Enam Presiden tidak Baku Omong

SUDAH enam presiden silih berganti memimpin bangsa ini selama 63 tahun merdeka. Meski berbeda gaya dan karakter dalam memimpin, orang nomor satu itu justru mewarisi satu kesamaan. Yaitu mereka tidak bertegur sapa dengan penggantinya.
Kita setuju dengan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla yang menyatakan mencari tokoh pemimpin seperti Mohammad Natsir sangat langka saat ini.
Meskipun memiliki banyak perbedaan pandangan dan ideologi, Natsir tetap demokratis dan memiliki hubungan baik dengan pemimpin lainnya.
Mari kita lihat ke belakang hubungan para mantan Presiden RI. Di antara enam presiden itu, tidak ada yang saling bicara satu dengan lainnya. Presiden Soekarno tidak bisa bicara dengan penggantinya, Jenderal Soeharto. Pak Harto pun tidak ingin bicara dengan Bung Karno.
Selanjutnya, Presiden Soeharto enggan bertemu apalagi mau bicara dengan BJ Habibie. Padahal, Habibie menganggap Soeharto sebagai profesor politiknya. Begitu juga Presiden Habibie ketika turun dari panggung kekuasaan tidak mau bicara dengan Abdurrahman Wahid.
Presiden Wahid yang dipaksa mundur di tengah jalan pemerintahannya juga tidak berbicara dengan Megawati Soekarnoputri. Kebiasaan tidak baku omong itu dilanggengkan Presiden Megawati yang digantikan Susilo Bambang Yudhoyono yang kini memerintah.
Ironisnya, presiden pengganti itu adalah sosok penting bahkan orang kepercayaan dalam rezim sebelumnya. Perbedaan pandangan politik dan ideologi telah memisahkan mereka. Peminggiran mantan presiden oleh rezim yang berkuasa tentu saja kontraproduktif bagi upaya rekonsiliasi nasional.
Hubungan yang kurang harmonis di antara enam presiden itu sesungguhnya menjadi persoalan besar bagi perjalanan sejarah negeri ini. Sebab,
persatuan dan kesatuan bangsa yang selalu dipidatokan penguasa tidak lagi memiliki makna. Mestinya, sebelum penguasa berapi-api mengumandangkan persatuan dan kesatuan bangsa, dia mendatangi pendahulunya untuk rekonsiliasi. Rekonsiliasi juga menuntut kesediaan para pendahulu menerima uluran tangan persahabatan dari pemegang tampuk kekuasaan. Hanya itulah cara memutuskan kebiasaan tidak baku omong di antara orang yang sedang dan sudah bertakhta di negeri ini.
Rekonsiliasi di antara pemimpin sangat penting karena presiden kini dipilih langsung oleh rakyat. Pemilihan langsung itu membuka peluang seorang presiden berasal dari partai kecil dan bukan mustahil pendahulunya memimpin partai besar.
Hubungan yang kurang harmonis di antara pemimpin itu bisa berimbas kepada pengikut mereka. Tetap saja rakyat harus menanggung derita akibat perbuatan para pemimpin. Seluruh energi presiden hanya dihabiskan untuk melawan dan menaklukkan pendahulunya, lupa membangun negeri. Itulah salah satu sebab mengapa hingga kini masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Rakyat tidak bisa berpangku tangan lagi menunggu inisiatif pemimpin berekonsiliasi. Saatnya rakyat memberi pelajaran kepada pemimpin.
Pelajaran itu diberikan dalam kotak suara pada saat pemilihan presiden. Pilihlah pemimpin yang satu kata dengan perbuatan, jangan terkecoh dengan kampanye yang hanya menonjolkan sisi baik. Karena itu, periksa baik-baik rekam jejak mereka. Jangan sampai memilih pemimpin yang melestarikan dendam. Dendam ke atas, dendam ke bawah, dan dendam ke samping.
Media Indonesia, Minggu, 20 Juli 2008 00:01 WIB

0 Responses to “Enam Presiden tidak Baku Omong”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,492 hits
Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: