Ibu Kota yang Sakit

BILA dilihat, dari sudut apa pun, banjir yang menghajar Jakarta sudah memasuki tahap memalukan negara. Malu memiliki ibu kota negara yang bukan hanya mengalami macet dan semrawut, tetapi juga tiap kali musim hujan datang berubah menjadi sungai dan waduk.

Coba, apa kata dunia tentang Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang kemarin ditutup dan lumpuh?

Padahal, tahun ini diproklamasikan sebagai Visit Indonesia Year. Hal yang dicanangkan dengan basis argumentasi sangat nasionalistis. Yaitu menyongsong Kebangkitan Nasional 100 tahun. Hal itu dihitung sejak 20 Mei 1908, yang ditandai dengan lahirnya Boedi Oetomo, yang tergolong gerakan pertama kesadaran sebagai bangsa.

Namun, kenyataannya ialah urus banjir saja belum beres. Ah, turis mana yang mau datang ke negara banjir? Turis mana yang mau datang ke negeri yang bandara internasionalnya mendadak bisa lumpuh karena banjir? Turis mana yang mau memberi devisa datang ke Ibu Kota bila melihat Presiden Republik Indonesia sekalipun harus ganti mobil karena tak dapat menembus banjir?

Jakarta adalah ibu kota negara yang sakit. Celakanya, itulah sakit yang dibiarkan sendirian untuk mengatasinya. Seakan-akan banjir Jakarta cuma tanggung jawab Bang Foke seorang.

Padahal, banjir Jakarta akibat banyak faktor. Di antaranya karena tekanan dari hulu. Selama ini ia mendapat banjir kiriman dari wilayah Jawa Barat. Di hulu itu terjadi penggundulan dan penyalahgunaan peruntukan yang membuat kawasan Puncak dihuni vila-vila yang tidak tahu aturan.

Jakarta juga mendapat beban yang ditimpakan pemerintah pusat yang berdomisili di Jakarta. Jakarta menjadi magnet raksasa yang menarik siapa pun. Bukan hanya migrasi spontan seperti pembantu rumah tangga yang datang dari desa, melainkan juga membuai wakil rakyat dari daerah yang duduk di kursi Dewan Perwakilan Daerah untuk juga tinggal di Jakarta.

Jakarta yang sakit itu bertambah sakit. Buktinya, gampang. Banjir kemarin merupakan fenomena berbeda. Bukan karena banjir kiriman, melainkan semata karena hujan lokal. Sebuah bukti tersendiri bahwa Jakarta memang telah sakit parah, sangat parah, yaitu tidak memiliki lagi daya dukung bahkan untuk menampung hujan lokal.

Oleh karena itu, diperlukan banyak langkah yang berani untuk menyelamatkan Jakarta. Yang paling ideal adalah memperluas kawasan ibu kota negara menjadi megapolitan hingga ke Cianjur sehingga kantor pemerintah pusat pun boleh dipindahkan ke wilayah itu.

Solusi lain menghancurkan sebuah kota kecil di wilayah hulu dan menjadikannya waduk raksasa untuk menampung curah hujan. Air bandang tak sempat turun ke bawah.

Kedua pikiran itu adalah pikiran yang akan mendapat perlawanan sengit dari banyak pihak karena mengempiskan banyak kepentingan. Sampai lima kali ganti presiden, lima kali pula ganti DPR dan DPRD, kedua gagasan itu akan dilawan habis-habisan.

Yang tersisa akhirnya pilihan yang bisa diterima common sense, yaitu membangun Banjir Kanal Timur dan Kanal Barat. Anggaran 2007 telah tersedia, tetapi celakanya tidak terserap. Apa pasal? Terhambat oleh pembebasan tanah. Ini bukan zaman main gusur dan ada banyak LSM yang meraung membuat takut dan gentar pemerintah karena melanggar HAM.

Maka, Jakarta yang sakit itu masih akan lama tetap sakit karena tidak ada solusi yang menyenangkan semua pihak. Mari katakan, ‘Selamat datang banjir Jakarta!’

Media Indonesia, 1 Februari 2008

0 Responses to “Ibu Kota yang Sakit”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 780,018 hits
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: