Jalan Pintas Mayor Reinado

Semestinya perbedaan pendapat dan persaingan kekuasaan tetap dilakukan dalam arena demokrasi.Lagi-lagi kita disodori pemandangan yang memerihkan nurani: pertumpahan darah demi merengkuh kekuasaan. Tidak akan menyelesaikan masalah, kekerasan hanya akan merusak tatanan politik dan mengundang konflik berkepanjangan. Semestinya perbedaan pendapat dan persaingan kekuasaan tetap dilakukan dalam arena demokrasi.
Itulah yang terjadi dalam tragedi penembakan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, Senin lalu. Di pagi yang bening, saat Horta baru saja berolahraga bersama pengawalnya, dua mobil datang dengan kecepatan tinggi dan menghujaninya dengan serentetan peluru. Ditembus tiga peluru, satu di perut dan dua di dada, Horta ambruk. Ia sekarat.
Hanya berselang satu jam, mobil Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao juga diguyur peluru. Beruntung, dia selamat.
Serangan brutal yang dipimpin oleh Mayor Alfredo Reinado Alves itu patut dikecam keras. Apalagi bukan hanya sekarang ia menggunakan senjata dalam berpolitik. Dua tahun lalu, Reinado juga pernah memimpin 600 tentara memprotes kebijakan perdana menteri kala itu, Mari Alkatiri. Mari kemudian memecatnya. Sejak itulah kesumat membara di dadanya.
Berbulan-bulan bersembunyi, Reinado menjadi buruan tentara Australia di Timor Leste. Barulah belakangan pemerintah menghentikan perburuan itu dan meminta Reinado menyerahkan diri untuk diadili.
Reinado memang dalam posisi terjepit. Tapi dia semestinya paham betul konflik politik tak bisa dirampungkan dengan kekuatan senjata. Sang Mayor yang pernah mengenyam Sekolah Staf Komando Angkatan Laut Australia di Canberra itu seharusnya memperjuangkan pendapatnya dengan merebut simpati warga Timor Leste, bukan dengan kekerasan, senjata, dan darah.
Akibat aksi itu sungguh fatal. Tak hanya menyebabkan Reinado tewas karena diterjang peluru tentara pemerintah, kelompoknya juga menuai rasa antipati rakyat. Dunia pun mengutuknya.
Ekonomi negara yang morat-marit seperti Timor Leste memang sering kali menumbuhkan tokoh-tokoh martir seperti Reinado. Banyak orang yang patah arang mencari jalan pintas dengan melakukan kudeta. Mereka seolah-olah percaya setelah peluru ditembakkan dan pemimpin berganti, resesi ekonomi, kemiskinan, dan setumpuk persoalan lainnya akan rampung.
Solusi instan seperti itu tak akan menyelamatkan negara. Kudeta hanya akan dibalas dengan kudeta yang lain. Sejarah politik di Pakistan adalah contoh nyata hal tersebut. Pembunuhan dan pengeboman selalu saja mewarnai kampanye politik di negeri itu. Terakhir, mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto pun menjadi korban pengeboman.
Jadi keliru besar jika memahami kudeta politik adalah langkah cepat untuk memajukan negara dan memakmurkan rakyat. Insiden di Dili itu mudah-mudahan bisa menjadi cermin bagi para politikus Indonesia agar selalu memperjuangkan aspirasi politiknya dengan cara damai. Hanya dengan cara itu, demokrasi akan tumbuh sehat dan negara pun menjadi kuat.

Korantempo, Rabu, 13 Februari 2008

1 Response to “Jalan Pintas Mayor Reinado”


  1. 1 ayya Agustus 20, 2009 pukul 12:47 pm

    Reinado bukan pemberontak. Dan dia ada dlm posisi yg tidak mendukung saat itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: