RUU Pornografi dan Integrasi Kita

Masalah RUU Pornografi mencuat terus. Beberapa elemen masyarakat bahkan jelas-jelas mengancam akan keluar dari NKRI kalau RUU tersebut disahkan. Di Bali, masyarakat adat—dengan dukungan beberapa politisi—mengecam rencana akan disahkannya RUU tersebut akhir bulan ini.

Masalah pornografi memang sangat kental dengan nuansa adu kepentingan. Di dalamnya diatur mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan materi yang bersifat merangsang atau tidak, serta penyebarannya. Sayangnya, sebagaimana keberatan beberapa elemen masyarakat tadi, produk budaya yang dikategorikan pornografi pun bisa diperkenankan atas untuk kepentingan lokal.

Jelas saja tidak ada seorang pun, apalagi masyarakat adat yang merasa bahwa budayanya adalah produk pornografi meski itu diperkenankan. Inilah yang memancing perseteruan yang semakin lama semakin hebat. Masyarakat adat Papua yang mengenakan koteka misalnya, tetap dikategorikan sebagai pornografi dalam RUU tersebut, meski karena alasan adat mereka diperkenankan mengenakannya.

Memang ada begitu banyak kritik terhadap RUU ini. Yang pertama tentunya adalah pada timingnya. Mengapa RUU itu dipaksakan harus disahkan sementara begitu banyak kepentingan yang belum diakomodasi. Pemaksaan itu terlihat dari keberatan-keberatan yang diajukan oleh berbagai masyarakat dan wakil adat yang nyata-nyatanya diabaikan begitu saja.

Ada isu yang beredar bahwa RUU itu disahkan demi kepentingan parpol tertentu dalam mencari massa. Memang, kalau kita perhatikan dukungan terhadap pengesahan itu membesar dari hari ke hari dari kelompok tertentu. Tetapi apakah dukungan itu menafikan keberadaan mereka yang lain?

Pertanyaan paling penting adalah bagaimana kemudian kehidupan dan kultur yang tidak porno harus dibangun? Atas prinsip yang mana dan standar siapakah maka yang tidak porno itu kelak harus dibangun di negeri ini? Apakah ada jaminan bahwa dengan perubahan kultur, maka pikiran porno bisa dipasung?
Lucu rasanya melihat negara kita ini. Di negara dimana pornografi marak, mereka tidak dengan cara yang sangat kejam memaksakan memasung produk budaya mereka sendiri. Mereka tidak mencap apa yang berasal dari diri mereka sebagai porno. Mereka melindungi mereka dari aksi pornografi dengan memasang filter aturan yang simpel tetapi bekerja efektif.

Di negara Barat misalnya, mudah menemukan majalah porno, tetapi tidak bisa diakses oleh mereka yang berada di bawah umur. Filter internet untuk situs porno juga tidak akan bisa diakses tanpa pengawasan orangtua. Demikian juga dengan pendidikan seks di rumah dan di sekolah turut menjadi pengawal. Belum cukup, mereka juga diberikan pendidikan risiko jika mereka melakukan hal-hal yang belum pantas.

Mundurkah mereka? Tidak juga. Mereka masih tetap mempertahankan budaya mereka bahkan sejak dari jaman Renaisans sampai sekarang. Bahkan patung-patung yang mungkin kalau di sini bisa dicap porno, bahkan menjadi kekaguman yang tidak terhingga. Itulah penghargaan yang mereka berikan pada karya seni dan budaya dimana mereka berasal.

Di kita, semuanya seolah bisa dilakukan dengan membuat UU. Kita merasa bisa bersih pikiran kalau UU sudah kita miliki. Logika ini hanya akan membuat kita menjadi penghukum yang kejam terhadap orang lain dan diri kita sendiri. Mari pikirkan ulang keberadaan RUU Pornografi ini.(***)

Sinar Indonesia Baru, Oktober 25th, 2008

2 Responses to “RUU Pornografi dan Integrasi Kita”


  1. 1 Bisa Grosir Agustus 6, 2015 pukul 3:39 pm

    bagian yang ngatur ngatur biasanya adalah yang dipilih rakyat.. jadi sebagus mungkin bisa membawa rakyat menjadi lebih baik lagi entah dengan undang undang tersebut..


  1. 1 tahitian noni bekasi timur Lacak balik pada Juni 20, 2015 pukul 4:40 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 777,499 hits
Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: