Di Laut Kita Bangkrut

Di Laut Kita Bangkrut

SEBAGAI negeri bahari, kita mestinya punya cara jitu menangkal penjarah laut. Bertahun-tahun ribuan kapal asing menjala ikan di perairan Indonesia bak menangguk di tambak sendiri. Jutaan ton sumber daya laut kita dicuri dan diangkut dengan kapal berbagai ukuran ke sejumlah negara.

Di tengah tindasan kemiskinan dan terpuruknya industri perikanan, situasi ini sungguh memprihatinkan. Apalagi jika melihat “perangkat perang” kapal asing yang dahsyat: pukat harimau atawa trawl, potasium, bahkan bom. Dampaknya tak terkira, sampai-sampai terumbu karang dan biota laut lainnya juga ambrol dan hubar-habir.

Alat-alat itulah yang dipakai dua lusin kapal asal Cina dan Thailand di Laut Arafuru, yang disergap patroli Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, Maret lalu. Gerombolan maling ikan itu lebih dari 500 orang termasuk nakhoda kapal. Mereka berhasil mengisi perut kapal dengan ikan lebih dari 1.100 ton.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sudah mengingatkan seperempat dari 6,4 juta ton stok ikan di perairan Indonesia dijaring secara ilegal. Jika satu kilogram ikan tangkapan di pasar internasional dihargai US$ 2 saja, bangsa ini kehilangan kekayaan laut Rp 30 triliun per tahun.

Pemerintah tak perlu mencari kambing hitam dan berdalih bahwa kejahatan pemukatan liar (illegal fishing) sulit dicegah. Kalau pemerintah memang tak sanggup mengurus sendiri, dunia internasional bisa dimintai bantuan sebagaimana diatur Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) 1982.

Konvensi itu menyebutkan negara pantai seperti Indonesia wajib menetapkan kesanggupannya memanfaatkan sumber kekayaan wilayah ekonomi eksklusif. Apabila tak becus mengurus, negeri tersebut harus memberi negara lain kesempatan berkiprah, tentu saja melalui perjanjian.

Jangan sampai opsi itu diambil. Kalau mau sungguh-sungguh, sebenarnya pemerintah sudah punya panduan cara menertibkan kapal asing dalam kerangka pemberdayaan ekonomi nelayan nasional. Pada 2002, Indonesia telah memberlakukan registrasi ulang semua kapal asing yang beroperasi di wilayah ekonomi eksklusif.

Sampai pengujung 2007, semua kapal asing yang hendak melaut di perairan Indonesia wajib bermitra dengan industri perikanan lokal. Bentuknya bisa membangun pangkalan ikan atau berbagi investasi dengan industri perikanan domestik. Mekanismenya sudah ada. Kapal asing yang mengurus surat izin penangkapan ikan harus menunjukkan unit pangkalan ikan yang dijadikan mitra.

Model registrasi ini, di samping tetap memberikan peluang masuk kapal asing, dapat pula mendorong pertumbuhan industri perikanan lokal. Nelayan, yang sebelumnya cuma “jongos” kapal asing, terangkat derajatnya menjadi mitra. Akan lebih strategis jika pemerintah membangun industri armada penangkapan ikan. Sebab, pembatasan operasi kapal asing tanpa dibarengi pengadaan armada nasional sebagai pengganti akan sia-sia belaka.

Peran patroli keamanan juga bukan satu-satunya gantungan harapan. Segara Indonesia begitu luas, butuh armada besar dan personel terampil. Saat ini kapal patroli milik Departemen Kelautan dan Perikanan jumlahnya cuma 20 unit. Kebutuhan idealnya 50 unit. Peralatannya pun sering kalah canggih dibandingkan dengan kapal penjarah.

Baguslah ketika Departemen Kelautan dan Perikanan pada Februari lalu menggandeng Kepolisian serta Angkatan Laut dalam mencegah pencurian ikan. Alangkah mantapnya jika kerja sama itu juga diarahkan untuk memperlancar industri perikanan, misalnya menjamin kebutuhan bahan bakar nelayan agar tangkapan ikannya melimpah. Makin banyak nelayan melaut, tim patroli bisa pula mengajak mereka menangkal kapal asing yang mencoba menjarah.

Koran Tempo, Senin, 12 Mei 2008

1 Response to “Di Laut Kita Bangkrut”


  1. 1 halim Mei 24, 2008 pukul 11:16 am

    Jangankan dilaut,didaratpun kita sudah lama bangkrut.Kenapa karena penguasa negara lagi keedanan numpuk harta,mereka lupa saat mati nantikan cuma dikubur pakai kain kafan saja.Paling mewah ya kayak HMS lah pake peti ukiran jati dan batu nisan dari marmer,sementara hasil numpuk2 hartanya sama sekali ndak bisa dia nikmati lagi.
    Apakah dia bahagia?? ya cuma dialah bisa menjawabnya.
    Kalo kita mau disegani dilaut,didarat dan diudara ya mau ndak mau nafsu numpuk2 harta dikalangan petinggi negara harus dikurangi untuk beli peralatannya. Okay????
    Disinilah letak ujian berapa tinggi nilai nasionalisme para petinggi negara dan elit parpol.Janganlah meributkan anak2 muda kalimantan yg bekerja sebagai penjaga perbatasan negara tetangga lalu rame2 bilang mereka tidak punya rasa nasionalisme,gimana dengan numpuk2 harta dengan segala cara oleh para petinggi negara dan elit parpol?? Apakah mereka layak disebut nasionalis sejati???????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: