Kartu Pintar Premium

Hanya dalam beberapa bulan ke depan, kita akan memasuki sebuah ‘era baru’. Bukan, ini bukan soal pergantian tahun atau yang sejenisnya. Kita akan segera memasuki ‘era pembatasan bahan bakar minyak (BBM)’. Tak jelas bakal sampai kapan pembatasan itu diberlakukan, tapi kemungkinan besar akan dimulai Mei mendatang. Premium, bahan bakar utama sebagian besar kendaraan bermotor, akan dibatasi.

Gagasan pembatasan ini berawal dari melambungnya harga minyak dunia, sehingga terus membebani anggaran pemerintah terutama anggaran subsidi. Guna mengurangi beban subsidi itulah pemerintah berencana membatasi penggunaan premium. Sempat muncul gagasan untuk memecah premium, menjadi premium oktan 88 (harga subsidi) dan premium oktan 90 (harga pasar). Namun gagasan ini batal diterapkan. Dan kini, muncul gagasan pembatasan premium menggunakan apa yang disebut kartu pintar.

Kartu inilah yang akan mencatat kuota premium bagi setiap kendaraan. Jika kuotanya sudah habis maka kendaraan bersangkutan tak dibolehkan lagi mengisi premium bersubsidi. Pembatasan tersebut boleh jadi mampu menekan beban subsidi dalam anggaran. Namun, banyak kalangan mengkhawatirkan sejumlah konsekuensi yang bakal muncul akibat kehadiran si kartu pintar.

Kita masih ingat ketika beberapa waktu lalu sejumlah daerah mengalami kekurangan pasokan BBM akibat bencana alam. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar memberlakukan pembatasan pengisian, dan yang tampak adalah antrean panjang kendaraan bermotor. Mudah dibayangkan apa jadinya jika bahan bakar itu secara sengaja dibatasi.

Situasi seperti itu besar kemungkinan tak hanya menjerat pengguna kendaraan pribadi, tapi juga bagi kalangan usaha (industri). Pembatasan premium dengan kuota, bukan tak mungkin mengganggu kelancaran distribusi barang. Kalaupun dimungkinkan terjadi pengalihan ke bahan bakar tanpa subsidi, maka itu akan berujung pada kenaikan harga. Akibatnya, seluruh kegiatan ekonomi dan bisnis akan dihantui biaya tinggi.

Kegiatan transportasi umum pun bahkan mungkin ikut terganggu. Kuota untuk angkutan umum memang direncanakan lebih besar dibanding kendaraan pribadi. Namun dengan rute yang panjang dan kemacetan yang kerap menghadang, sulit rasanya memperkirakan kuota yang pas buat angkutan umum. Apa jadinya jika angkutan umum kehabisan kuota saat menjalani rutenya?

Kartu pintar barangkali mampu membatasi konsumsi premium. Tapi, mampukah kartu itu mengantisipasi dampak sosial ekonominya? Tak ada yang berani menjamin. Seperti juga tak satu pihak pun siap menjamin si kartu pintar bisa mencegah penyelewengan atau mencegah pemberian voucher kuota premium sebagai ‘hadiah’ untuk pejabat.

Itu berarti kartu pintar itu agaknya akan sulit pula membuktikan bahwa subsidi benar-benar bisa dinikmati hanya oleh mereka yang berhak. Apakah kita mau, memasuki era di mana antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar kerap terlihat, ekonomi biaya tinggi, serta transportasi umum yang amburadul? Tak adakah jalan keluar yang lebih pintar ketimbang hanya sekadar kartu.

Republika, Selasa, 12 Februari 2008

0 Responses to “Kartu Pintar Premium”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: