Perlu Bandara Internasional Baru

Umumnya kita sepakat, kesan terhadap satu kota diawali dari bandaranya. Atas dasar ini, banyak negara yang melakukan investasi serius untuk bandara.

Di kawasan ini kita menyaksikan sendiri bagaimana negara-negara tetangga seperti berlomba membangun bandara yang modern. Tahun 1998 lahir Kuala Lumpur International Airport (KLIA), juga Hongkong International Airport (HKIA) Chek Lap Kok. Terakhir, September 2006, dibuka Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, yang disebut sebagai bandara paling besar di Asia Tenggara. Singapura, yang sebelumnya sudah amat dikenal dengan Bandara Changi, awal tahun 2008 membuka Terminal 3.

Kita tahu, di bandara-bandara tersebut ada suasana modern, kenyamanan nyata, dan di luar sosok fisik, juga efisiensi pelayanan. Dalam suasana penuh kekaguman itu, fantasi kita seolah terjun bebas manakala kita mengingat Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang semestinya menjadi kebanggaan kita.

Beberapa hari lalu, bandara kita ini banyak menjadi berita karena di sana terjadi kekacau-balauan yang luar biasa. Dipicu oleh cuaca buruk dan banjir besar, bandara ditutup selama beberapa jam, dan lebih dari 200 penerbangan dibatalkan.

Chaos selanjutnya telah kita baca beritanya di media massa selama akhir pekan lalu, mulai dari ribuan penumpang yang telantar di terminal, jadwal keberangkatan yang berantakan, dan kerugian yang dialami maskapai penerbangan, juga oleh penumpang.

Tak perlu membandingkan dengan bandara-bandara internasional lain di kawasan ini. Dari tiga sisi—daya tampung, kenyamanan, dan kemudahan akses—Bandara Soekarno-Hatta tampak makin tidak memadai lagi. Bandara yang punya enam subterminal dengan masing-masing berkapasitas tiga juta penumpang per tahun, berarti total kapasitas 18 juta penumpang per tahun, itu kini sudah harus menangani sekitar 32 juta penumpang. Subterminal D dan E masih mampu, tetapi untuk Terminal B dan C rata-rata sudah lima juta penumpang per tahun. Bahkan, untuk Terminal A, tahun lalu saja sudah mendekati tujuh juta penumpang.

Padahal, proyeksi pertumbuhan jumlah penumpang berkisar 10 persen, dan dengan itu jumlah penumpang tahun 2016 diperkirakan bisa mendekati 100 juta. Padahal, seperti kata Kepala Cabang PT Angkasa Pura II Kasmin Kamil, bandara paling sibuk di dunia sekarang hanya mengelola 880 juta penumpang per tahun.

Atas dasar ini, kita sah mengajukan wacana, kita memang sudah memerlukan bandara internasional baru. Belum lagi jika mengingat bahwa akses ke Bandara Soekarno-Hatta dari waktu ke waktu terancam banjir. Di sekitar Kilometer 25-27 memang akan ditinggikan, tetapi kita belum tahu apakah itu masih akan memadai ketika efek pemanasan global makin nyata dalam beberapa tahun mendatang.

Pengalaman banjir akhir pekan lalu memberi kita banyak pelajaran yang harus kita tindak lanjuti dengan langkah konkret.

Kompas, Selasa, 5 Februari 2008

1 Response to “Perlu Bandara Internasional Baru”


  1. 1 halim Februari 8, 2008 pukul 6:36 am

    Kita ini terlalu mementingkan tamu katimbang rakyat sendiri. Sudah lama kita mendengar dan melihat rakyat kita berumah di-kolong2 jembatan,dibantaran kali bahkan dipinggir rel. Kan kalu dilihat tamu2 luar jadi iklan jelek unt DKI.
    Dan ini bukan pemandangan mutakhir. Jauh sebelum bandara soekarno-hatta ada, rakyat yg mengelandang dan hidup beralaskan langit sudah lama ada. Tapi kita,termasuk pemerintah DKI tidak perduli, masak bodoh dan cendrung mencemooh dengan kalimat, salah siapa2 siapa suruh datang keJkt,dst.
    Padahal kalo masalah ini diselesaikan dari dulu2 mungkin masalah banjir yg kemarin itu tidak akan parah2 banget. Sekarang menurut saya juga belum terlambat bagi bang Foke.
    Tuntaskan masalah pendatang haram secara tegas dan konsisten. Aturan denda pelanggaran masalah KTP diperbesar,sehingga efek jera yg ingin diciptakan, benar2 bikin orang jera. Perketat proses pembuatan KK dan KTP.
    KTP baru bisa diberikan kepada mereka yg telah menetap disatu kelurahan dan kalau perlu di RT/RW yang sama minimal 5 tahun.
    Bagi penduduk yg selalu ber-pindah2 alamat alias nomaden,pekerja kantoran yg keluarganya bermukim dipropinsi lain, hanya diberikan KTP sementara yg harus diperpanjang setiap bulan *biar kapok* tentunya dengan membawa keterangan RT/RW tempat tinggalnya.
    Berlakukan sangsi pidana dan denda yg besar dan hukuman kurungan penjara minimal satu tahun bagi setiap pelanggaran masalah KTP ini (pemberi dalam hal ini RT,RW,Lurah dan Camat bahkan walikotanya dan penerima KTP illegal).
    DKI kan daerah khusus sehingga aturan2nya juga harus khusus.
    Tinggal apakah bang Foke beserta jajaran serius mau menertibkan DKI???
    Kalau masalah penghuni DKI sudah tertib Insya Allah masalah lainnya pun akan ikut tertib. Termasuk banjirnya akan tertib masuk ke DKI.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: