Amerika Demam, Kita Runyam

PEMERINTAH jangan dulu terlena melihat pulihnya bursa saham dunia. Setelah jatuh pada Selasa pekan lalu—pelaku bisnis mencatatnya sebagai Black Tuesday—kembali meningkatnya indeks harga saham belum bisa dikatakan aman. Perkembangan ini memang bisa memupus kekhawatiran bahwa krisis yang menimpa pasar modal itu bakal berkepanjangan. Namun Indonesia masih berada dalam bayang-bayang bakal terjadinya kemunduran ekonomi global. Kalau ekonomi dunia, terutama Amerika, demam, Indonesia bisa terkena selesma.
Ekonomi dunia sekarang mengandung volatilitas tinggi. Gejolak bursa bisa terjadi kapan saja, dengan turunan dan tanjakan tajam yang sulit diprediksi akurat. Untuk sementara, resep Amerika bisa meredam gejolak. Pemerintah George W. Bush memberikan stimulus ekonomi senilai US$ 150 miliar. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, menurunkan suku bunga sampai 75 basis poin menjadi 3,5 persen.
Ibarat membuka pintu bendungan, kebijakan Amerika itu seperti mengalirkan air ke bursa-bursa dunia yang sedang kering. Dampaknya terasa langsung. Indeks bursa Indonesia naik 14,2 persen, lebih baik daripada sepekan sebelumnya, walaupun masih jauh dari posisi tertingginya tahun ini. Nilai tukar rupiah juga menguat. Bursa dan mata uang negara lain juga ikut membaik.
Pertanyaan pentingnya: apakah Amerika Serikat mampu menyelamatkan ekonominya dari ancaman resesi besar. Ekonomi AS, suka atau tidak, menjadi penentu yang valid tentang kapan ancaman krisis ini bakal berakhir. Semakin dalam dan lama resesi yang mendera Amerika, selama itu pula negara lain, termasuk Indonesia, bakal ”menderita”. Bekas gubernur bank sentral AS, Alan Greenspan, misalnya, menyatakan bahwa peluang resesi di Amerika makin besar meskipun derajat kedalamannya dangkal.
Biang keladi penyakit ekonomi Amerika kali ini, salah satunya, adalah krisis kredit macet subprime mortgage. Sialnya, kerugian belum bisa dihitung pasti, tapi angkanya sangat besar. Sampai kapan? Justru pertanyaan fundamental ini yang belum bisa dijawab, dan ini sangat mencemaskan pelaku ekonomi AS. Citibank dan Merrill Lynch, misalnya, terpaksa menghapusbukukan kredit macet tersebut sampai belasan miliar dolar. Mereka juga menderita kerugian miliaran dolar.
Sejumlah bank Eropa juga mulai melaporkan kerugian yang tak kalah mencengangkan akibat subprime. Bank terbesar kedua di Prancis, Societe Generale, merugi US$ 3 miliar. Diduga kuat, dan ini bisa membuat ”jantung copot”, belum semua korban melaporkan kerugian yang dideritanya. Padahal, secara keseluruhan, kucuran kredit subprime dengan hipotek rumah ini nilainya sangat besar: US$ 6 triliun. Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya Selasa Hitam.
Buat Indonesia, setelah krisis bursa sementara ini berlalu, yang terpenting dilakukan adalah melihat dengan cermat apa yang terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara yang mungkin terimbas subprime. Perlambatan ekonomi Amerika pasti berpengaruh ke Indonesia. Rakyat Amerika tentu akan mengurangi konsumsi, dan ini mengakibatkan impor negara itu dari Indonesia akan menurun. Sampai November lalu, ekspor nonmigas Indonesia ke AS masih mencapai US$ 10 miliar.
Sebelum resesi benar-benar terjadi di Amerika, Indonesia perlu mencari pasar lain yang lebih prospektif. Dengan komoditas andalan seperti kelapa sawit, batu bara, dan berbagai produk primer, Indonesia tidak terlalu sulit mencari pasar di luar Amerika atau Jepang. Lagi pula, Jepang juga bakal sulit menghindar dari dampak resesi AS, mengingat intensitas perdagangan dua negara besar itu. Cina dan India bisa menjadi alternatif ekspor yang menjanjikan. Dua negara itu kini sangat haus energi.
Jangan sampai Indonesia justru dimanfaatkan negara lain. Bukan tidak mungkin Cina yang lebih cekatan mengalihkan ekspornya ke Indonesia. Dan sudah lama Indonesia menjadi incaran Cina. Dari tahun ke tahun, ekspor Cina ke Indonesia terus meningkat.
Tiang penyangga ekonomi lain yang harus diperhatikan adalah nilai tukar rupiah. Kondisi saat ini memang berbeda dengan sepuluh tahun silam, ketika krisis menghantam Indonesia dan Asia Timur. Proporsi utang luar negeri Indonesia—pemerintah dan swasta—saat ini jauh lebih aman ketimbang 1998. Ketika itu utang luar negeri mencapai 126 persen dari pendapatan domestik bruto, sedangkan sekarang berada di kisaran 33 persen. Tekanan harga minyak dunia juga relatif menurun. Harga minyak kini sudah berada di bawah US$ 90 per barel. Cadangan devisa Indonesia juga cukup besar. Kuncinya, sepanjang nilai tukar tidak melemah, ekonomi Indonesia lebih mudah dijaga.
Perbaikan indeks bursa dan stabilnya nilai tukar rupiah sekarang jangan sampai membuat pemerintah Indonesia meremehkan potensi krisis Amerika yang bisa terjadi kapan saja. Kewaspadaan harus dijaga, turbulensi bisa menerjang sewaktu-waktu.

 Majalah Tempo, 28 Januari 2008

0 Responses to “Amerika Demam, Kita Runyam”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: