Ideologi Konflik

Mahkamah Agung (MA) memutuskan menolak dua kasasi yang diajukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Abddurahman Wahid. Putusan ini diambil majelis hakim pada Kamis (17/7).Seperti diketahui Abdurrahman mengajukan dua kasasi ke MA dengan termohon Muhaimin Iskandar dan Lukman Edy. Kasasi ini dilakukan, setelah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan gugatan Muhaimin Iskandar dan Lukman Edy yang dipecat Abdurrahman dari ketua umum dan sekjen PKB.

Dengan keputusan itu, maka Muhaimin dan Lukman Edy kembali berhak menjabat sebagai ketua umum dan sekjen Dewan Tanfidz PKB. Posisi itu sama persis dengan hasil Muktamar Semarang. Konflik yang terjadi di tubuh partai yang diusung kalangan Nahdliyin ini menjadi catatan tersendiri dalam politik kepartaian Indonesia. Konflik internal sebagai dampak dari pelengseran Muhaimin Iskandar, sudah diprediksi jauh sebelumnya.

Betapa tidak, sejak kelahirannya 10 tahun lalu, PKB memang dikenal sarat dengan konflik internal elite partai yang berimbas pada akar rumput. Pencopotan almarhum Mathori Abdul Djalil dan Alwi Shihab (ketua umum) serta Saifullah Yusuf dan Lukman Edy (sekjen) menjadikan PKB sebagai partai yang tak putus dirundung konflik. Saling gugat menggugat sudah menjadi tradisi partai berlambang bola dunia itu. Dan hampir seluruh konflik itu bermuara pada diri Ketua Dewan Syuro PKB, Abdurrahman Wahid.

Konflik dalam tubuh partai politik menjadi fenomena unik di era reformasi ini. Umumnya, partai gagal melakukan konsensus untuk menyelesaikan konflik. Konflik memang keniscayaan dalam partai politik. Akibatnya interaksi dalam kepentingan politik kerap menggunakan metode konflik. Memang salah satu fungsi partai politik adalah mengatur konsesus dan konflik.

Tapi sayang, partai-partai tidak memiliki pemahaman luas untuk mengatur konflik. Bahkan tidak ada semangat menyelesaikan konflik dengan cara konsensus. Padahal konflik bisa ditekan melalui aturan dan konsensus. Melalui komitmen roh pendirian partai, sesungguhnya konflik bisa diminimalisasi. Konflik elite partai ini menjadi bukti tidak adanya konsesnsus bersama para elite partai.

Konflik internal yang berlarut-larut, tak ayal akan melemahkan kekuatan partai. Padahal jika partai politik lemah, akan melahirkan kekuasaan otoriter. Sebab partai juga bertugas untuk menciptakan pemimpin-pemimpin baru.Dengan demikian, lemahnya upaya resolusi konflik hanya akan membuat publik antipati terhadap partai politik. Kondisi seperti ini tentu berbahaya bagi demokrasi. Bukankah seburuk-buruknya partai politik, ia berfungsi sebagai alat komunikasi politik rakyat terhadap kekuasaan?

Kehadiran partai politik merupakan elemen yang sangat menentukan terhadap penyelanggaraan negara untuk melahirkan pemimpin dan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Elite partai juga mesti ingat bahwa kehidupan partai adalah entitas politik untuk mengartikulasikan kepentingan masyarakat. Kalau konflik hanya dijadikan ideologi dan tak dapat diseselesaikan, yang rugi bukan cuma partai saja, tetapi juga masyarakat dan bangsa ini.

Semoga keputusan kasasi MA dalam kasus PKB dapat menjadi pelajaran bagi partai politik bahwa konflik yang berkepanjangan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

(-)

Republika, 19 Juni 2008

0 Responses to “Ideologi Konflik”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: