Menanti Bukti Ahmadiyah

Pengurus Besar (PB) Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) kemarin mengeluarkan 12 butir pernyataan untuk menjawab tuduhan sesat terhadap mereka. Beberapa persoalan inti yang selama ini kontroversial termaktub dalam pernyataan itu, seperti soal ”kenabian” Mirza Ghulam Ahmad, ”kekitabsucian” Tadzkirah, dan keeksklusifan masjid dan ibadah mereka.Kedua belas butir pernyataan adalah hasil rumusan setelah serangkaian pertemuan antara JAI dan pemerintah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengeluarkan fatwa sesat dan ormas-ormas Islam yang berkepentingan dengan kelurusan Islam para anggotanya tak terlibat dalam pertemuan tersebut.

Amir JAI mengawali pernyataannya kemarin dengan syahadatain, dua kalimat syahadat, untuk menunjukkan keislaman. Ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah khatamun nabiyyin, nabi penutup; sedangkan Mirza Ghulam Ahmad adalah mursyid atau guru. Ia juga menyebut Alquran sebagai kitab suci, sedangkan Tadzkirah hanyalah catatan pengalaman rohani Mirza Ghulam Ahmad. Masjid-masjid Ahmadiyah juga membuka diri bagi umat lain untuk beribadah.

Badan Koordinasi Pengkaji Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) menggelar rapat sejam setelah pernyataan JAI. Hasil rapat memberikan kesempatan kepada JAI untuk membuktikan penerapan ke-12 butir pernyataan. Melihat pernyataan Bakorpakem dan sikap pemerintah, tampaknya Ahmadiyah lulus ”ujian” dan dapat meneruskan kegiatan mereka di Indonesia.

Namun, sejumlah hal masih mengganggu ormas-ormas Islam, termasuk MUI. Beberapa butir pernyataan JAI tampak bersayap. Soal kitab suci, misalnya, mereka menyatakan tidak ada wahyu syariat setelah Alquran. Apakah dengan demikian ada wahyu bukan syariat? MUI kemudian menilai bahwa Ahmadiyah masih meyakini adanya nabi yang tidak membawa syariat. Jadi, Ahmadiyah baru sebatas bermain retorika.

Pernyataan JAI memang tidak mampu menjawab berbagai hal yang mengusik pikiran umat Islam. Pemerintah, misalnya, lewat Kepala Badan Litbang dan Diklat Depag, menilai JAI ”telah kembali ke jalan yang benar”. Sementara, JAI dalam pernyataan kemarin justru menyatakan bahwa mereka selama ini disalahpahami. Bukankah dengan demikian sebenarnya mereka tidak pernah berubah keyakinan?

Di negara lain, Ahmadiyah dilarang atau tidak menyebut diri Islam. Rabithah Alam Islami sejak puluhan tahun lalu menyatakan Ahmadiyah sesat dari Islam. Apakah JAI mengajarkan hal yang berbeda dari ajaran Ahmadiyah di negara lain? Mengapa JAI tidak secara tegas mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi?

Pernyataan JAI maupun Bakorpakem akan sulit mengubah situasi di akar rumput. Di tingkat pusat saja, JAI dan pemerintah tidak melibatkan ormas-ormas Islam dalam pernyataan mereka. Bakorpakem bahkan mengabaikan pendapat MUI saat menggelar rapat yang ”meluluskan” Ahmadiyah kemarin. JAI harus membuktikan kelurusan mereka. Dan waktu tiga bulan sebenarnya takkan cukup.

Republika, Rabu, 16 Januari 2008

0 Responses to “Menanti Bukti Ahmadiyah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: