Beberapa Jenderal Terancam Penjara

Beberapa jenderal baik dari angkatan darat (AD) maupun dari kepolisian kini sedang bergelut dengan masalah, terutama terkait dengan sangkaan korupsi dan bahkan sudah ada yang masuk penjara. Keterlibatan beberapa jenderal dalam berbagai masalah seperti itu mungkin bisa dipandang kejadian biasa saja karena siapa pun dan dari mana pun datangnya bisa terlibat. Mereka terlibat dalam pengadaan dan perdagangan senjata gelap, kayu gelap, beking judi, perdagangan obat dan narkotika, tindak korupsi sewaktu menjabat di pemerintahan dan lain-lain. Karena negeri ini setiap orang sama kedudukannya di depan hukum, maka sebenarnya wajar saja mereka juga ditindak.

Tetapi, ketika kita menyaksikan Jenderal Polisi (Purn) Rusdihardjo masuk sel dalam keadaan sakit dengan jalan tertatih-tatih ada tentu menimbulkan pertanyaan yang menyelinap. Seorang jenderal yang masuk sel bukan karena perang sungguh sebuah pemandangan yang tidak seharusnya. Seorang jenderal tentu saja memiliki performa fisik yang gagah, bervisi kenegaraan dan telah teruji benar kesetiaannya pada negara, pernah berada dalam suatu posisi sebagai orang nomor satu di jajarannya, dan lain-lain. Yang pasti, menjadi jenderal jelas bukan sembarang orang karena pastilah telah teruji kepasitas dan kapabilitas profesionalnya. Di antara ribuan prajurit hanya sedikit saja yang bisa meraih bintang.

Di negeri ini di mana peta politik sudah sedemikian terpolarisasi dengan banyaknya partai politik juga sangat bisa menggoda para jenderal. Mereka yang sudah memasuki tahapan pensiun tidak bisa merelakan dirinya yang masih sangat sehat fisik dan mentalnya hanya untuk duduk-duduk di rumah menunggui anak-anak dan cucu-cucu. Mereka tetap berkeinginan untuk mengabdi kepada negara dengan cara aktif masuk di partai-partai politik. Maka, tidak mengherankan manakala di Partai Golkar,PAN, PKB, Demokrat, PDI-P, dan lain-lain banyak bertebaran bintang-bintang. Tidak ada yang salah, tetapi arah angin yang berubah bisa saja menerpa setiap saat dengan segala konsekuensinya.

Masih untung mereka bisa aktif di partai untuk mengembangkan kemampuan berpolitik dan meneruskan tugas kebangsaannya, tetapi juga sekaligus mendapatkan “perlindungan” dari partai manakala masih memiliki masalah di masa lalunya.. Sedangkan mereka yang berada di luar partai sekaligus terputus juga jaringan dengan kawan-kawannya, dan tidak pula memiliki “koneksi” di partai-partai sangat mungkin tergelincir karena praktis tidak ada yang “membela”. Kini kita menyaksikan hal tersebut secara gamblang di depan mata. Letjen TNI (Purn) Hari Sabarno yang sedang “diincar” KPK dibiarkan sendiri, demikian juga Jenderal Pol (Purn) Rusdihardjo hampir tanpa pembelaan sama sekali termasuk dari korpnya.

Ketika mengulas masalah tersebut kita tidak sedang dalam posisi membela mereka itu, tetapi sesungguhnya sedang mempertanyakan sesuatu yang sepertinya berlangsung secara tidak fair. Karena ternyata masih banyak mereka yang bersalah tetapi belum tersentuh hukum karena mendapatkan “perlindungan” atau “dilindungi” secara istimewa. Satu dua tampaknya sengaja dikorbankan karena diyakini tidak memiliki jalur khusus, jaringan istimewa, tidak memiliki barisan panjang di belakangnya, atau untuk menunjukkan bahwa jenderal pun bisa disentuh hukum. Tetapi, masyarakat pun memahami bahwa jika mereka sampai masuk sel itu pertanda tidak memiliki “pelindung” yang kuat !

Seringkali terhadap mereka yang sedang diperiksa meski pun masih berstatus sebagai saksi telah dikesankan seolah-olah terlibat dalam tindak pidana tertentu, korupsi misalnya. Padahal pelaku tindak pidana tertentu itu meski pun sudah berstatus terdakwa pun posisi bisa berubah ketika pengadilan tidak bisa membuktikan apa yang dituduhkan kepadanya. Untuk itu tidaklah perlu masyarakat terlalu dini memvonis, termasuk terhadap Rusdihardjo. Dia sudah sedemikian tertekan masih harus “dikepung” kanan kiri oleh berbagai pernyataan politisi yang mempertanyakan masalah tempat penahanan. Biarkanlah proses hukum berjalan, jangan mengadili terlalu jauh sehingga melampui tugas-tugas pengadilan.

Suara Merdeka, Rabu, 23 Januari 2008

1 Response to “Beberapa Jenderal Terancam Penjara”


  1. 1 halim Januari 28, 2008 pukul 8:11 am

    Pak Rusdiharjo ini kan lagi beracting seperti rekan2nya yg berususan dengan hukum.Actingnya ya sakit/ringkih dst. Padahal dia ini aktivis offroad lho. Saya pernah lihat betapa gagah tampilannya saat offroad di daerah Jabar, Sukabumi Selatan.
    Kawasan hukum dinegeri ini adalah serius unt kalangan menengah kebawah, dan dagelan unt kalangan atas (pengusaha,pejabat dan elit parpol termasuk mantan2nya).
    Jadi ya kita lihat sajalah apa maunya hukum terhadap mereka.
    Kalau dibilang tidak bantuan dari korpsnya?? ya tidak jugalah. Kan sekarang unt pati polri kalau harus ditahan ya di Klapa Dua yg enak dan sip. Lihat aja pati bintang tiga yg sudah di vonis pengadilan, apa dia dihunikan di LP?? kan tidak, mereka dikost kan di Klapa Dua dan bebas jalan2 dikomplek tsb.
    Okay kita semua tahu kok


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: