Perilaku Kekerasan

Apa sebenarnya yang terjadi di negara kita? Mengapa kita, terutama anak-anak muda, seringkali menyukai kekerasan? Tak percaya? Lihatlah beberapa pertandingan sepak bola dan konser musik di negara kita?

Dalam beberapa hari ini saja, anarkisme penonton telah menelan korban belasan nyawa. Semua yang menjadi korban kekerasan itu adalah anak-anak muda. Anak-anak muda harapan bangsa dan negara.

Di Bandung, tepatnya di Gedung Asia Afrika Cultural Centre (AACC) di Jalan Braga, sepuluh nyawa anak muda melayang sia-sia menjadi korban kekerasan saat menonton konser grup musik lokal Beside. Mereka menjadi korban desak-desakan sesama penonton ketika berebut masuk gedung pertunjukan. Mengapa mereka tidak mau antre dengan teratur dan tertib?

Di dunia olahraga, tepatnya sepak bola, seorang pemuda meninggal dunia menjadi korban kekerasan sesama suporter saat menyaksikan pertandingan semifinal Sriwijaya FC dengan Persija di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (06/02) lalu.

Pada pertandingan itu, Persija dikalahkan oleh Sriwijaya FC. Pendukung Persija yang tak bisa menerima kekalahan lalu mengamuk dan bentrok dengan pendukung Kesebelasan Sriwijaya. Akibatnya, seorang pendukung Persija tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Pertandingan final antara Sriwijaya FC dan PSMS akhirnya dialihkan ke stadion lain di luar Jakarta. Untuk menghindari kekerasan antarpendukung kedua kesebelasan, pertandingan hanya boleh ditonton oleh panitia dan wartawan. Pertandingan final yang semestinya menjadi puncak dan sekaligus pesta masyarakat sepak bola akhirnya sepi dari yel-yel para penonton.

Sebelumnya, baik dalam pertandingan sepak bola maupun konser musik, kita juga sudah sering disuguhi anarkisme penonton. Di dunia sepak bola, dalam beberapa bulan ini saja sudah terjadi beberapa kali kekerasan antarpendukung kesebelasan. Antara lain di Stadion Brawijaya Kediri dan Stadion Manahan Solo. Begitu pula dalam konser-konser musik.

Pertanyaannya, mengapa kekerasan antarpenonton, yang semuanya melibatkan anak-anak muda itu sering terjadi? Mengapa kita tidak bisa menerima fairness dalam pertandingan? Mengapa kita tidak mau secara jantan menerima kekalahan? Mengapa para penonton konser musik berebutan menyaksikan idolanya meskipun untuk itu harus saling sikut dan saling injak penonton lainnya?

Kita tentu tidak bisa menyalahkan semua kekerasan itu pada anak-anak muda. Kita, yang sudah dewasa, juga mempunyai tanggung jawab atas kekerasan yang terjadi pada anak-anak muda. Bukankah perilaku kekerasan anak-anak muda sebenarnya becermin pada perilaku kita yang sudah dewasa? Bukankah bila orang dewasa kencing berdiri, anak-anak muda lalu kencing berlari?

Harus kita akui perilaku kita orang dewasa selama ini memang seringkali jauh dari gambaran keteladanan. Demi jabatan, seorang yang telah dihukum penjara pun tetap ngotot mempertahankan kepemimpinannya di sebuah organisasi olahraga, dengan segala cara.

Demi jabatan, proses pemilihan kepala daerah seringkali harus berakhir dengan anarkisme antarpendukung calon. Demi menumpuk kekayaan, seorang pejabat tidak malu-malu lagi melakukan korupsi. Para wakil rakyat yang fungsi utamanya antara lain legislasi juga tidak segan meminta bayaran untuk memproses sebuah undang-undang.

Itulah gambaran perilaku kita yang sudah dewasa. Intinya, untuk meraih kekayaan, jabatan, dan kehormatan bila perlu harus kita lakukan dengan segala cara, termasuk dengan menelikung kawan maupun lawan, menipu, menyuap, main kayu, dan perilaku-perilaku kotor lainnya.

Sekali lagi, bila orang dewasa kencing berdiri, jangan salahkan bila anak muda kencing berlari. Perilaku anak muda tentu tidak jauh dari peringai orang dewasa. Orang dewasa edan, anak-anak muda akan gila gilaan.

Republika, Senin, 11 Februari 2008

2 Responses to “Perilaku Kekerasan”


  1. 2 halim Maret 14, 2008 pukul 6:07 am

    Kebiasaan kita untuk selalu memoles entah itu kelakuan, keputusan yg pahit dan semya yang berbau negatif. Semua dikemukakan dengan cara yang manis.Kita sudah tidak pernah menampilkan apa adanya.Kenaikan kurs dolar yg liar biasa terhadap rupiah dipakai kata2 manis yakni kebijakan nopember alias kenop.Kenaikan harga bbm disebut kebijakan harga dst dst. Dari terlalu seringnya kemunafikan ini muncul dari pemimpin2 kita maka akibatnya menjadi hal yg biasa dan wajar oleh bangsa ini.Akibatnya tontonan ug harus nya menghibur malah menjadi bencana ya wajar kan?? Karena sudah dari sononya berlaku selalu sebaliknya,keputusan yg mencekik rakyat disebut KEBIJAKAN?? Kan kebijakan arti kata sebenarnya adalah suatu niat yg baik dan tulus dan berbuah baik alias manis.
    Jadi kalo ada tontonan yg bukan bersifat menghibur penontonnya ya mau gimana lagi.Tapi kalo mau dan ingin tontonan menjadi sesuatu yng menghibur ya mulailah dari sekarang bahwa kita akan mengatakan atau memkai istilah yang sesuai dengan faktanya. Jadi kalo ada cabub/ cagub/capres yang jauh hari sudah kampanye ya sebut saja dia maling start, jangan diperhalus segala. Kenaikan harga listrik atau denda pemakaian listrik jangan diperhalus jadi disintensifikasi.Kenaikan harga beras jangan disebut kebijakan harga, okay????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: