untuk mawas diri. Akibatnya, kini, beberapa kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur dilibas banjir. Tak hanya terkena luapan sesaat.

Lebih dari 50 persen wilayah di Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Solo, Sukoharjo, dan Sragen terlimpas banjir. Bengawan Solo adalah sungai terpanjang (540 km) dan terbesar di Jawa. Sudah lebih dari 100 orang yang meninggal akibat banjir tahun ini. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan kejadian tahun ini: Pendangkalan sungai dan waduk, pembabatan hutan, dan curah hujan yang tinggi. Kombinasi tiga hal inilah yang berujung pada musibah.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dan menyeluruh dari pemerintah tentang musibah ini. Kita berharap bahwa pemerintah masih cukup memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada rakyat. Jika hingga kini belum ada penjelasan, kita berpikir positif saja bahwa pemerintah masih sibuk melakukan langkah yang lebih utama, yaitu menolong para korban. Hingga kini, masih ribuan penduduk yang masih menunggu pertolongan untuk segera dievakuasi ke tempat-tempat penampungan sementara. Mereka tinggal di atap-atap rumah atau di tempat-tempat yang tinggi. Mereka terisolasi. Mereka kedinginan, kelaparan, dan butuh bantuan kesehatan segera. Para sukarelawan, donatur, dan juga pemerintah bahu-membahu memberikan pertolongan.

Alhamdulillah, atmosfer untuk mencari siapa yang salah tak lagi mendominasi wacana di awal bencana. Walau bagaimanapun, melakukan langkah penyelamatan adalah yang paling utama. Namun, kita tak boleh kehilangan daya kritis. Karena birokrasi kita belum banyak berubah, mentalitas aparat kita masih sedikit beranjak, dan kehidupan politik kita belum berorientasi ke publik. Terbukti, bencana yang datang silih berganti tak cukup menjadi pelajaran. Sehingga, bencana selalu berulang dan tinggal menunggu giliran dan bentuknya saja.

Untuk itulah, kita harus tetap kuat bersuara lantang dan menggonggongi pemerintah agar tak bebal dan tak lancung. Bencana yang terjadi di sepanjang Bengawan Solo tak boleh dibiarkan untuk ditimpakan pada curah hujan yang tinggi akibat perubahan iklim global. Karena, di sana ada pendangkalan sungai dan waduk serta penggundulan hutan. Artinya, pemerintah tak bekerja dengan baik dan benar. Kita harus menggugat bupati, wali kota, gubernur, dan polisi yang membiarkan hutannya digunduli.

Kita juga harus menggugat Departemen Pekerjaan Umum yang tak segera mengeruk waduk-waduk yang dangkal. Ke mana saja mereka selama ini? Kita menuntut KPK, BPK, BPKP, Polri, dan Kejaksaan Agung untuk segera mengaudit dan menyelidiki penggunaan anggaran di sekitar masalah ini. Jika kita bisa mengambil pelajaran dari kasus ini, insya Allah Indonesia bisa menjadi negara yang maju. Contoh paling nyata ditunjukkan oleh Korea Selatan.

Di saat mereka lepas dari perang saudara, kondisinya jauh lebih miskin dari Indonesia. Namun, titik baliknya bukan pada berakhirnya perang saudara. Banjir yang melanda negeri ginseng itulah yang memantik hati Park Chung-hee dalam membangkitkan rakyat Korea untuk berubah. Dari banjir itu, alam memperlihatkan pada pemimpin Korea tentang kondisi perdesaan dan masyarakatnya yang miskin, terbelakang, tak berpendidikan, dan tak memiliki fasilitas untuk maju.

Maka, melalui saemaul undong, Park memajukan Korea dengan dimulai dari desa. Bukan seperti Indonesia yang dimulai dan berpusat di kota. Kini, Korea jauh lebih maju dari Indonesia. Kita harus bertekad bahwa mengamuknya Bengawan Solo ini menjadi pertanda bagi kebangkitan Indonesia. Tentu harus dimulai dari kejujuran kita tentang penyebab musibah ini. Gejala alam ini akan menjadi tabir pembuka jika kita bisa mengambil hikmahnya. Jika suatu saat kita ditanya ”ke mana saja” selama ini maka kita bisa dengan percaya diri menjawab, ”kami di sini, di tanah ini, Indonesia”.

Republika, Kamis, 03 Januari 2008

0 Responses to “Ke Mana Saja?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: