Rakyat yang Tak Kunjung Disejahterakan

Ketika mengikuti berita-berita persiapan Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008 ini, kesan apa yang dominan hinggap di benak Anda? Apa saja pasti bisa muncul sesuai dengan ”experience of spirit” masing-masing. Tergantung dari sudut mana kita menandai, dari sudut mana pula merasa berkepentingan. Kita terutama menangkap momen penting pengalaman pertama masyarakat provinsi ini memilih pemimpin secara langsung di era reformasi, namun pada saat yang sama juga menangkap kesan tidak ada sesuatu yang istimewa, rutin, dan nyaris bakal sama dengan pilkada di tingkat kabupaten atau kota.

Pilgub, seperti halnya sebuah pilkada, idealnya adalah harapan. Suatu kehendak politik untuk mengarungi kehidupan baru dengan visi baru, kesegaran baru, harapan baru. Rakyat memilih untuk mencoba merakit masa depan, karena hakikatnya sebuah pilihan adalah menatap ke depan, dan tidak terbelenggu oleh keadaan di belakang. Secara sederhana dapat dikatakan, harapan baru itu terbebankan pada mereka yang berani tampil mencalonkan diri sebagai pemimpin. Bukankah lewat berbagai teknik pemasarannya, mereka berupaya untuk merebut hati rakyat Jateng bahwa visi mereka itulah yang menjanjikan harapan?

Yang tidak sederhana, selama 10 tahun bergulirnya reformasi, realisasi harapan itu tak kunjung dirasakan. Transisi dari alam otoritarian ke demokrasi belum mewujudkan harapan untuk hidup lebih sejahtera. Kenyataannya, bukankah rakyat masih terlilit mahalnya harga kebutuhan pokok, kemiskinan dan pengangguran tetap tinggi, sedangkan penegakan hukum juga masih memanggungkan liatnya ”solidaritas elite” untuk tidak tersentuh gerakan antikorupsi? Malah realitas lain terpanggungkan dengan sempurna, yakni ketergerusan kepercayaan rakyat karena ”kesejahteraan” yang memusat lewat fenomena ”elite heavy”.
Sejauh ini diketengahkan justifikasi bahwa demokrasi kita masih transisional, proses pendewasaannya membutuhkan waktu. Pada sisi lain, pusat-pusat pendidikan demokrasi melalui partai politik cenderung tidak bisa dijadikan contoh pembelajaran. Yang lebih dominan justru pemanggungan konflik-konflik internal parpol, perilaku korup para elite partai yang duduk di lembaga legislatif maupun eksekutif, juga elite yang lebih sibuk dengan diri sendiri dan kelompoknya. Kalau demokrasi malah ”ditikam” di jantung demokrasi itu sendiri, bagaimana menanam kepercayaan rakyat sebagai investasi membangun karakter bangsa?

Benar, pesta demokrasi rakyat seperti pilgub diyakini menjadi bagian dari proses pendidikan dan pendewasaan politik, tetapi jika tidak didasari komitmen keteladanan para elite, apa yang bisa diharapkan? Bagaimana mendorong pendewasaan politik rakyat tetapi mereka sendiri malah tidak cukup memberi contoh tentang kedewasaan? Sedikit-banyak pasti rakyat mencatat sejumlah perilaku calon pemimpinnya: apakah patut atau tidak patut dinilai sebagai gambaran figur yang menjanjikan pencerahan. Kepercayaan rakyatlah yang nantinya dipertaruhkan, dan salah besar jika mereka bergerak atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Sepuluh tahun reformasi kiranya belum memberi gambaran cerah tentang perbaikan nasib rakyat. Kita masih terjebak dalam demokrasi prosedural, belum menyentuh substansi perbaikan. Karakter utama yang didobrak oleh gerakan mahasiswa pada Mei 1998 hakikatnya adalah perubahan perilaku. Namun di tengah eforia yang menggelombang selama 10 tahun ini, kita justru menyaksikan reformasi ”diambil alih” oleh kekuatan-kekuatan yang lebih sibuk mementingkan diri dan kelompoknya. Tiap kali kita dibuai oleh harapan, antara lain melalui proses pilkada, tetapi tiap kali pula harapan penyejahteraan itu terbenting oleh realitas pahit.

Suara Merdeka, 12 Mei 2008

2 Responses to “Rakyat yang Tak Kunjung Disejahterakan”


  1. 1 kurnia sari Mei 22, 2008 pukul 9:52 pm

    Saya mah rakyat biasa…sedih…10 tahun reformasi begini-begini aja.Gak kebayang hadirnya saya 10 tahun lalu di Senayan bersama teman-teman mahasiswa, ternyata dimanfaatkan oleh orang-orang “berakal bulus” yang “mengambil alih” reformasi dari tangan kami…rakyat biasa.Mdh-mdhan kita segera mendapatkan pemimpin yang lebih baik…

  2. 2 halim Mei 24, 2008 pukul 10:57 am

    Memang pemerintahan saat ini sama sekali mengabaikan kepentingan rakyat banyak,termasuk para elit parpolnya. Hal ini dapat dengan kasat mata kita saksikan bagaimana kasus Lapindo berlarut-larut, padahal sementara ini APBN sudah menanggung sebagian bahkan mungkin seluruh kerugian yg diakibatkan oleh polah LAPINDO.Kenapa pemerintah tidak berani memaksa LAPINDO unt menanggung semua kerugian,kenapa LAPINDO tidak dipailitkan dulu secara hukum lalu semua kekayaan dan asset dan kekayaan para pemiliknya disita barulah setelah itu kerugian yg ditimbulkannya ditanggung negara alias dibayarkan dengan uang rakyat.Belum lagi kasus pemberian BLBI dan kemudahan sejenisnya kepada segelintir orang yang jelas2 merugikan negara tapi penyelesaiannya ndak jelas lalu buntut2nya rakyat lagi yg disuruh nanggung kerugian negara.Pokoknya semua pemborosan dana negara ujung2nya rakyatlah yang harus memikulnya,entah dengan cara menaikan harga BBM,pajak2 sampai Pajak Bumi dan Bangunan selalu dinaikkan setiap tahun sehingga para pemilik rumah yang telah bertahun-tahun bermukim dipusat perkotaan terpaksa pindah kepinggiran karena akibat tidak mampu lagi membayar PBB.Sungguh sangat keterlaluan.
    Sudah waktunya kita mencari pemimpin yang tegas dalam membasmi korupsi,kolusi dan nepotisme dikalangan sekelompok orang yg berbaju birokrat,legeslatif dan yudikatif.
    Pemimpin yang seperti itu memang langka tapi saya tetap optimis diantara dua ratusan rakyat indonesia pasti ada!!
    Himbauan saya kepada kita semua agar jangan mudah terbuai dengan uang seratus dua ratus ribu saat pilpres/pilkada,karena kalo kita terbuai dengan uang sebesar itu yg hanya manfaat dipakai dalam sehari sementara setelah itu kita akan menderita untuk masa lima tahun berikutnya.Pengalaman pemilu lalu karena kita terpesona dengan sosok yang santun serta terkucilkan dikabinet megawati lalu kita menjatuhkan pilihan kepada pasangan itu,sekarang bahkan sejak awal2 pemerintahannya kita(rakyat) tidak pernah mendapatkan perhatiannya.
    Mudah2an kita semua memakai pengalaman ini dalam menghadapi pemilu 2009 yang akan datang,semoga hasil pilihan kita dapat meringankan beban seluruh rakyat indonesia. Amin ya ALLAH…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: