Di Atas Piring Rakyat

Berhentilah bersilat lidah. Tiada guna berdebat apakah pemerintah sedang cuci piring atau cuci tangan. Marilah kembali pada inti skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI): Segelintir orang telah menikmati ratusan triliun rupiah di luar kewajaran.

Mari ingat-ingat lagi bahwa ada bank-bank yang kesulitan keuangan di saat krisis dekade lalu. Bukan sekadar krisis, karena persoalan membelit justru akibat uang rakyat di bank-bank tersebut dipakai untuk kepentingan kelompok melampaui batas. Aturan batas maksimum pemberian kredit telah dikangkangi.

Berdasarkan versi pemerintah, uang yang tersalur untuk segelintir orang itu pada 1997-2004 sebesar Rp 640,9 triliun. Angka itu terbagi atas BLBI sebesar Rp 144,5 triliun, penjaminan Rp 73,8 triliun, dan rekapitalisasi Rp 422,6 triliun. Menurut tim interpelasi BLBI di DPR, angkanya mencapai Rp 702,5 triliun, terdiri atas BLBI senilai Rp 144,5 triliun, obligasi rekapitalisasi perbankan Rp 425,5 triliun, program penjaminan Rp 73,8 triliun, dana talangan Rp 4,9 triliun, dan dana rekening 502 sebesar Rp 53,8 triliun.

Seharusnyalah mereka mengembalikan uang itu tanpa potongan apa pun dan mempertanggungjawabkan penyimpangan di meja hijau. Sederhana saja. Maling ayam pun tetap diadili walau dia mengembalikan ayam curian kepada pemiliknya.

Tapi, apa yang kita saksikan adalah pertunjukan yang menusuk rasa keadilan masyarakat. Pemerintah ternyata memegang prinsip out of court settlement alias penyelesaian di luar pengadilan. Inilah yang mewujud dalam skema Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) yang terdiri atas Master of Settlement and Aquisition Agreement (MSAA), Master Refinancing and Notes Issuance Agreement (MRNIA), dan Akta Pengakuan Utang (APU).

Apa yang disebut penyelesaian itu pada praktiknya lagi-lagi jauh dari kewajaran. Lima obligor yang memakai MSAA, misalnya, hanya membayar 17,3 persen hingga 55,7 persen. Bayangkan, ada yang berutang Rp 52 triliun, hanya mengembalikan Rp 19 triliun. Ada yang berutang Rp 28 triliun, hanya bayar Rp 4,9 triliun.

Anehnya, mereka tetap mendapat Surat Keterangan Lunas (SKL) yang menjadi bekal untuk mendapatkan jaminan pembebasan dari tuntutan hukum –lazim disebut release and discharge. Jaminan itu mendapatkan ”dasar hukum” berupa Inpres No 8/2002. Maka, pada Hari Adhyaksa ke-44 (2003), Kejaksaan Agung mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) untuk mereka.

Lalu, siapa yang menanggung beban? Rakyat. Dari MSAA saja, 220 juta kepala harus menanggung beban utang Rp 57,8 triliun yang seharusnya menjadi kewajiban lima orang saja. Dan, dari total penyehatan perbankan secara keseluruhan, rakyat harus menanggung beban Rp 640,9 triliun hingga Rp 702,5 triliun yang akan dicicil Rp 50 triliun hingga Rp 60 triliun setiap tahun dan baru lunas pada 2033.

Berhenti sampai situ? Tidak. Pekan lalu, tujuh obligor mendapatkan kado dari DPR dan pemerintah: Keputusan bahwa mereka hanya perlu membayar Rp 2,297 triliun walaupun telah menandatangani APU Rp 9,36 triliun. Jadi, sebenarnya tak penting memperdebatkan siapa cuci piring atau siapa cuci tangan. Kita hanya perlu sadar bahwa piring rakyatlah yang sedang dipermainkan.

Republika, Rabu, 13 Februari 2008

1 Response to “Di Atas Piring Rakyat”


  1. 1 halim Februari 28, 2008 pukul 5:54 am

    Dasar semua bajingan!! Para elit senayan dan pemerintah (menkeu cs) hidup enak,mereka tidak perduli rakyat hidup melarat.Makanya mereka seenak perutnya mempermainkan aturan per-undang2an.Mereka samasekali tidak punya hati nurani,memback-up perkeliruan para obligor2 pengemplang uang begara.Kasus hukum dibawa kearena politik.Sehingga dengan fatwa politik para pengemplang dana negara bisa terbahak gembira,sementara rakyat yg mereka ‘wakili’ hidup tercekik akibat semua harga yang melambung gara2 menutupi kerugian akibat ulah para obligor yg mereka loloskan.Inilah harga yg harus kita bayar bila politik dijadikan yg dipertuan dinegara ini.
    Sehingga para aktor politik semaunya mempermainkan kasus hukum.Entah kapan hukum menjadi panglima dinegera ini??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: