Biaya Pengobatan Mantan Presiden

BIROKRASI yang melayani, bukan dilayani, jelas masih jauh dari kenyataan. Bersikap proaktif, bukan reaktif, itu pun baru sebatas harapan.

Kesimpulan itu ditarik bukan karena buruknya pelayanan kepada publik, yang menyangkut hajat hidup orang banyak, melainkan justru dari pelayanan kepada elite, bahkan superelite. Jika perlakuan birokrasi kepada mantan presiden saja bersifat menunggu, reaktif, apalagi terhadap rakyat biasa. Jauh panggang dari api!

Undang-undang mengatakan bahwa kepada bekas presiden dan wakil presiden diberikan seluruh biaya perawatan kesehatan dan keluarga. Tetapi faktanya negara belum pernah membayar pengobatan Pak Harto. Pak Harto ternyata menanggung sendiri biaya pengobatannya. Dan, pemerintah tenang-tenang saja, seakan menganggap itu bukan kewajibannya.

Pemerintah berlindung di belakang prosedur, di belakang mekanisme klaim biaya pengobatan, yang sebenarnya juga dibuat sendiri oleh pemerintah. Yaitu, klaim harus diajukan kepada Sekretariat Negara untuk selanjutnya disampaikan kepada Departemen Keuangan.

Dengan kata lain, sang mantan presiden yang sakit itu harus membayar dulu biaya pengobatannya, baru kemudian di-reimburse. Prinsipnya, pemerintah bersikap pasif, menunggu, sekalipun jelas perintah undang-undang bahwa biaya pengobatan mantan presiden ditanggung negara.

Jadi, untuk sekaliber seorang mantan presiden sekalipun, harus punya banyak uang atau asuransi sendiri untuk menghadapi kemungkinan terburuk berkaitan dengan kesehatannya. Tidak ada jaminan bahwa yang bagus tertera di dalam undang-undang, sebagus itulah pula dalam kenyataan. Maka, dapatlah dibayangkan betapa rapuh dan runyamnya nasib rakyat biasa.

Birokrasi dapat dibuat begitu rupa sampai-sampai melumpuhkan undang-undang. Apa sulitnya bagi pemerintah, yaitu Sekretariat Negara, untuk berwatak proaktif membayar biaya pengobatan mantan presiden? Apalagi, dalam kasus Pak Harto, perawatan dilakukan di dalam negeri, bahkan di rumah sakit milik BUMN.

Letak persoalan memang pada kultur pemerintah yang masih sama saja. Kultur dilayani, bukan melayani. Kultur pasif, bukan proaktif. Kultur yang berorientasi kepada yang sedang berkuasa. Setelah mantan? Egepe, emang gue pikirin….

Atau, yang hendak ditegakkan barangkali yang sebaliknya, yaitu birokrasi yang adil, yang sama rata, yang tidak pandang bulu. Mantan presiden pun harus mengurus sendiri biaya pengobatannya.

Hari memang berganti, setelah siang, malam pun tiba. Roda kehidupan berputar, yang di atas suatu ketika turun ke bawah. Tidak selamanya menjadi presiden, ada saatnya menjadi rakyat biasa. Dunia yang kontras pun terbentang. Ketika menjadi presiden, rakyat disuruh minggir di jalan raya karena presiden mau lewat. Setelah mantan, sakit pula, uruslah dulu sendiri biaya pengobatan, baru klaim kepada pemerintah. Kalau meninggal, barulah negara proaktif mengurus pemakamannya.

Birokrasi jelas harus direformasi. Bahkan, perlu dipikirkan untuk ganti darah segar. Birokrat lama dipensiun dini saja, digantikan dengan kalangan muda yang lebih dulu ditempa dengan kultur baru, kultur melayani dengan sigap dan cepat tanpa melakukan pungutan liar sepeser pun.

Negara ini memerlukan jenis birokrat baru, yang bersih, proaktif, profesional, yang dapat menggerakkan mesin pelayanan secara efisien dan efektif tanpa terpengaruh dengan siapa pun yang sedang berkuasa. Termasuk di dalamnya, berani membuat terobosan menjemput bola.

Media Indonesia, 15 Januari 2008

0 Responses to “Biaya Pengobatan Mantan Presiden”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: